bernasnews — Langit cerah di pagi hari jangan sampai menipu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daerah Istimewa Yogyakarta mengingatkan potensi cuaca ekstrem pada Selasa, 21 Oktober 2025, yang dapat terjadi hampir di seluruh wilayah DIY.
Dalam peringatan resminya, BMKG menegaskan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan berintensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat, petir, dan angin kencang, terutama pada siang hingga sore hari.
Cuaca Cerah Pagi Hari, Waspadai Perubahan Siang hingga Malam
Pagi hari diprakirakan akan berjalan cukup tenang dengan kondisi cerah berawan di sebagian besar wilayah Yogyakarta. Suhu udara masih terasa sejuk, berkisar antara 22 hingga 30 derajat Celsius, dengan kelembapan udara mencapai 98 persen.
Namun ketenangan pagi itu, menurut BMKG, hanya menjadi pembuka dari dinamika cuaca yang lebih intens di jam-jam berikutnya.
Memasuki siang hingga sore hari, potensi hujan sedang hingga lebat akan melanda Kota Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo, Bantul, serta Gunungkidul bagian utara.
Beberapa titik bahkan diperkirakan akan diguyur hujan deras disertai kilat dan petir. Di saat bersamaan, wilayah lain di DIY berpotensi mengalami hujan ringan.
Menjelang malam hari, intensitas hujan diperkirakan menurun, tetapi bukan berarti kondisi sudah aman sepenuhnya. BMKG mencatat potensi hujan ringan masih dapat terjadi di Kulon Progo bagian selatan, Bantul bagian selatan, dan Gunungkidul bagian selatan.
Sementara itu, dini hari diprakirakan berawan, menjadi jeda singkat sebelum cuaca kembali dinamis keesokan harinya.
Angin bertiup dari arah timur hingga selatan dengan kecepatan mencapai 30 kilometer per jam. Kondisi ini dapat menimbulkan angin kencang sesaat terutama ketika hujan turun deras, yang berpotensi menumbangkan ranting, baliho, hingga mengganggu aktivitas warga di ruang terbuka.
Peringatan bagi Nelayan dan Warga di Daerah Rawan
Tak hanya di daratan, peringatan juga berlaku bagi masyarakat pesisir dan nelayan. BMKG memprakirakan tinggi gelombang laut di perairan selatan Yogyakarta berada pada kisaran 1,25 hingga 2,5 meter, termasuk dalam kategori sedang. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas melaut, terutama bagi kapal nelayan berukuran kecil.
BMKG mengimbau agar nelayan menunda keberangkatan bila angin selatan bertiup kencang karena risiko gelombang tinggi dapat datang tiba-tiba.
“Masyarakat pesisir dan wisatawan pantai sebaiknya lebih berhati-hati, terutama di kawasan Pantai Parangtritis, Depok, hingga Sadeng,” tulis BMKG dalam peringatannya.
BMKG juga meminta pemerintah kabupaten dan kota di DIY untuk mengaktifkan sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi, terutama di kawasan rawan longsor dan banjir genangan.
Beberapa wilayah di lereng Merapi, dataran Sleman, dan perbukitan Gunungkidul bagian utara dinilai perlu mendapat perhatian lebih karena sering menjadi jalur aliran air hujan deras.
Warga diimbau tidak berlindung di bawah pohon atau papan reklame besar saat hujan lebat disertai petir. Bagi pengendara roda dua, disarankan menepi di tempat aman hingga hujan mereda.
BMKG juga mengingatkan agar masyarakat mematikan peralatan elektronik saat petir menyambar untuk menghindari risiko sambaran listrik.
Perubahan cuaca ekstrem ini terjadi seiring masa peralihan musim kemarau ke musim hujan di wilayah DIY. Kondisi atmosfer yang belum stabil sering memicu pembentukan awan konvektif yang berujung pada hujan deras dan angin kencang secara mendadak.
“Warga jangan terkecoh dengan cuaca cerah di pagi hari. Justru pada masa pancaroba seperti ini, potensi perubahan cuaca bisa terjadi sangat cepat,” ujar prakirawan BMKG DIY dalam siaran resminya.
BMKG menegaskan, masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus waspada dan tanggap terhadap perubahan cuaca. Informasi prakiraan cuaca harian dapat dipantau melalui situs resmi BMKG, media sosial, atau aplikasi mobile BMKG.












