News  

Setiap Hari 70 Orang Jadi Korban Kecelakaan, Yogyakarta Dorong Pelajar Jadi Pelopor Keselamatan Lalu Lintas

bernasnews – Suara sirine ambulans kerap memecah suasana tenang jalanan Kota Yogyakarta. Di balik suara itu, tersimpan kenyataan pahit: setiap hari rata-rata 70 orang menjadi korban kecelakaan lalu lintas di Indonesia.

Lebih memilukan lagi, hampir 60 persen korban adalah anak muda berusia 15 hingga 35 tahun, usia produktif yang seharusnya menjadi generasi emas bangsa.

Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Yogyakarta, Golkari Made Yulianto, menjelaskan bahwa data Korlantas Polri tahun 2023 mencatat lebih dari 100 ribu kasus kecelakaan lalu lintas dengan 25 ribu orang meninggal dunia. Angka itu setara dengan satu stadion penuh manusia yang hilang sia-sia setiap tahunnya.

“Kalau dihitung rata-rata, setiap hari ada 70 orang korban kecelakaan. Yang lebih memprihatinkan, hampir 60 persen korbannya berusia muda, 15 sampai 35 tahun,” tegas Golkari.

Di Kota Yogyakarta sendiri, catatan Polresta dan Dishub tahun 2024 menunjukkan lebih dari 1.200 kasus kecelakaan dengan 53 orang meninggal dunia.

Sebagian besar korban adalah pengendara sepeda motor, bahkan tak sedikit berasal dari kalangan pelajar. Fakta ini membuat pemerintah semakin gencar menanamkan kesadaran tertib lalu lintas sejak dini.

Dishub Kota Yogyakarta tak tinggal diam. Tahun 2025 ini, mereka menggelar Lomba Cerdas Cermat Keselamatan Lalu Lintas tingkat SMP se-Kota Yogyakarta.

Tujuannya sederhana tapi mendesak: menanamkan pengetahuan dan kesadaran keselamatan berlalu lintas kepada generasi muda sejak bangku sekolah.

“Lewat cerdas cermat ini, kami ingin anak-anak tidak hanya tahu aturan, tapi juga melaksanakannya dengan tertib, lalu menjadi teladan. Harapannya, budaya berlalu lintas yang selamat benar-benar lahir dari mereka,” jelas Golkari.

Gerakan Besar dari Lomba Cerdas Cermat

Kepala Dishub Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho, menegaskan bahwa masalah keselamatan lalu lintas adalah pekerjaan rumah besar yang harus dituntaskan bersama. Terlebih, Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar dan kota wisata, sehingga lalu lintas menjadi denyut kehidupan setiap hari.

“Dengan cerdas cermat ini, kami ingin menggali pengetahuan pelajar. Setelah tahu aturannya, minimal mereka patuh, dan insyaallah berkeselamatan,” kata Agus di sela acara cerdas cermat di Balai Kota Yogyakarta, Rabu, 10 September 2025.

Lomba ini bukan sekadar adu pintar menjawab soal. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan besar menanamkan budaya keselamatan lalu lintas sejak dini. Pemerintah berharap para pelajar mampu membawa pulang pesan itu ke sekolah, rumah, hingga jalan raya.

Dari ruang kelas, kehangatan keluarga, hingga jalanan yang ramai, kesadaran ini harus tumbuh bersama. Jika setiap anak mampu mengingatkan orang tuanya untuk memakai helm, jika setiap pelajar mampu menjadi teladan di jalan, maka angka kecelakaan bisa ditekan.

Kota Yogyakarta menaruh harapan besar pada generasi muda. Karena di tangan merekalah, jalanan bukan lagi menjadi ruang penuh ancaman, tetapi arena aman untuk bergerak, berinteraksi, dan merajut masa depan.

Sebanyak 30 tim pelajar SMP se-Kota Yogyakarta ikut ambil bagian dalam lomba ini. Mereka diuji menjawab 50 soal berbasis aplikasi quiz di laptop. Semua jawaban peserta bisa langsung dipantau, membuat persaingan semakin sengit dan menegangkan.

Dari puluhan tim yang bertanding, hanya 5 sekolah berhasil lolos ke babak final yang akan digelar pada 15 September 2025 mendatang. Kelima tim tersebut adalah SMPN 5 Yogyakarta, SMPN 9 Yogyakarta, SMPN 12 Yogyakarta, SMP Budya Wacana, dan SMP Stella Duce.

“Harapannya, anak-anak ini tidak hanya berhenti di panggung lomba. Mereka harus menjadi agen perubahan, pelopor keselamatan lalu lintas di lingkungannya. Bahkan bisa menegur orang tuanya sendiri untuk patuh aturan. Dari keluarga kecil, kita mulai menekan angka kecelakaan,” terang Agus.

Salah satu peserta yang berhasil menembus final adalah tim SMPN 5 Yogyakarta, beranggotakan Diayu Cinta Putu Sari, Ahmad Fairuz Toriq, dan Kirana Nawangsari Ilyas. Ketiganya mengaku senang dan bersemangat mengikuti lomba yang berbeda dari biasanya.

“Asyik banget, pertama kali ikut lomba dengan sistem quiz seperti ini. Soalnya menantang, tapi masih sesuai dengan yang kami pelajari, seperti marka jalan, rambu, sampai alat pemberi isyarat. Rasanya seru sekaligus bermanfaat,” ucap Ayu sambil tersenyum, didampingi Ahmad dan Kirana.