Transportasi dan Pangan Tekan Harga, DIY Alami Deflasi Agustus 2025

bernasnews– Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat deflasi sebesar 0,24 persen (mtm) pada Agustus 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut angka ini berbalik arah dari Juli 2025 yang masih mencatat inflasi 0,05 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menyebut pencapaian ini menunjukkan daya beli masyarakat tetap terjaga.

“Secara tahunan, inflasi DIY berada di angka 2,30 persen (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya yang 2,60 persen. Artinya, inflasi di DIY masih terkendali dan sesuai target nasional,” ujarnya, mengutip dari kabarjawa.com, Jumat (29/8/2025).

Deflasi Agustus 2025 di Wilayah DIY

Deflasi tercatat di beberapa daerah. Kota Yogyakarta mengalami deflasi 0,21 persen dengan inflasi tahunan 2,28 persen. Kabupaten Gunungkidul mencatat deflasi lebih dalam, yakni 0,27 persen, dengan inflasi tahunan 2,33 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa penurunan harga tidak hanya terjadi di kota, tetapi juga di wilayah basis produksi pangan.

Deflasi terbesar berasal dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang turun 0,26 persen. Tiga komoditas utama yang mendorong penurunan harga adalah tomat, cabai rawit, dan telur ayam ras.

Harga tomat turun paling tajam dengan andil deflasi 0,11 persen. Pasokan melimpah dari Magelang, Muntilan, dan Temanggung membuat stok tomat di pasar DIY meluber.

Cabai rawit ikut menyumbang deflasi 0,07 persen, sementara telur ayam ras memberi andil 0,02 persen setelah permintaan menurun usai puncak musim hajatan dan perayaan.

“Ketika pasokan melimpah dan konsumsi melandai, harga pasti turun. Kondisi ini yang menekan inflasi pangan DIY,” ujar Sri Darmadi.

Selain pangan, kelompok Transportasi juga mencatat deflasi 0,03 persen. Turunnya harga BBM non-subsidi sejak 1 Agustus 2025 menjadi faktor utama. Harga Pertamax turun dari Rp12.500 menjadi Rp12.200 per liter, sedangkan Pertamax Turbo dari Rp13.500 menjadi Rp13.200 per liter. Penurunan harga BBM ini menurunkan ongkos transportasi dan ikut menahan laju inflasi energi.

Penahan Deflasi

Meski deflasi cukup dalam, kenaikan biaya pendidikan menahan angka deflasi lebih besar. Memasuki tahun ajaran baru, biaya taman kanak-kanak naik sehingga memberi andil inflasi 0,01 persen. Lonjakan kecil ini menjadi faktor penahan deflasi total.

Menurut Sri Darmadi, capaian deflasi Agustus tidak lepas dari kerja sama lintas sektor melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Strategi 4K, yaitu Ketersediaan pasokan, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif terus diperkuat.

Berbagai langkah dilakukan, mulai dari operasi pasar murah, optimalisasi Kios Segoro Amarto sebagai acuan harga, hingga kampanye belanja bijak. Kerja sama antarwilayah juga diperluas, baik antarprovinsi maupun antar-kabupaten/kota, untuk menjaga kelancaran pasokan pangan strategis.

Bank Indonesia DIY juga menggandeng dunia pendidikan melalui program Masyarakat lan Pedagang Tanggap Inflasi (MRANTASI) Goes to School. Pada 20 Agustus 2025, program ini digelar di Sleman.

Kegiatan melibatkan 300 guru dan siswa SMA, SMK, dan MA. BI DIY menargetkan total 600 guru dan siswa di seluruh kabupaten/kota DIY untuk meningkatkan literasi tentang inflasi dan konsumsi bijak.

Selain itu, Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Pengendalian Inflasi DIY digelar pada 29 Agustus 2025. Rakorda mengusung tema Percepatan Transformasi Ekonomi melalui Peningkatan Produktivitas Pertanian untuk Ketahanan Pangan dan Stabilisasi Harga serta Penguatan Digitalisasi Keuangan Daerah.

Sri Darmadi optimistis inflasi DIY sepanjang 2025 akan tetap terkendali di kisaran target nasional 2,5±1 persen.

“Capaian ini hasil kerja kolektif. Deflasi Agustus membuktikan bahwa kolaborasi mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus menstabilkan harga,” tegasnya.***(Eln)