Sapta Pesona Pariwisata dan Storytelling, Menambah Daya Tarik Sebuah Obyek Wisata

bernasnews — Bicara tentang pariwisata terutama dalam hal pengelolaan obyek wisata sebenarnya pemerintah telah lama memberikan arahan yang cukup jelas yang termaktub dalam “Sapta Pesona Pariwisata”.

Sapta Pesona Pariwisata adalah sebuah konsep yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pariwisata di Indonesia dengan mempertimbangkan tujuh aspek penting yang meliputi, Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, dan Kenangan.

Tujuh aspek penting itu tidak dapat dipisahkan ibarat seperti tali suh pada sapu lidi, hanya dapat dieksplorasi atau diperkaya agar lebih menjadi daya tarik dari obyek wisata itu sendiri. Salah satunya adalah aspek Kenangan.

Kenangan adalah pengalaman berkesan yang dapat memberikan rasa senang dan kenangan indah bagi wisatawan. Obyek wisata harus dapat menciptakan kenangan yang mendalam dan membekas pada wisatawan.

Salah satu cara menciptakan kenangan yang mendalam dan membekas pada wisatawan, yang dapat membuat wisatawan untuk mengulangi kunjungannya atau setidaknya berdampak pada promosi gethok tular (lips to lips) yaitu Storytelling. Banyak penggiat pariwisata menyepakati perlu adanya Storytelling untuk menambah daya tarik obyek wisata.

Storytelling adalah seni menceritakan kisah atau pengalaman untuk menghibur, menginspirasi, atau mengkomunikasikan pesan tertentu kepada audiens (wisatawan, red). Storytelling dapat dilakukan melalui lisan atau kata-kata yang diucapkan, tulisan dan visual, dan interktif melalui permainan, atau pengalaman imersif.

Berdasar pengamatan bernasnews saat berkesempatan berkunjung ke Bali beberapa waktu lalu, bahwa storytelling terkait obyek wisata ini telah dilakukan secara masif tidak hanya oleh pelaku pariwisata namun juga oleh warga setempat yang berprofesi sebagai driver kendaraan.

Berikut salah satu contoh storytelling adalah terjadinya Danau Bedugul dan keberadaan Pura Ulun Danu Beratan, serta rumpun bambu kuning keramat yang tumbuh di kawasan itu. Dikisahkan dahulu kala pada zaman berpindah-pindah  beberapa kelompok orang menemukan lahan yang sangat luas bekas letusan gunung purba.

Singkat cerita mereka lantas menetap di kawasan tersebut dan bercocok tanam padi, palawija untuk kebutuhan hidup di kawasan yang sangat subur. Keajaiban pun terjadi, padi yang ditanam tak pernah habis ketika dipanen karena kelelahan mereka beristirahat sembari bersenda gurau dengan menancapkan gelanggang ke tanah.

Mereka bercanda kalau Tuhan sedang mempermainkan mereka yang mengeluh kecapekan dan sebagainya bukan rasa syukur yang diucapkannya sehingga gelanggang padi yang ditancapkan ketika dicabut munculah air dari tanah yang semakin hari semakin besar dan menenggelamkan seluruh tanaman padi mereka.

Penampakan Danau Bedugul yang konon berdasar cerita rakyat dahulunya berupa lahan pertanian yang sangat subur. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

Lahan mereka berubah menjadi sebuah danau besar. Bertahun-tahun kemudian di masa kerajaan di Bali, ada seorang raja yang bermeditasi di seputaran gunung di atas dana tersebut yang dikenal dengan Gunung Mangu. Dalam meditasinya sang raja melihat cahaya kuning keemasan di pinggir danau.

Kemudian dari peristiwa tersebut sang raja memerintahkan sang patih  untuk membangun sebuah  pura di pinggir danau tersebut sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yhang Maha Kuasa. Pura tersebut dikenal hingga sekarang sebagai Pura Ulun Danu Beratan, tempat pemujaan Dewi Danu sebagai Dewi Kemakmuran dan Kesuburan.

Dan rumpun bambu kuning keramat yang tumbuh di sebelah selatan pura dipercaya tumbuh dari gelanggang padi yang ditancapkan tersebut. Menarik bukan? Storytelling tersebut selain dipaparkan oleh para pemandu wisata (guide) juga dituliskan di sebuah papan dengan ilustrasi gambar hasil dari aplikasi teknologi AI (Artificial Intelligence).

Menurut hemat penulis, penyusunan storytelling bisa berdasar cerita tutur, mitos atau legenda ataupun hikayat namun alangkah baiknya juga bersumber pada kisah faktual yang ilmiah. Hal itu seperti yang dilakukan oleh pengelola obyek wisata Telaga Menjer, di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Obyek Wisata Telaga Menjer, di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. (Tedy Katyadi/ bernasnews)

Sejarah terbentuknya Telaga Menjer merupakan danau vulkanik. Beberapa ahli menganggapnya sebagai maar. Telaga maar dicirkan dengan ukuran yang cukup besar sisa kawah gunung api yang disebabkan oleh semburan magma (phreatomagmatic eruption), dengan suatu letusan yang dikarenakan air tanah bersinggungan dengan lava atau magma panas.

Morfologi rendahan yang dihasilkan kemudian terisi oleh air yang sekarang dikenal dengan nama Telaga Menjer. Adapun berdasar cerita rakyat, dahulu kala warga desa Menjer yang ebagian besar adalah pedagang gethuk (makanan dari ketela), mereka biasanya berjualan di Pasar Kejajar, Kecamatan Kejajar.

Mereka berjalan melalui hutan yang lebat ke pasar tengah malam. Pada suatu ketika saat pulang dari pasar mereka terheran-heran dikarenakan hutan yang biasa dilewati telah berubah menjadi sebuah telaga yang sangat luas padahal sebelumnya saat berangkat ke pasar belum ada telaga atau masih berupa hutan lebat.

Konon ceritanya terbentuknya telaga tersebut karena ada dua orang kyai yang berlomba dalam pembuatan telaga di Mlandi, di hutan yang biasa untuk lewat para pedagang dari Menjer. Salah seorang dari kyai dapat  menyelesaikan perlombaan itu. Setelah terbentuknya telaga, orang yang pertama kali menemukan telaga adalah orang Menjer sehingga dinamakan Telaga Menjer.

Dengan menerapkan Sapta Pesona Pariwisata ditambah dengan paparan storytelling, obyek wisata dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi wisatawan. (Tedy Kartyadi, Wartawan dan Penghobi Wisata)