News  

Grebeg Maulud 2025 di Jogja, Bagaimana Cara Masyarakat Bisa Ikut?

Grebeg Maulud di Jogja 2025. (IG @kratonjogja)

bernasnews – Grebeg Maulud di Yogyakarta selalu menjadi salah satu agenda budaya dan keagamaan yang paling ditunggu. Setiap tahun, ribuan orang berbondong-bondong datang ke Keraton Yogyakarta maupun ke Masjid Gedhe Kauman untuk menyaksikan prosesi sakral yang erat kaitannya dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Pada tahun 2025, tradisi ini kembali digelar dengan rangkaian acara meriah yang berlangsung sejak akhir Agustus hingga awal September.

Bukan hanya masyarakat Yogyakarta, wisatawan dari luar daerah bahkan mancanegara ikut larut dalam euforia Grebeg Maulud. Lalu, apa makna dari perayaan ini, kapan jadwal puncaknya berlangsung, dan bagaimana cara masyarakat bisa ikut serta? Mari simak penjelasan lengkap berikut ini.

Makna dan Sejarah Grebeg Maulud di Yogyakarta

Grebeg Maulud bukan sekadar upacara budaya, melainkan tradisi yang lahir dari perpaduan nilai Jawa dengan ajaran Islam. Sejak masa Kesultanan Yogyakarta, Grebeg Maulud digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah.

Tradisi ini melambangkan rasa syukur atas limpahan rezeki dari Tuhan sekaligus wujud penghormatan kepada Rasulullah SAW. Gunungan yang dibawa dalam kirab memiliki filosofi khusus bentuknya yang menjulang melambangkan harapan akan kesejahteraan, sementara isinya berupa hasil bumi mencerminkan kemakmuran.

Masyarakat percaya bahwa berebut isi gunungan bisa mendatangkan berkah. Lebih dari itu, Grebeg Maulud juga menjadi media dakwah yang mengajarkan nilai kebersamaan, berbagi, dan menjaga warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Tidak heran jika setiap tahun acara ini selalu dipadati ribuan pengunjung.

Jadwal Grebeg Maulud Jogja 2025

Rangkaian Grebeg Maulud 2025 berlangsung mulai tanggal 29 Agustus hingga 5 September. Menurut informasi resmi dari laman jogjaprov.go.id, berikut susunan acaranya:

Miyos Gangsa: 29 Agustus malam, dari Bangsal Pancaniti menuju Pagongan Masjid Gedhe.

Kajian Maulid Nabi: 30 Agustus hingga 3 September, di Masjid Gedhe.

Gladhi Resik Prajurit: 31 Agustus pagi, dengan rute Kamandungan Kidul hingga Masjid Gedhe.

Numplak Wajik: 2 September sore, di Panti Pareden, Komplek Magangan.

Kondur Gangsa: 4 September malam, di Pagongan dan halaman Masjid Gedhe.

Mbethak (tertutup): 4 sampai 5 September, di Bangsal Sekar Kedhaton.

Puncak Garebeg Mulud: 5 September pukul 09.00 WIB, berupa kirab gunungan dari Keraton menuju Masjid Gedhe.

Pisowanan Garebeg Mulud Dal (tertutup): 5 September siang, di Bangsal Kencana.

Ringgitan Bedhol Songsong (tertutup): 5 September malam, di Tratag Gedhong Prabayeksa.

Dari seluruh rangkaian acara, momen yang paling ditunggu masyarakat adalah kirab gunungan pada hari Jumat, 5 September 2025 pukul 09.00 WIB. Saat itulah Keraton Yogyakarta akan mengarak gunungan menuju Masjid Gedhe Kauman sebelum akhirnya dibagikan kepada masyarakat.

Bagaimana Cara Masyarakat Bisa Ikut?

Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah masyarakat hanya boleh menyaksikan atau bisa ikut serta dalam Grebeg Maulud? Jawabannya, masyarakat bisa hadir langsung di lokasi dan mengikuti prosesi dengan beberapa catatan penting.

Mengikuti Kirab Gunungan

Puncak Grebeg Maulud berupa kirab gunungan terbuka untuk umum. Warga dapat menyaksikan dari sepanjang jalur arak-arakan, mulai dari Keraton Yogyakarta hingga Masjid Gedhe Kauman. Lokasi strategis biasanya berada di sekitar Alun-Alun Utara.

Berebut Isi Gunungan

Setelah gunungan tiba di Masjid Gedhe, masyarakat diperbolehkan untuk berebut isi gunungan. Tradisi ini diyakini membawa berkah dan menjadi salah satu daya tarik utama Grebeg Maulud.

Mematuhi Tata Tertib Adat

Walaupun terbuka untuk umum, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga ketertiban, menghormati prosesi adat, dan tidak mengganggu jalannya upacara sakral.

Menyaksikan Acara Pendukung

Selain puncak kirab, masyarakat juga bisa menghadiri berbagai acara pendukung seperti kajian Maulid Nabi atau pertunjukan prajurit Keraton.

Grebeg Maulud sebagai Warisan Budaya dan Identitas

Setiap prosesi dalam Grebeg Maulud Jogja 2025 memiliki makna tersendiri. Dari persiapan, arak-arakan, hingga perebutan gunungan, semuanya merefleksikan perpaduan antara nilai agama, budaya, dan sejarah.

Tidak hanya sebagai acara ritual, Grebeg Maulud juga berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya sekaligus identitas masyarakat Yogyakarta. Kehadiran ribuan pengunjung setiap tahun menjadi bukti bahwa tradisi ini tetap relevan, hidup, dan memberikan nilai spiritual yang mendalam.

Grebeg Maulud 2025 di Jogja bukan hanya tentang merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi yang sudah diwariskan berabad-abad. Masyarakat bisa ikut serta dengan menghadiri kirab, menyaksikan prosesi, hingga berebut gunungan yang penuh makna.

Bagi Anda yang ingin merasakan langsung suasana budaya dan religius Yogyakarta, Grebeg Maulud 2025 menjadi momentum yang sayang untuk dilewatkan.

***