News  

BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi di Pantai Selatan DIY, Cuaca Minggu 7 September 2025 Berpotensi Hujan Ringan

bernasnews – Libur panjang Maulid Nabi masih terasa di Daerah Istimewa Yogyakarta, namun suasana gembira itu bisa berubah tegang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan wisatawan dan nelayan agar meningkatkan kewaspadaan pada Minggu, 7 September 2025. Pantai selatan DIY berpotensi diterjang gelombang laut tinggi yang mencapai 2,5 hingga 4 meter.

Peringatan dini ini langsung menyedot perhatian banyak pihak. BMKG menegaskan ancaman gelombang tinggi bukan sekadar angka, melainkan bahaya nyata yang bisa menelan korban bila diabaikan.

Sejak Sabtu malam, kabar peringatan dini beredar luas. Wisatawan yang sudah merencanakan liburan ke pantai mulai resah. Nelayan pun menimbang ulang rencana melaut.

Ombak setinggi empat meter bisa dengan mudah menghantam perahu tradisional, bahkan menyeret pengunjung yang nekat bermain di bibir pantai.

Petugas SAR pantai menegaskan akan menambah jumlah personel di beberapa titik rawan, terutama di Pantai Parangtritis, Baron, Krakal, dan Drini. Mereka menyiapkan perahu karet dan pelampung darurat.

“Kami tidak ingin kejadian lalu terulang, ketika wisatawan terseret ombak karena mengabaikan imbauan,” ujar salah satu relawan SAR yang bersiaga sejak dini hari.

Kondisi Cuaca DIY Sepanjang Hari

BMKG juga merinci kondisi cuaca di Yogyakarta sepanjang Minggu. Pada pagi hari, hujan ringan berpotensi turun di Kulon Progo bagian selatan. Memasuki siang hingga sore, Sleman bagian utara dan Kulon Progo bagian utara juga berpeluang diguyur hujan ringan.

Malam hari langit diprediksi berawan, namun dini hari kembali muncul potensi hujan ringan di wilayah selatan Kulon Progo.

Suhu udara berkisar antara 21 hingga 32 derajat Celsius dengan kelembapan 65 sampai 95 persen. Angin bertiup dari timur laut hingga tenggara dengan kecepatan maksimum 30 km/jam.

BMKG menyebut kondisi ini memperkuat potensi terbentuknya gelombang laut tinggi di perairan Yogyakarta.

Wisatawan dan Nelayan Diminta Waspada

Meski peringatan telah diumumkan, sebagian wisatawan sering kali tetap nekat mendekati ombak. Fenomena itu kerap membuat petugas harus berulang kali meniup peluit dan mengusir pengunjung dari area berbahaya.

“Pantai selatan memang indah, tetapi juga mematikan bila kita lengah,” tegas Heri Kaur seorang petugas Desa Wisata Tepus Gunungkidul.

Ia meminta wisatawan menikmati keindahan pantai dari jarak aman, tidak mandi di laut, dan tidak naik perahu wisata bila gelombang mulai meninggi.

Ancaman gelombang tinggi juga memukul nelayan tradisional. Banyak nelayan menggantungkan hidup dari tangkapan harian, namun kondisi ekstrem memaksa mereka mengambil keputusan sulit: melaut dengan risiko tinggi atau menunda dan kehilangan pemasukan.

“Kalau gelombang setinggi itu, kami tidak berani. Perahu bisa hancur. Kami pilih berhenti melaut sementara, meskipun pemasukan hilang,” ungkap Sugeng Titin seorang nelayan Pantai Baron dengan nada getir.

BMKG menegaskan bahwa gelombang setinggi 2,5 – 4 meter masuk kategori tinggi. Ombak sebesar itu mampu mengempaskan kapal nelayan, bahkan menyeret batu karang besar ke tepian. Karena itu, masyarakat diminta menjadikan peringatan dini sebagai alarm serius, bukan sekadar formalitas.

“Ombak selatan tidak bisa diprediksi dengan mata telanjang. Waspada dan patuhi imbauan,” pesan BMKG.