News  

Mahasiswa KKNM UNY Laksanakan Program Edukasi Pemeliharaan Busana Reog Wayang di Bantul

Penggiat Seni, Wahyu Depa Prakarsa, A.Md saat menjelaskan cara pemeliharaan busana Reog Wayang. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Reog adalah salah satu kesenian tradisional Indonesia, merupakan pertunjukan seni yang memadukan antara tarian, musik, dan topeng yang unik. Reog memiliki nilai-nilai budaya dan spiritual yang tinggi, serta merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang perlu dilestarikan.

Keberadaan kesenian Reog ini bisa dikatakan ada di Jawa, khususnya Jawa Tengah termasuk DIY dan Jawa Timur (Ponorogo, dsk). Meskipun dalam tarian, musik/ gending, busana maupun penampilan berbeda, namun dari sisi cerita dapat dibedakan yaitu berdasar cukilan cerita wayang (Mahabarata/ Ramayana) dan cerita panji atau kisah-kisah kepahlawanan kerajaan zaman dahulu.

Oleh karena itu agar kesenian reog ini tetap lestari maka perlu dilakukan upaya-upaya konkrit oleh stakeholder terkait, Dinas Kebudayaan ataupun OPD lainnya. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri (KKNM) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Dengan menghadirkan narasumber Wahyu Depa Prakarsa, A.Md selaku Penggiat Seni, Mahasiswa KKNM UNY melaksanakan program kegiatan edukasi pemeliharaan busana Reog Wayang, di lokasi KKN, Padukuhan Kedon, Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DIY.

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam mendukung pelestarian seni dan budaya tradisional yang tumbuh dan berkembang di masyarakat.

Menurut Wahyu Depa Prakarsa, busana tari, khususnya pada kesenian Reog Wayang, memiliki peran penting tidak hanya sebagai pelengkap pertunjukan, tetapi juga sebagai penegas karakter, identitas, dan nilai estetika dari tarian yang dibawakan. Oleh karena itu, pemahaman dan pemeliharaan busana tari menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

“Busana tari harus dirawat dengan benar agar tetap layak pakai dan tidak kehilangan nilai artistiknya. Pemeliharaan meliputi cara membersihkan, menyimpan, hingga memperbaiki busana agar tidak cepat rusak akibat kelembapan, kotoran, maupun penggunaan berulang,” kata Wahyu Depa Prakarsa, Senin (15/12/25).

Lebih lanjut Wahyu Depa Prakarsa menjelaskan, bahwa penerapan busana tari yang tepat harus disesuaikan dengan karakter tari dan kebutuhan penari. Busana yang nyaman dan sesuai akan mendukung gerak penari sekaligus memperkuat makna pertunjukan yang disajikan kepada penonton.

Suasana kegiatan edukasi pemeliharaan busana Reog Wayang oleh Mahasiswa KKNM UNY, di Bantul. (Foto: Istimewa)

Sementara itu, Ketua KKNM UNY Kedon, Ahdanisa mengemukakan, kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap keberlanjutan seni tradisi di desa. Pasalnya masih banyak kelompok seni yang memiliki keterbatasan pengetahuan terkait pemeliharaan busana, padahal busana merupakan aset penting dalam setiap pertunjukan.

“Kami melihat busana Reog Wayang sering digunakan secara rutin, namun belum semuanya dirawat dengan metode yang tepat. Melalui kegiatan ini, kami ingin membantu masyarakat agar busana tetap terjaga kualitasnya, sehingga kesenian Reog Wayang bisa terus dilestarikan dan ditampilkan secara maksimal,” ungkap Ahdanisa.

Ia pun berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat Kedon, khususnya dalam menjaga kelestarian seni budaya lokal. Selain itu, mahasiswa KKNM UNY juga berharap sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat terus terjalin dalam berbagai program pengabdian yang bermanfaat.

Kegiatan edukasi ini disambut antusias oleh karang taruna dan pelaku seni setempat. Selain mendapatkan materi secara teoritis, peserta juga diajak berdiskusi mengenai pengalaman mereka dalam merawat busana Reog Wayang yang selama ini digunakan dalam berbagai pementasan di lingkungan masyarakat. (*/ ted)