News  

Ada Grebeg Maulud, Wisata Kedhaton Ditutup 5 September 2025

bernasnews – Yogyakarta kembali bersiap menyambut salah satu hajatan budaya terbesar yang penuh makna spiritual, yaitu Hajad Dalem Garebeg Mulud 2025.

Perayaan ini digelar dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal Tahun Dal 1959 Jawa, bertepatan dengan Jumat, 5 September 2025.

Seperti tradisi tahunan sebelumnya, Keraton Yogyakarta menggelar rangkaian acara sejak 29 Agustus hingga 5 September 2025. Selama hampir sepekan penuh, wisatawan dan masyarakat dapat menyaksikan berbagai prosesi yang sakral namun tetap terbuka untuk umum.

Namun, ada hal penting yang perlu diketahui adalah wisata Kedhaton atau Kraton Yogyakarta akan ditutup pada 5 September 2025, khusus pada hari puncak perayaan Grebeg Maulud. Informasi ini telah diumumkan melalui akun resmi Instagram @kratonjogja.

Grebeg Maulud: Tradisi Perpaduan Islam dan Budaya Jawa

Grebeg Maulud bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah tradisi yang mencerminkan harmoni antara nilai-nilai Islam dan budaya Jawa. Prosesi ini menampilkan beragam ritual khas Keraton yang sarat simbolisme, mulai dari doa bersama, kirab, hingga puncaknya adalah pembagian Gunungan.

Gunungan sendiri merupakan hasil bumi yang disusun membentuk kerucut besar, lalu diarak dari Keraton menuju Masjid Gedhe Kauman. Setelah doa dipanjatkan, masyarakat akan berebut untuk mendapatkan bagian dari gunungan tersebut.

Meski harus berdesakan di bawah terik matahari, warga percaya bahwa setiap bagian dari gunungan membawa berkah, kelancaran rezeki, serta tanda keberuntungan dalam hidup.

Pada Jumat, 5 September 2025, prosesi utama Grebeg Maulud akan digelar mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Jalur kirab dimulai dari Keraton Yogyakarta menuju Masjid Gedhe.

Masyarakat umum diperbolehkan hadir dan menyaksikan secara langsung. Karena itu, wisatawan tidak bisa memasuki area wisata Kedhaton pada hari tersebut, melainkan diarahkan untuk ikut menyaksikan rangkaian upacara di lokasi prosesi.

Nilai Sosial dan Filosofis dalam Grebeg Maulud

Lebih dari sekadar perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW, Grebeg Maulud juga menjadi sarana memperkuat persatuan masyarakat Yogyakarta. Tradisi ini mengajarkan nilai luhur seperti gotong royong, rukun, serta penghormatan terhadap hierarki sosial.

Di balik setiap prosesi, terdapat filosofi yang mendalam. Gunungan misalnya, melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran yang dibagikan oleh raja kepada rakyatnya. Hal ini menjadi simbol hubungan erat antara Keraton dengan masyarakat, di mana kerajaan tidak hanya berperan sebagai pusat budaya tetapi juga sebagai penjaga kesejahteraan rakyat.

Dalam arus globalisasi, Grebeg Maulud menghadapi tantangan berupa perubahan gaya hidup masyarakat dan derasnya pengaruh budaya luar. Namun, Keraton Yogyakarta bersama pemerintah dan masyarakat terus berupaya menjaga tradisi ini tetap lestari.

Beberapa langkah pelestarian yang dilakukan antara lain:

  • Edukasi untuk generasi muda, agar mereka memahami nilai spiritual dan budaya dari Grebeg Maulud.
  • Dokumentasi melalui berbagai media, baik cetak maupun digital, sehingga dapat diwariskan lintas generasi.
  • Pengembangan pariwisata berbasis budaya, yang bukan hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkenalkan tradisi Jawa-Islam ke dunia internasional.
  • Pemanfaatan media sosial, yang membuat tradisi ini tetap relevan dan dekat dengan masyarakat modern, khususnya generasi milenial dan Gen Z.

Tradisi yang Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Kini

Grebeg Maulud adalah contoh bagaimana sebuah tradisi mampu bertahan dan tetap hidup meski zaman terus berubah. Perayaan ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga identitas budaya masyarakat Jawa yang menunjukkan sikap toleran, plural, dan penuh makna spiritual.

Dengan setiap prosesi yang digelar, Grebeg Maulud menghadirkan suasana sakral sekaligus meriah. Ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, menjaga warisan leluhur agar tetap relevan, sekaligus memperkaya kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.

Maka, jika Anda berencana berkunjung ke Yogyakarta pada awal September 2025, jangan lewatkan kesempatan menyaksikan langsung prosesi akbar ini.

Ingatlah bahwa wisata Kedhaton ditutup pada 5 September 2025, namun Anda tetap bisa merasakan pengalaman budaya luar biasa dengan menyaksikan jalannya Grebeg Maulud di Keraton hingga Masjid Gedhe.

***