News  

BMKG Ingatkan Potensi Gelombang Tinggi di Perairan Selatan DIY, Nelayan Diminta Waspada

cuaca diy
cuaca diy

bernasnews – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat pesisir Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk mewaspadai potensi gelombang tinggi di perairan selatan pada Senin, 6 Oktober 2025.

Dalam laporan resmi yang berlaku selama 24 jam mulai pukul 07.00 WIB, BMKG mencatat tinggi gelombang laut di perairan selatan Yogyakarta berkisar antara 2,5 hingga 4 meter. Kategori ini termasuk tinggi.

Peringatan dini tersebut ditujukan kepada nelayan, wisatawan pantai, serta pengelola jasa wisata laut. BMKG meminta seluruh pihak untuk menunda aktivitas melaut dan menghindari kegiatan yang berisiko di sekitar perairan.

Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta menjelaskan bahwa kondisi atmosfer dan angin dari arah tenggara ke selatan dengan kecepatan 5 hingga 20 kilometer per jam menjadi pemicu utama peningkatan tinggi gelombang.

“Kami mengimbau masyarakat pesisir, terutama nelayan tradisional dan wisatawan di pantai selatan DIY, untuk tidak memaksakan diri beraktivitas di laut hingga kondisi lebih aman. Gelombang tinggi berpotensi mengancam keselamatan,” ujar BMKG Yogyakarta dalam keterangan resminya, Senin pagi.

Selain potensi gelombang tinggi, BMKG juga memantau kondisi cuaca di wilayah daratan DIY. Pada pagi hari, langit Yogyakarta diprakirakan cerah berawan.

Memasuki siang hingga sore hari, hujan ringan diperkirakan turun di sebagian wilayah Sleman, Kulon Progo bagian utara, dan Gunungkidul bagian utara. Pada malam hari, hujan ringan masih mungkin terjadi di wilayah Sleman utara dan Kulon Progo utara, sebelum kembali cerah berawan menjelang dini hari.

Suhu udara di wilayah DIY berkisar antara 23 hingga 34 derajat Celsius dengan kelembapan udara 50 hingga 95 persen. Kondisi ini menunjukkan pola cuaca transisi menuju puncak musim hujan, saat dinamika atmosfer mulai mengalami perubahan.

Aktivitas Pantai Dipantau Ketat

Pantauan di beberapa pantai seperti Parangtritis, Depok, Baron, dan Glagah menunjukkan peningkatan aktivitas ombak sejak Minggu malam. Sejumlah nelayan di kawasan Parangtritis memilih menunda melaut untuk menjaga keselamatan.

“Gelombangnya tinggi sekali sejak kemarin sore. Kami lebih baik menunggu satu-dua hari,” ujar Sudarmo, nelayan asal Kretek, Bantul.

Pengelola wisata pantai juga memperketat pengawasan terhadap pengunjung. Petugas SAR Satlinmas Wilayah III Parangtritis menempatkan personel di titik-titik rawan dan memasang bendera merah sebagai tanda bahaya berenang.

“Kami terus mengingatkan wisatawan agar tidak mendekati bibir pantai. Ombak bisa datang tiba-tiba dan menyeret siapa saja,” kata Heru, anggota tim SAR.

BMKG menegaskan bahwa fenomena gelombang tinggi di perairan selatan Yogyakarta umumnya disebabkan oleh aktivitas angin pasat timuran yang masih kuat di wilayah Samudra Hindia Selatan Jawa.

Selain itu, perbedaan tekanan udara antara benua Australia dan Samudra Hindia turut mempercepat hembusan angin, yang berdampak langsung pada peningkatan tinggi gelombang di sepanjang pantai selatan.

Masyarakat diimbau untuk memantau pembaruan informasi cuaca dan gelombang laut melalui kanal resmi BMKG, baik situs web, aplikasi, maupun media sosial. Informasi tersebut penting bagi nelayan, pelaku pariwisata, maupun warga yang beraktivitas di wilayah pesisir.