News  

Pemkot Yogya Masif Gencarkan Gerakan Mas JOS, Tujuh Oktober Jadi Deadline Penilaian untuk Kemantren dan Kelurahan

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo (Kanan) melihat bibit maggot yang akan menjadi pemakan sampah organik seperti sisa makanan, di RW 12 Kampung Pengok. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Pemerintah Kota Yogyakarta secara masif menggencarkan dan memantau Gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS) di wilayah. Diharapkan dengan gerakan Mas JOS, dapat mengurangi sampah yang dibawa ke tempat penampungan di depo.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan apresiasi untuk masyarakat yang sudah menerapkan Gerakan Mas JOS, dengan mengolah sampah menjadi pupuk yang hasilnya untuk mendukung pertanian di lahan pekarangan. Juga sebagai pakan maggot yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi.

“Saya berharap perubahan itu berasal dari bawah, kemudian kita provokasi sedikit, kita dukung kemudian menjadi masif. Makanya saya kampanye terus  (Mas JOS) guna mengubah mindset masyarakat Kota Yogyakarta,” ujar Hasto, di sela-sela kegiatan Mas JOS Menyapa di Kampung Pengok Kelurahan Demangan, Selasa (9/9/2025).

Pihaknya juga menegaskan akan terus memantau gerakan Mas JOS di wilayah 14 kemantren dan nantinya ke kelurahan-kelurahan. Pemkot Yogyakarta akan mendukung gerakan itu dengan memberikan bantuan gerobak dan ember bekas cat untuk mengolah sampah organik dan sisa dapur.

Dikatakan, pelaksanaan Mas JOS di kemantren dan kelurahan akan dinilai dan diumumkan saat Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Yogyakarta 7 Oktober. Diharapkan dengan  Mas JOS, pada Januari 2026 nanti bisa menyelesaikan sampah secara real time.

“Saya punya deadline tanggal tujuh Oktober. Jadi program-program masif yang sekarang kita gerakkan ini bermuara di tujuh Oktober Hari Jadi Kota Yogyakarta. Akan saya umumkan kemantren mana yang bagus, yang responsif, kelurahan mana akan saya nilai dan umumkan hasilnya,” tegas Hasto.

Menurut Wali Kota Yogyakarta, gerakan masif Mas JOS juga sebagai upaya untuk mengurangi  sampah yang dibawa ke depo. Sedangkan volume sampah dari depo yang mampu diolah Unit Pengolahan Sampah di Kota Yogyakarta sekitar 190 ton. Tapi jumlah sampah yang datang ke depo sekitar 260 ton.

“Sementara kuota sampah dari Kota Yogyakarta ke Piyungan dari bulan ini sampai Desember hanya tinggal 10 persen atau sekitar 2.400 ton. Pada Januari- Juli 2025 volume sampah Kota Yogyakarta yang sudah diterima Piyungan mencapai sekitar 23.000 ton. Oleh sebab itu harus menurunkan jumlah sampah yang ke depo,” beber Hasto.

“Maka gerakan masif ini untuk menggembosi (sampah) depo. Biar yang ke depo tidak banyak. Sambil terus yang depo kita habiskan tapi kita harus gerilya (Mas JOS) ke warga-warga. Oleh karena itu gerakan dari kampung ke kampung, dari kelurahan ke kelurahan  untuk menurunkan itu,” pungkasnya. (ted)