bernasnews — Gerakan Ayah Mengambil Rapor yang dilaksanakan di sejumlah sekolah di Kabupaten Bantul menjadi bagian dari upaya penguatan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak.
Program ini menegaskan bahwa pendidikan dan pembentukan karakter anak tidak hanya menjadi peran ibu, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif ayah.
Gerakan tersebut merupakan inisiatif Pemerintah Pusat yang mendorong para ayah untuk hadir langsung ke sekolah, mengambil rapor anak, serta berdialog dengan guru.
Kabupaten Bantul merespons program ini dengan pelaksanaan di berbagai satuan pendidikan, di mana para ayah hadir ke sekolah untuk mengetahui perkembangan akademik, sikap, dan potensi anak.
Sejak pagi, lingkungan sekolah dipenuhi para ayah yang datang menemui wali kelas dan guru. Mereka mengikuti penjelasan terkait capaian belajar anak serta menyampaikan komunikasi langsung dengan pihak sekolah. Kehadiran ayah di sekolah juga disambut oleh para siswa yang menjalani pembagian rapor.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, menyampaikan bahwa keterlibatan ayah memiliki peran penting dalam mendukung pendidikan dan pembentukan karakter anak. Menurutnya, sinergi antara keluarga dan sekolah diperlukan untuk menyiapkan generasi masa depan.
“Pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi juga ayah. Kami mengajak seluruh ayah di Kabupaten Bantul untuk memberi perhatian dan mendampingi anak-anaknya. Kehadiran ayah saat mengambil rapor merupakan bentuk kepedulian dan komitmen dalam proses tumbuh kembang anak,” ujar Abdul Halim Muslih.
Ia berharap gerakan tersebut tidak berhenti pada kegiatan pengambilan rapor semata, tetapi dapat berkembang menjadi kebiasaan yang berkelanjutan.
Pemerintah daerah mendorong terbangunnya komunikasi yang rutin dan terbuka antara orang tua dan guru sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan.
Sejumlah ayah yang hadir mengaku baru pertama kali mengambil rapor anak secara langsung di sekolah. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi orang tua untuk memahami perkembangan belajar anak dan berdiskusi langsung dengan guru terkait kebutuhan pendidikan anak ke depan.
“Saya jadi lebih mengetahui perkembangan belajar anak dan bisa berdiskusi langsung dengan gurunya. Ini membantu saya untuk lebih terlibat dalam mendampingi anak belajar di rumah,” ujar salah satu ayah.
Pelaksanaan Gerakan Ayah Mengambil Rapor dinilai memberikan pengaruh terhadap keterlibatan orang tua dalam pendidikan. Kehadiran ayah di sekolah menjadi sarana komunikasi antara keluarga dan pihak sekolah dalam mendukung proses belajar siswa.
Pemerintah Kabupaten Bantul menyampaikan harapan agar gerakan ini dapat mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang kolaboratif. Peran ayah dan ibu diharapkan berjalan seimbang dalam mendukung pendidikan anak, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Di sisi lain, terdapat anak-anak yang belum dapat ditemani ayahnya ke sekolah karena alasan pekerjaan atau kondisi tertentu. Alfaruq, salah satu wali murid, menyampaikan pesan kepada para siswa yang belum didampingi ayahnya pada momen tersebut.
“Tetap semangat. Walaupun hari ini ayah belum bisa datang, masih ada guru dan orang dewasa di sekitar kalian yang mendukung proses belajar. Setiap orang tua memiliki cara dan waktu masing-masing dalam mendampingi anak-anaknya,” ujar Alfaruq.
Melalui pelaksanaan Gerakan Ayah Mengambil Rapor, Kabupaten Bantul menegaskan kembali bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan pemerintah.
Kehadiran orang tua di sekolah menjadi bagian dari upaya mendukung perkembangan pendidikan anak secara menyeluruh. (Eln)











