News  

Harga Kambing di Gunungkidul Naik Sekitar 25 Persen Jelang Nataru Meski Aktivitas Pasar Menurun

Aktivitas perdagangan kambing di Pasar Hewan Munggi, Gunungkidul, menjelang Natal dan Tahun Baru. (Ist)

bernasnews — Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), harga kambing di Kabupaten Gunungkidul mengalami kenaikan meskipun aktivitas di pasar hewan terpantau lebih sepi dibandingkan hari pasaran normal.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Gunungkidul mencatat kenaikan harga tersebut terjadi di tengah penurunan jumlah pengunjung pasar.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Gunungkidul melakukan pemantauan langsung terhadap lalu lintas ternak yang keluar dari wilayah Gunungkidul.

Pemantauan dilakukan di Pasar Hewan Munggi, Kapanewon Semanu, sebagai bagian dari pengawasan kesehatan hewan serta distribusi ternak ke daerah tujuan.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Gunungkidul, Wibawanti, menyampaikan bahwa kegiatan pemantauan menjadi rutinitas, terutama menjelang periode dengan potensi peningkatan kebutuhan ternak seperti Nataru.

Pemantauan dilakukan untuk memastikan ternak yang diperdagangkan dan dikirim ke luar daerah dalam kondisi sehat dan layak jual.

Pasar Hewan Munggi memperdagangkan berbagai jenis ternak, di antaranya kambing, domba, dan sapi. Dari hasil pemantauan petugas, kambing menjadi jenis ternak yang paling banyak diperdagangkan.

Pedagang dan peternak masih menjadikan kambing sebagai komoditas utama karena permintaannya cenderung stabil menjelang akhir tahun.

“ternak dari Gunungkidul mengalir ke berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah,” ujar Wibawanti.

Distribusi ternak tersebut mencakup Kabupaten Bantul, Kota Yogyakarta, Kulon Progo, Klaten, Magelang, hingga Wonogiri. Kondisi ini menunjukkan Gunungkidul masih berperan sebagai salah satu daerah pemasok ternak di wilayah selatan Jawa.

Meski demikian, suasana Pasar Hewan Munggi terlihat lebih lengang dibandingkan hari pasaran biasanya. Jumlah pengunjung dan volume transaksi tercatat menurun. Namun, distribusi ternak ke luar daerah tetap berlangsung dan tidak mengalami kendala berarti.

Di tengah penurunan aktivitas pasar, harga kambing justru mengalami kenaikan. Wibawanti menyebut harga kambing meningkat sekitar 25 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Sebagai contoh, kambing yang sebelumnya dijual dengan harga sekitar Rp3 juta per ekor kini berada di kisaran Rp3,5 juta.

Kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan menjelang Nataru serta terbatasnya ketersediaan ternak siap jual. Kondisi ini berdampak langsung pada pendapatan peternak kambing di Gunungkidul.

Wibawanti berharap kenaikan harga tersebut tidak mengganggu stabilitas pasar. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan ternak agar kualitas produk tetap terjaga dan kepercayaan pasar tidak menurun.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Gunungkidul menyatakan akan terus melakukan pemantauan dan pengawasan distribusi ternak guna menjaga kelancaran perdagangan serta mendukung keberlanjutan usaha peternakan lokal selama periode Nataru. (Eln)