bernasnews — Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mengonfirmasi terdapat 53 kasus influenza A di wilayah Kota Yogyakarta. Meski terjadi peningkatan kasus flu, pemerintah kota menegaskan belum ditemukan lonjakan kasus super flu secara klinis.
Berdasarkan hasil surveilans sentinel yang dilakukan pada 28 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026, tercatat 53 kasus influenza A.
Seluruh kasus tersebut dipastikan bukan subclade K, yakni varian baru influenza A yang dikenal memiliki tingkat penularan lebih cepat dan gejala lebih berat.
Sub Koordinator Kelompok Substansi Surveilans, Pengelolaan Data, dan Sistem Informasi Kesehatan Bidang P2P PD SIK Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Solikhin Dwi Ramtana, menjelaskan bahwa super flu pada dasarnya masih termasuk influenza biasa dengan perbedaan pada varian virus.
“Super flu ini adalah influenza A H3N2 Subclade K. Virus ini menular lebih mudah dan gejalanya cenderung lebih berat dibanding influenza biasa, namun hingga saat ini belum ditemukan peningkatan keparahan penyakit yang signifikan seperti Covid-19,” ujar Solikhin kepada wartawan, Rabu, 7 Januari 2026.
Ia menambahkan, kemunculan varian baru influenza merupakan fenomena epidemiologi yang wajar. Di Indonesia, influenza A telah lama ada, namun identifikasi subkelompoknya baru dilakukan lebih rinci dalam beberapa tahun terakhir.
Mengacu pada data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), super flu memiliki gejala yang relatif lebih berat. Gejala tersebut meliputi demam mendadak yang berlangsung lebih lama, nyeri otot dan sendi hebat, kelelahan ekstrem, sakit kepala berat, serta batuk persisten hingga dua minggu.
Durasi sakit ini lebih panjang dibanding influenza biasa yang umumnya membaik dalam waktu sekitar satu minggu.
Meski demikian, Solikhin menegaskan super flu tidak seberbahaya Covid-19. Pola penularannya serupa, yakni melalui droplet saat batuk, bersin, atau berbicara, serta melalui permukaan benda yang terkontaminasi dan berpindah ke tubuh lewat tangan yang tidak bersih.
“Kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit penyerta atau komorbid perlu perhatian khusus. Mereka memiliki risiko perburukan lebih tinggi, sehingga dianjurkan menggunakan alat pelindung diri saat berinteraksi dan segera mendapatkan perawatan bila muncul gejala,” tambahnya.
Untuk upaya pencegahan, masyarakat dianjurkan melakukan vaksinasi influenza. Meskipun vaksin khusus subclade K belum tersedia, vaksin flu yang ada dinilai tetap membantu pembentukan antibodi dan mencegah perburukan penyakit. Hingga saat ini, layanan vaksin influenza di Puskesmas masih bersifat berbayar.
Selain vaksinasi, Dinas Kesehatan menekankan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Masyarakat diminta menggunakan masker saat sakit, mencuci tangan secara rutin, menghindari kerumunan, menjaga ventilasi ruangan, serta menutup hidung dan mulut saat batuk atau bersin.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta telah menyampaikan imbauan kewaspadaan kepada seluruh kepala Puskesmas dan melakukan edukasi melalui kegiatan promosi kesehatan.
“Super flu ini memang tidak sehebat Covid-19, tetapi tingkat kesakitannya cukup mengganggu. Yang terpenting adalah mencegah penularan dan menjaga diri agar tidak sakit,” tegas Solikhin.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Mantrijeron, Eny Purdiyanti, menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan penderita super flu di wilayah kerjanya.
Ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dengan istirahat yang cukup, konsumsi makanan bergizi, dan memenuhi kebutuhan cairan.
Dengan langkah pencegahan tersebut, warga Kota Yogyakarta diharapkan tetap waspada terhadap kemungkinan munculnya varian influenza baru ke depan. (Eln)












