News  

LPS Ajak Warga Miliki Rekening Bank yang Dijamin, Jangan Tergoda Tawaran

Ketua Dewan Komisioner LPS Prof. Dr. Anggito Abimanyu, S.E., MSc (tengah belakang) dan para peserta Temu Media LPS di Yogyakarta, Sabtu 15/11/2025. (Humas : LPS)

bernasnews – Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Prof. Dr. Anggito Abimanyu mengajak masyarakat, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), untuk memiliki rekening di bank yang dijamin.

“LPS mengikuti ketentuan baik tingkat bunga penjaminan untuk bank konvensional dan jumlah maksimum penjaminan agar dana Anda aman. Jangan tergoda pada penawaran bank yang melebihi ketentuan,” kata dia dalam acara Temu Media LPS Jogja Solo Semarang (Joglosemar) di Hyatt Regency Yogyakarta, Sabtu (15/11/2015).

Berdasarkan data LPS, lanjut Anggito, jumlah penduduk Indonesia yang belum memiliki rekening simpanan mencapai sekitar 51 juta orang atau 19,9% dari populasi penduduk usia 5–74 tahun. LPS bersama dengan lembaga anggota KSSK lainnya berperan aktif dalam memperluas basis masyarakat menabung melalui peningkatan literasi dan inklusi keuangan.

Agenda tahunan bertajuk LPS “Literasi Menabung dan Berasuransi” ini juga menghadirkan narasumber Direktur Eksekutif Penjaminan Polis LPS Hermawan Setyo yang membahas “Peran LPS dalam Menjamin Polis Asuransi di Indonesia”. Sebelumnya, pada hari Jumat (14/11) tampil Dosen Kajian Media dan Jurnalisme UII Yogyakarta Prof. Dr. rer soc Masduki, S.Ag.. M.Si., M.A. yang membahas “Tren Perilaku Masyarakat dalam Mengkonsumsi Informasi”.

PERBANKAN DIY
Anggito Abimanyu mengungkapkan, untuk perbankan di DIY, total nilai simpanan nasabah perbankan mencapai Rp 63,16 triliun dengan komposisi tabungan 70,81%, deposito 28,37%, dan giro 0,82%. Sedangkan jumlah rekening simpanan di perbankan DIY mencapai 9,07 juta rekening dengan komposisi 98,12% rekening tabungan, 1,64% rekening deposito, dan 0,25% rekening giro.

Menurut dia, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di Yogyakarta menunjukkan aktivitas bisnis yang ekspansif, tecermin dari pertumbuhan giro dan deposito yang meningkat dibanding tiga tahun lalu.

Secara keseluruhan, komposisi produk dalam total DPK juga relatif stabil. DPK perbankan DIY hingga Oktober 2025 ini tumbuh 4,95% (yoy). Penyaluran kredit secara year-on-year mengalami perlambatan pada Oktober 2025, namun penyaluran kredit modal kerja masih mencatatkan pertumbuhan double digit. Dilihat dari porsi penyalurannya, kredit modal kerja memegang porsi terbesar dari total kredit yang disalurkan di Yogyakarta.

“LPS, OJK, BI dan Kampus terus berperan aktif dalam memperluas basis masyarakat menabung. Beberapa program edukasi dan literasi terus dilanjutkan. Tahun 2026, LPS kembali akan berkolaborasi dengan lembaga lain dan perbankan untuk menyelenggarakan Financial Festival di Yogyakarta dan Makassar. Pada tahun 2025 ini, Financial Festival telah dilaksanakan di Surabaya dan Medan,” kata Anggito.

ASET TERUS TUMBUH
Pada bagian lain, Anggito Abimanyu mengemukakan, aset LPS terus tumbuh, investasi prudent dan aman. Total aset LPS per September 2025 mencapai Rp272,09 triliun atau naik 11,90% dari posisi Desember 2024. Komposisi aset terdiri dari investasi 92,75%, kas dan piutang 6,43%, aset program restrukturisasi perbankan 0,49%, aset tetap dan aset tidak berwujud 0,11%, serta aset lainnya 0,22%.

“Saat ini, cadangan penjaminannya 2,14% dari total simpanan perbankan, sementara UU LPS mengamanatkan untuk target 2,5% dari total simpanan perbankan di Indonesia. Untuk tahun 2025, premi penjaminan simpanan yang diterima LPS dari perbankan Rp18,54 triliun, dengan rincian Rp18,20 triliun dari bank umum dan Rp348,50 miliar dari BPR/BPRS. Batas nominal penjaminan LPS yang berlaku saat ini adalah Rp 2 miliar per nasabah per bank,” kata dia.

Menurut Anggito, LPS semakin efisien, memupuk modal (cadangan penjaminan) untuk menjaga kepercayaan nasabah perbankan. Surplus sebelum pajak (pendapatan – beban) per September 2025 sebesar Rp 28,71 triliun. Dimana komposisi sumber pendapatan LPS adalah 59,49% dari pendapatan premi penjaminan, 38,61% dari pendapatan hasil investasi, 0,29% dari pendapatan pengambalian klaim, dan 1,61% dari pendapatan lainnya.

Dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan, LPS terus mendorong efektivitas resolusi bank. Sepanjang 2024 hingga Oktober 2025, terdapat 27 BPR/S yang masuk dalam penanganan LPS, dengan rincian: 24 BPR/S dilikuidasi, 1 BPR diselamatkan melalui skema bail-in, dan 2 BPR/S dalam proses penanganan.

Pada September 2025, Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) LPS turun 25 bps dari 3,75% menjadi 3,50% untuk Rupiah di bank umum. Rata-rata suku bunga simpanan perbankan masih berada di atas TBP. Proporsi nasabah yang mendapatkan suku bunga simpanan di atas TBP sekitar 13% pada 2022 menjadi 32% pada September 2025”.

Per September 2025, total nilai simpanan nasabah di perbankan nasional mencapai Rp 3.973,68 triliun dengan komposisi tabungan 63,28%, deposito 34,35%, dan giro 2,37%. Sedangkan jumlah rekening simpanan di perbankan nasional mencapai 610,27 juta rekening dengan komposisi 98,76% rekening tabungan, 0,95% rekening deposito, dan 0,30% rekening giro. (mar)