News  

Komisi X DPR RI Kunjungi Gunungkidul, Suntik Dana Rp1,1 Miliar Perkuat Literasi dan Perpustakaan

bernasnews – Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menyambut Komisi X DPR RI dalam agenda Kunjungan Kerja Spesifik Bidang Riset dan Literasi.

Rombongan yang dipimpin Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, bersama MY Esti Wijayati dan 10 anggota lainnya membawa kabar menggembirakan: bantuan dana alokasi khusus nonfisik untuk pengembangan perpustakaan daerah senilai Rp1,1 miliar serta 27.000 eksemplar buku.

Kunjungan berlangsung di tengah suasana hangat penuh diskusi tentang masa depan literasi di Gunungkidul. Para legislator menegaskan komitmen DPR RI dalam memperkuat riset, layanan perpustakaan, serta meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya di daerah yang masih menghadapi berbagai keterbatasan.

Bupati Endah menegaskan bahwa Gunungkidul sudah lama menggelorakan gerakan literasi, baik di sekolah, desa, maupun melalui komunitas penulis dan pegiat literasi. Namun, tantangan nyata tetap ada.

“Kami terus berupaya mengembangkan layanan perpustakaan daerah. Kami mendorong gerakan literasi di sekolah dan desa serta bersinergi dengan komunitas. Tetapi, kami masih menghadapi keterbatasan sarana, SDM, hingga disparitas minat baca masyarakat,” ujar Endah.

Meski sebelumnya Gunungkidul pernah menerima bantuan berupa gedung perpustakaan megah, Endah menekankan infrastruktur saja tidak cukup.

Tanpa sumber daya manusia yang mumpuni dan kebijakan literasi yang responsif, perpustakaan hanya menjadi bangunan kosong.

“Kami berharap kunjungan kerja Komisi X kali ini melahirkan sinergi nyata, rekomendasi kebijakan yang lebih responsif, dan dukungan berkelanjutan,” tegasnya.

Ketiadaan Pustakawan Profesional Jadi Sorotan

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati, menyoroti ketiadaan pustakawan profesional di Gunungkidul. Menurutnya, masalah ini bukan hanya milik Gunungkidul, melainkan problem nasional yang harus segera diselesaikan.

“Pustakawan adalah garda terdepan untuk memberi pelayanan dan pemahaman tentang literasi. Sayangnya, Kabupaten Gunungkidul belum memilikinya. Ini problem besar yang tidak bisa diabaikan,” ujar Esti.

Esti menambahkan fakta memilukan terkait literasi Indonesia: indeks PISA (Programme for International Student Assessment) menunjukkan dari 80 negara, Indonesia hanya menempati peringkat 71. Angka ini menjadi alarm keras agar negara tidak lagi meremehkan literasi.

“Negara seolah belum menganggap literasi sebagai kunci penting dalam pembangunan. Padahal, tanpa literasi yang kuat, mustahil kita bisa mengejar ketertinggalan di bidang lain,” lanjutnya.

Dukungan Konkret untuk Perpustakaan Gunungkidul

Sebagai bentuk dukungan nyata, Komisi X DPR RI melalui Perpustakaan Nasional menyerahkan Dana Pengembangan Bantuan Program Perpustakaan Daerah senilai Rp1,1 miliar.

Dana ini akan digunakan untuk memperkuat layanan perpustakaan di Gunungkidul, termasuk pelatihan tenaga perpustakaan, digitalisasi layanan, dan penyediaan sarana baca modern.

Selain itu, 27.000 eksemplar buku disalurkan untuk menambah koleksi bacaan masyarakat. Langkah ini diharapkan mampu mendorong kebiasaan membaca sejak dini, terutama di kalangan pelajar dan komunitas desa yang masih minim akses literasi.

Kunjungan Komisi X DPR RI tidak hanya membawa dana dan buku, tetapi juga menyulut optimisme baru. Diskusi intens antara pemerintah daerah dan legislator pusat membuka peluang sinergi berkelanjutan dalam memperkuat budaya baca.

Gunungkidul, dengan segala keterbatasannya, kini mendapat dorongan besar untuk melompat lebih jauh dalam bidang literasi. Kolaborasi antara DPR RI, Perpustakaan Nasional, dan Pemerintah Kabupaten diyakini mampu menjadi titik balik.