News  

Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Guguran 1.500 Meter, BPPTKG Sebut Suplai Magma Masih Berlangsung

Guguran awan panas Gunung Merapi terpantau meluncur ke arah barat daya pada Senin pagi. (BPPTKG)

bernasnews – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik pada Senin (24/11) pagi. Di tengah lereng yang tertutup kabut sejak dini hari, awan panas guguran meluncur hingga 1.500 meter ke arah barat daya.

Peristiwa terjadi pada pukul 09.20 WIB dengan catatan seismik amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 106 detik, mengarah ke hulu Kali Putih dan Krasak.

Kawasan sekitar sempat terdengar gemuruh dari puncak. Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, memastikan luncuran awan panas masih sesuai dengan kondisi Merapi pada Level III (Siaga).

Aktivitas Seismik Meningkat di Tengah Cuaca Mendung

Laporan aktivitas Gunung Merapi periode pengamatan 24 November 2025 pukul 00.00–06.00 WIB mencatat kondisi cuaca mendung dengan angin tenang bertiup ke timur.

Suhu udara berada pada kisaran 17,7–20,2 °C, kelembapan mencapai 99–99,1%, dan tekanan udara tercatat 871,8–915,5 mmHg.

Asap kawah tidak teramati akibat kabut tebal. Namun, kegempaan terpantau cukup tinggi. Dalam enam jam pengamatan, tercatat 20 gempa guguran (amplitudo 2–49 mm, durasi 46,77–144,25 detik), 9 gempa hybrid/fase banyak (amplitudo 2–30 mm, durasi hingga 56 detik), serta 1 gempa tektonik jauh dengan amplitudo 80 mm. Frekuensi guguran menunjukkan suplai magma masih bergerak menuju permukaan.

Agus Budi Santosa menyatakan bahwa dinamika kubah dan suplai magma masih berlanjut, sehingga potensi awan panas guguran tetap ada.

“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Masyarakat harus tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah potensi bahaya,” ujarnya.

Zona Rawan: Hingga Radius 7 Kilometer

Berdasarkan rekomendasi BPPTKG dan PVMBG, potensi bahaya mencakup guguran lava dan awan panas pada sektor selatan–barat daya: Sungai Boyong hingga 5 km, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km. Pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro hingga 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km.

Masyarakat diimbau tidak beraktivitas di zona potensi bahaya. BPPTKG juga mengingatkan ancaman lahar dan awan panas guguran saat hujan turun di sekitar puncak Merapi. Abu vulkanik berpotensi mengganggu aktivitas warga apabila arah angin berubah.

“Kami terus memantau. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, status Merapi akan segera ditinjau kembali,” kata Agus.