bernasnews— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Yogyakarta kembali mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi di wilayah perairan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Peringatan ini berlaku selama 24 jam, mulai pukul 07.00 WIB.
BMKG mencatat, tinggi gelombang di perairan selatan Yogyakarta berkisar antara 2,5 hingga 4 meter, masuk dalam kategori tinggi. Kondisi ini berpotensi membahayakan aktivitas pelayaran, terutama bagi nelayan tradisional, kapal kecil, hingga kapal wisata.
“Kami mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan wisatawan, untuk lebih waspada terhadap kondisi gelombang tinggi. Aktivitas di sekitar pantai perlu dikurangi sementara waktu, terutama di titik-titik rawan ombak besar,” ujar prakirawan BMKG Yogyakarta dalam keterangan tertulisnya.
BMKG memprediksi kondisi cuaca di DIY pada Rabu (15/10/2025) akan cerah berawan pada pagi hari. Meski demikian, potensi hujan ringan terjadi pada siang hingga sore hari di sejumlah wilayah seperti Kota Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo bagian utara, Bantul bagian utara, dan Gunungkidul bagian utara.
Saat malam hari, hujan ringan kemungkinan masih berlangsung di wilayah Sleman dan Gunungkidul bagian utara. Pada dini hari, cuaca cenderung berawan.
Prediksi suhu udara di wilayah DIY berada di kisaran 22 hingga 35 derajat Celsius dengan kelembapan udara 55 hingga 95 persen. Arah angin bertiup dari Tenggara hingga Selatan dengan kecepatan 10 sampai 30 kilometer per jam.
Peringatan gelombang tinggi ini menjadi perhatian serius, terutama bagi masyarakat pesisir yang bergantung pada aktivitas laut.
“Kami mengingatkan agar wisatawan tidak berenang atau bermain terlalu dekat dengan bibir pantai. Ombak tinggi bisa datang secara tiba-tiba dan menyeret ke tengah laut,” ujar petugas SAR Pantai Parangtritis, Inug yang ikut memantau kondisi perairan pagi ini.
Gelombang tinggi dipicu oleh perbedaan tekanan udara antara belahan bumi selatan dan utara. Ini menyebabkan peningkatan kecepatan angin di wilayah selatan Jawa. Fenomena ini sering muncul pada masa peralihan musim, seperti saat ini ketika cuaca mulai bertransisi dari kemarau ke hujan.
“Kewaspadaan adalah kunci. Masyarakat tetap bisa beraktivitas seperti biasa, asalkan memahami kondisi cuaca dan menghindari kegiatan berisiko tinggi di laut,” tambahnya.
Selain itu, masyarakat juga sebaiknya menjaga kesehatan menghadapi suhu udara yang cenderung panas di siang hari. Waspadai perubahan cuaca yang cepat di sore menjelang malam. (ef linangkung)











