bernasnews – Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo kembali menggaungkan semangat baru dalam perang melawan sampah. Ia mendorong warga untuk menghidupkan gerakan “Ratu Melisa” atau radius satu meter lihat sampah, langsung ambil.
Konsep sederhana namun penuh makna ini ia klaim sebagai senjata ampuh untuk mengubah wajah kota menjadi lebih bersih, sehat, dan bermartabat.
Hasto menggerakkan warga agar tidak menunggu program besar, tetapi bertindak cepat dalam lingkup kecil. Gerakan peduli sampah ini diharapkan mampu menjadi tradisi bagi warga Kota Yogyakarta.
“Kalau kita melihat sampah dalam radius satu meter, jangan berpaling. Ambil, pungut, dan buang ke tempatnya. Dengan cara ini, kota akan berubah drastis,” tegasnya.
Walikota menegaskan bahwa Yogyakarta tidak boleh kalah oleh persoalan sampah. Ia menekankan bahwa perilaku membuang sampah sembarangan harus segera ditinggalkan.
“Kita tidak boleh terbiasa melihat sampah di jalan, di selokan, atau di trotoar. Kalau ada di depan mata, harus segera kita ambil. Itu bentuk tanggung jawab warga kota yang berbudaya,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa “Ratu Melisa” bukan hanya slogan, melainkan cara hidup. Gerakan ini menurutnya harus masuk ke sekolah, kantor, kampus, hingga ke keluarga.
“Kalau semua orang bergerak dengan semangat Ratu Melisa, Yogyakarta akan dikenal bukan hanya karena budaya dan wisatanya, tetapi juga karena kebersihan lingkungannya,” ucap Hasto.
Sampah Menjadi Ancaman Nyata
Hasto menggambarkan ancaman serius sampah yang setiap hari menumpuk. Volume sampah kota mencapai ratusan ton, dan jika warga tidak sadar, persoalan ini akan berubah menjadi bencana.
Ia mengingatkan bahwa penumpukan sampah dapat memicu bau busuk, banjir, bahkan gangguan kesehatan.
“Bayangkan kalau setiap orang membiarkan satu bungkus plastik saja di jalanan. Dalam hitungan hari, kota akan penuh dengan sampah. Tapi sebaliknya, jika setiap orang mengambil satu sampah per hari, ratusan ribu sampah akan hilang dari jalanan,” jelasnya.
“Ratu Melisa” Jadi Gerakan Revolusioner Warga
Walikota mengajak warga menjadikan “Ratu Melisa” sebagai gerakan revolusioner. Ia menggambarkan bagaimana satu tindakan kecil bisa melahirkan perubahan besar.
“Gerakan ini ibarat bola salju. Jika satu orang memulai, maka yang lain akan ikut. Lama-lama, budaya bersih akan menjadi kebanggaan kita,” katanya.
Hasto juga mendorong komunitas, kelompok pemuda, hingga pengurus RT dan RW untuk menjadikan gerakan ini sebagai program bersama. Ia menilai keterlibatan masyarakat lebih efektif daripada hanya mengandalkan petugas kebersihan.
“Petugas kebersihan jumlahnya terbatas. Tapi kalau setiap warga menjadi Ratu Melisa, maka seluruh kota ini akan punya jutaan petugas kebersihan tambahan. Itulah kekuatan sebenarnya,” tuturnya.
Dengan semangat “Ratu Melisa”, Hasto menargetkan Yogyakarta bisa menjadi kota percontohan nasional dalam pengelolaan sampah berbasis kesadaran masyarakat.
Ia menyebut banyak kota besar di Indonesia yang kewalahan menghadapi sampah, sementara Yogyakarta bisa menunjukkan solusi dengan cara sederhana.
“Kita bisa buktikan, budaya gotong royong yang kita miliki bisa mengatasi persoalan lingkungan. Kalau Yogyakarta berhasil, saya yakin kota lain akan meniru,” ujar Hasto.












