News  

Wali Kota dan Hery Zudianto Turun Tangan Pimpin Jogja Cling dan Mas Joss di Malioboro

bernasnews – Kota Yogyakarta kembali berdenyut dengan semangat gotong royong. Akhir pekan kemarin, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, bersama mantan Wali Kota Hery Zudianto, turun langsung memimpin kegiatan Jogja Cling dan Mas Joss yang digelar di kawasan Pasar Sore Malioboro.

Aksi bersih-bersih ini menjadi simbol kolaborasi lintas elemen dalam menjaga wajah Malioboro, ikon kebanggaan dan jantung wisata Kota Gudeg.

Kegiatan dimulai sejak pukul 08.00 WIB. Ratusan peserta dari berbagai unsur ikut ambil bagian, mulai dari jajaran Kodim 0734/Kota Yogyakarta, Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan), Dinas Perdagangan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga para pedagang dan komunitas masyarakat setempat.

Dengan sapu, karung, dan semangat membara, mereka menyusuri setiap sudut Pasar Sore, membersihkan sisa-sisa sampah yang menumpuk, sekaligus menata ulang wajah kawasan agar tetap indah dan nyaman.

Hasto: “Jogja Cling Adalah Gerakan Perubahan Perilaku”

Di sela kegiatan, Wali Kota Hasto Wardoyo tampak menyapa pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sekitar Pasar Sore. Ia memuji semangat warga dan komunitas yang turun tangan menjaga kebersihan lingkungan Malioboro.

“Semangat Jogja Cling dan Mas Joss ini bukan sekadar kerja bakti, tapi gerakan perubahan perilaku. Kita ingin masyarakat terbiasa memilah dan mengelola sampahnya dengan baik. Lingkungan bersih adalah cermin kesadaran bersama,” tegas Hasto.

Ia menegaskan bahwa Malioboro bukan sekadar pusat wisata dan ekonomi, melainkan juga wajah utama Kota Yogyakarta. Karena itu, kebersihan, ketertiban, dan keindahannya harus dijaga dengan tanggung jawab kolektif.

“Kita ingin Malioboro tetap menjadi tempat yang membanggakan, baik bagi warga maupun wisatawan,” ujarnya.

Menjelang peringatan Hari Pahlawan pada 10 November 2025, Hasto juga menyampaikan pesan reflektif. Ia mengajak masyarakat meneladani semangat para veteran dan melanjutkannya melalui perjuangan di bidang ekonomi.

“Para pahlawan telah berjuang agar bangsa ini merdeka dan berdaulat secara politik. Kini giliran kita berjuang untuk kemandirian ekonomi. Kita butuh pahlawan baru yang berani membangun ekonomi kerakyatan dari bawah,” tuturnya.

Pengawasan dan Dorongan Pariwisata Malioboro

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menegaskan bahwa pihaknya terus memperkuat sistem pengawasan dan pengelolaan kebersihan di kawasan Malioboro.

Ia menyebutkan adanya berbagai satuan kerja yang terlibat, mulai dari petugas kebersihan, petugas vegetasi, hingga tim Jogo Maton yang bertugas memantau aktivitas di sepanjang jalur Tugu–Titik Nol Kilometer.

“Kami memastikan seluruh aktivitas di Malioboro berjalan sesuai aturan. Termasuk larangan merokok, pedagang asongan, pijat liar, dan pengamen di luar titik yang ditentukan. Semua harus tertib agar kawasan ini tetap bersih, nyaman, dan berdaya tarik,” jelas Yetti.

Namun, ia mengakui masih ada sejumlah pelaku usaha di Pasar Sore yang belum disiplin dalam mengelola sampah. “Masih ditemukan yang membuang sampah sembarangan dan belum memilah. Ini yang akan kami perbaiki. Edukasi dan kesadaran bersama menjadi kunci,” ujarnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Wahyu Hendratmoko, menilai kegiatan Jogja Cling menjadi momentum untuk memperkuat daya tarik Malioboro sebagai destinasi unggulan.

“Evaluasi kami hari ini fokus pada pengelolaan sampah. Ada kemajuan signifikan, tapi masih perlu peningkatan. Malioboro harus terus kita jaga agar tetap menjadi magnet utama pariwisata Kota Yogyakarta,” ujar Wahyu.

Ia juga menyerukan kepada seluruh pelaku usaha dan masyarakat di kawasan tersebut agar ikut menjaga citra Malioboro.

Sebagai warga Malioboro, maka harus mempunyai tanggung jawab bersama merawat keindahan Malioboro agar tetap menawan.

“Kalau Malioboro cantik, wisatawan akan datang kembali dan ekonomi rakyat pun berputar,” katanya.