News  

Cerita Warga Cokrodiningratan Ubah Sampah Jadi Cuan Lewat Kampung Maggot Lestari

Aktivitas budidaya maggot oleh warga Kampung Cokrodiningratan Kota Yogyakarta. (Ist)

bernasnews — Warga Kampung Cokrodiningratan, Kota Yogyakarta, mengembangkan pengelolaan sampah organik berbasis budidaya maggot melalui program Kampung Maggot Lestari atau Permak Jas Kamal. Program ini bertujuan mengurangi persoalan sampah perkotaan sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.

Program tersebut diluncurkan secara resmi oleh warga bersama Hasto Wardoyo dan jajaran Pemerintah Kota Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi keterbatasan pengelolaan sampah di wilayah perkotaan.

Pengolahan Sampah Organik Berbasis Maggot

Melalui Permak Jas Kamal, warga mengolah sampah organik rumah tangga dengan membudidayakan maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Sisa makanan dan limbah dapur yang sebelumnya dibuang kini dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Hasil panen kemudian dicatat sebagai tabungan warga.

Hasto Wardoyo menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif masyarakat Cokrodiningratan. Menurutnya, program tersebut menunjukkan kesadaran warga dalam mengelola sampah secara mandiri di tengah keterbatasan fasilitas pengolahan sampah Kota Yogyakarta.

“Harapan saya ini di-gethoktular-kan ke wilayah lain supaya dicontoh. Jangan hanya di Kampung Cokro, tapi juga di kampung-kampung yang lain,” kata Hasto saat peluncuran program di Pendopo Kelurahan Cokrodiningratan.

Kondisi Darurat Sampah Kota Yogyakarta

Hasto menjelaskan bahwa persoalan sampah di Kota Yogyakarta semakin kompleks karena keterbatasan lahan pengelolaan. Ia menyebut kondisi ini berbeda dengan kabupaten lain di Daerah Istimewa Yogyakarta yang masih memiliki ruang pengolahan lebih luas.

“Kami berterima kasih di Kampung Cokrodiningratan ini sudah digerakkan, bahkan sudah digerakkan ronda sampah. Ini sangat bagus untuk menciptakan suasana lingkungan yang bersih,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa mulai Januari 2026, Kota Yogyakarta tidak lagi memperoleh jatah pembuangan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan. Kondisi tersebut menuntut perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam pengelolaan sampah sisa makanan.

Pemerintah Kota Yogyakarta mendorong warga untuk memilah dan mengelola sampah organik secara mandiri, mulai dari pengumpulan di rumah hingga penyerahan kepada pengelola atau off taker sampah organik.

“Dengan Permak Jas Kamal, mudah-mudahan lingkungan tetap bersih dan menjadi lebih sehat,” tutur Hasto.

Berkembang dari Kelompok Kecil Warga

Ketua Kampung Cokrodiningratan, Anwar Setyowantono, menjelaskan bahwa budidaya maggot di wilayahnya bermula dari kegiatan Mitra Maggot Dayoku yang mulai berjalan pada April. Pada tahap awal, pengelola membagikan kotak maggot kepada warga untuk mengolah sampah organik rumah tangga.

Sekitar 10 warga, yang mayoritas merupakan ibu-ibu PKK, menjadi peserta awal program. Hasil panen maggot dibeli oleh pengelola dan dicatat sebagai tabungan masing-masing warga.

Saat ini, jumlah anggota Bank Sampah Kelompok Maggot Mitra Dayoku telah bertambah menjadi sekitar 47 orang. Seluruh anggota aktif melakukan pembesaran maggot secara mandiri di rumah.

“Warga sudah 18 kali panen. Setiap panen, warga menghasilkan sekitar 3–5 kilogram maggot,” jelas Anwar.

Pola Budidaya Berkelanjutan

Anwar menyebut budidaya maggot di Kampung Cokrodiningratan dilakukan secara berkelanjutan. Warga menebar bibit maggot setiap dua minggu dan memanen secara rutin setelahnya, sehingga pengolahan sampah organik berlangsung tanpa jeda.

Ia menjelaskan bahwa seluruh jenis sampah organik, termasuk sisa sayuran dan makanan matang, dapat diurai habis oleh maggot tanpa menimbulkan bau.

“Biasanya kita membuang sampah harus mengeluarkan uang. Di sini justru menghasilkan uang. Ini menjadi pemantik bagi masyarakat Kampung Cokrodiningratan,” ujarnya.

Ke depan, pengelola Kampung Maggot Lestari berencana menjalin kerja sama dengan Pegadaian agar tabungan hasil panen maggot dapat dikonversi menjadi tabungan emas. Pada peluncuran program, panitia juga memberikan bantuan kotak maggot kepada anggota Mitra Dayoku.

Warga Rasakan Dampak Langsung

Salah satu warga, Nur Fitrilati, mengaku merasakan manfaat langsung dari budidaya maggot. Ia mengelola empat kotak maggot di rumah dan mampu memanen sekitar 1,5–3 kilogram maggot setiap kali panen.

Menurutnya, budidaya maggot membantu mengelola sampah organik sekitar 1–2 kilogram per hari, baik dari rumahnya sendiri maupun dari tetangga yang belum mengikuti program.

“Harga beli maggot sekitar Rp5.000 per kilogram. Sekarang tabungan maggot saya sudah sekitar Rp70.000,” ungkap Fitri.

Ia menilai manfaat utama program ini bukan hanya pada nilai ekonomi, tetapi juga pada pengurangan sampah rumah tangga.

“Manfaatnya sangat banyak. Kita sudah sama sekali tidak membuang sampah organik. Pelihara maggot itu mengurangi sampah, dan tabungan rupiah itu jadi bonus,” ucapnya.

Program Kampung Maggot Lestari di Cokrodiningratan kini menjadi salah satu contoh pengelolaan sampah berbasis partisipasi warga di Kota Yogyakarta. Pemerintah daerah berharap model ini dapat diterapkan di wilayah lain sebagai bagian dari solusi pengelolaan sampah perkotaan.