bernasnews — Menghadapi ancaman cuaca ekstrem, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gunungkidul bergerak cepat melakukan pemangkasan dan perawatan pohon perindang di berbagai titik kota. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi pohon tumbang yang bisa membahayakan warga saat musim hujan.
Kepala UPT Kebersihan dan Pertamanan DLH Gunungkidul, Heri Kriswantoro, mengatakan bahwa timnya telah mengintensifkan kegiatan pemangkasan serta memantau kondisi pohon tua yang berpotensi tumbang.
“Secara berkala kami melakukan pengecekan dan evaluasi terhadap pohon-pohon di titik rawan, terutama di jalur utama,” ujar Heri, Jumat, 24 Oktober 2025.
Fokus di Jalur Padat dan Berisiko Tinggi
DLH Gunungkidul memusatkan perhatian pada dua kawasan utama: Jalan Jogja–Wonosari dan Jalan Semanu–Wonosari.
Dua ruas tersebut merupakan jalur padat lalu lintas dengan deretan pohon besar yang telah berusia puluhan tahun. Ranting-ranting tua yang menjuntai kini menjadi perhatian serius karena rawan patah saat diterpa angin kencang.
Heri menjelaskan, setiap pohon diperiksa secara cermat dari berbagai aspek, mulai dari usia, kondisi batang, hingga kekuatan akar. Pohon dengan ukuran besar cenderung memiliki risiko lebih tinggi untuk tumbang karena bobotnya yang berat.
“Ketika angin kencang datang, potensi robohnya makin tinggi,” jelasnya.
Selain itu, pemilihan jenis pohon perindang juga menjadi pertimbangan penting. Tidak semua jenis tanaman cocok untuk tumbuh di tepi jalan.
Beberapa pohon memang rindang, tetapi memiliki akar dangkal yang mudah goyah saat tanah lembek akibat hujan.
“Kami evaluasi jenis pohon di setiap ruas jalan. Ada yang harus diganti karena struktur akarnya tidak cocok untuk kawasan padat lalu lintas,” tambah Heri.
Keterbatasan Sarana dan Peringatan Dini dari BPBD
Meski kegiatan pemangkasan berjalan intensif, DLH Gunungkidul mengakui masih menghadapi kendala klasik: keterbatasan sarana dan prasarana. Salah satu alat penting, truk skylift, yang digunakan untuk menjangkau dahan tinggi, jumlahnya masih sangat terbatas.
“Kalau panjat manual itu sangat berbahaya. Selama ini kami bekerja sama dengan Dinas Perhubungan untuk meminjam truk skylift, tapi sering antre karena alat itu juga dipakai untuk kegiatan lain. Insyaallah kalau mesin potong atau senso dan tenaga, kami sudah siap,” ungkap Heri.
Kondisi ini membuat pekerjaan lapangan sering kali dilakukan secara bertahap. Padahal, laporan masyarakat terus berdatangan setiap hari, mulai dari pohon miring, ranting lapuk, hingga dahan yang menimpa kabel listrik.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bahaya pohon tumbang.
Berdasarkan prediksi BMKG, puncak musim hujan di Gunungkidul diperkirakan terjadi pada Januari hingga Februari 2026, dengan potensi angin kencang yang cukup tinggi.
“Kami imbau warga untuk rutin memeriksa kondisi pohon di sekitar rumah. Periksa kekuatan akar, pastikan tidak lapuk, dan lakukan pemangkasan dahan yang terlalu rindang agar tidak membahayakan,” ujar Purwono.












