Opini  

Terjun Dalam Dunia Usaha Harus Berani Menapaki Liku-Liku Terjal

Z. Bambang Darmadi, Pendamping UMKM dan Instruktur Pelatihan Bersertifikasi BNSP (Foto: Dok. Pribadi)

bernasnews — Saat ini tidak sedikit orang menentukan suatu keputusan dalam menapaki hidup dan kehidupannya, artinya bekerja tidak harus pada sektor yang formal saja, namun sektor yang informalpun menjadi banyak pilihan, selagi ada harapan untuk bisa hidup dan menghidupi kebutuhannya.

Penulis sangat senang dan bangga apabila mulai banyak anak muda yang memiliki pola pikir untuk mau bekerja pada sektor usaha mandiri (baca: berwirausaha, intrepreneur).

Persoalannya adalah mampukah kita menggunakan waktunya dengan seefektif dan seefisien. Mungkin.?  Memang bagi pekerja yang masih aktif cenderung berfikir bahwa  pada masa produktif umumnya orang lebih memikirkan persiapan yang terkait dengan aspek finansial untuk menghadai pensiun. Padahal setelah pensiun, tentu ada perubahan pada ritme bekerja, suasana dan pola hidup sehari-hari yang sangat berbeda.

Pasalnya pada masa aktif bekerja biasanya orang banyak menghabiskan waktu di kantor, dan setelah pensiun harus menyesuaikan diri dengan suasana rumah, lingkungan dan sebagainya. Padahal untuk memulai usaha tidak harus menunggu setelah pensiun tiba, kapanpun  bisa selagi ada kesempatan dan mampu mengatur waktu dengan baik dan tepat.

Oleh karenanya agar kita-kita dapat menikmati masa usia kerja dan masa pensiun dengan lebih produktif, maka sebaiknya kita mau  menggali dan menemukan potensi-potensi yang selama ini ada, dan beranilah untuk  memulainya mengembangkan potensi tersebut dengan cara berwirausaha. Tentu saja pilihan ini harus dibarengi dengan konsep berfikir secara kreatif dan inovatif secara terus menerus.

Konsep kreatif bisa kita gambarkan, jangan menunggu bola datang, akan tetapi ambilah bola tersebut dan memainkannya dengan cerdik untuk dapat memasukkan ke dalam gawang lawan.

Aspek penting yang perlu dipahami adalah, bahwa pilihan berwirausaha tidak hanya dibutuhkan keberanian adanya kesediaan dana-modal saja, akan tetapi bagaimana mampu melihat potensi pasar yang ada, karena persoalan utama dalam dunia usaha adalah aspek pasar dan pemasaran tidaklah semudah membalikkan tangan, maka harus jeli melihat pasar yang ada serta keberanian untuk mengelola keuangan dan sumber-sumber ekonomi yang ada secara baik dan benar.

Keahlian, daya juang yang tinggi (Jawa: tahan banting), mental yang kuat, tangguh, kreatif dan inovatif serta ketersedianya relasi  menjadi salah satu faktor yang tidak dapat diabaikan. Lebih-lebih pelaku usaha yang ada dalam  kategori UMKM dituntut semakin peka dan jeli menghadapi pasar yang semakin kompetitif, tentu diperlukan adanya  unsur  kualitas, baik segi produk, jasa, layanan dan kualitas pendukung yang lain.

Dapat dipahami kadangkala pelaku usaha merasa sangat bergairah saat awal mula berusaha lalu beberapa saat muncul kebosanan, jenuh dan sebagainya karena adanya faktor sedikitnya pembeli yang dapat mengakibatkan kerugian. Kondisi kebosanan harus segera diubah, dilawani, lantaran salah satu karakter mental wirausaha adalah pantang menyerah dan disiplin dalam menghadapi rintangan.

Disiplin jangan lagi dipandang sebagai seharusan, namun hendaknya menjadi suatu kebutuhan (need) dalam setiap melakukan kegiatan usaha. Hadapi dan lalui jalan terjal yang ada dengan penuh kecerdikan, jangan pernah menyerah, sebab orang yang menyerah pasti tidak akan berhasil. Akan tetapi  orang yang berhasil tentu tidak pernah akan menyerah apapun yang terjadi. (Z. Bambang Darmadi, Penulis Buku dan Pemerhati UMKM)