News  

Ada Demonstrasi, UGM Putuskan Liburkan Kuliah Tatap Muka Empat Hari

bernasnews – Universitas Gadjah Mada (UGM) akhirnya mengambil keputusan berani di tengah memanasnya gelombang demonstrasi yang melanda berbagai daerah di Indonesia.

Pihak kampus resmi meliburkan kuliah tatap muka dan mengganti proses belajar dengan metode daring selama empat hari penuh, mulai 1 September hingga 4 September 2025.

Langkah ini diambil setelah situasi sosial dan politik nasional semakin panas. Demonstrasi besar-besaran pecah hampir serentak di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Makassar, Surabaya, hingga kota-kota lain. Jalan-jalan dipenuhi massa yang berteriak menuntut perubahan, sementara aparat terus bersiaga menghadang.

UGM, sebagai salah satu universitas terbesar di Indonesia, memilih untuk mendahulukan keselamatan mahasiswanya.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, menyampaikan pengumuman resmi yang langsung menggetarkan jagat akademik.

“Kami memutuskan seluruh mahasiswa UGM melaksanakan pembelajaran dari rumah secara daring. Kami ingin memastikan keamanan, kesehatan, dan keselamatan mereka tetap terjaga di tengah situasi yang tidak menentu ini,” tegas Wening dalam pengumuman yang tersebar luas.

Keputusan Kampus yang Menggemparkan

Suasana kampus UGM yang biasanya riuh dengan aktivitas mahasiswa mendadak berubah. Ratusan kelas tatap muka terpaksa dihentikan.

Mahasiswa yang baru saja memasuki semester baru harus menerima kenyataan bahwa ruang kuliah, laboratorium, hingga kantin kampus akan sepi untuk sementara waktu.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Gelombang demonstrasi di Yogyakarta sendiri sudah mulai terasa.

Massa yang turun ke jalan tidak hanya memenuhi titik-titik strategis kota, tetapi juga menimbulkan keresahan di sekitar kawasan pendidikan. UGM tidak mau mengambil risiko.

“Mahasiswa harus menjaga diri, tidak terprovokasi, dan tetap memperhatikan perkembangan situasi di lingkungan masing-masing. Kami ingin memastikan mereka tetap bisa belajar tanpa harus mempertaruhkan keselamatan,” tambah Wening.

Gelombang Aksi Menekan Dunia Akademik

Tidak bisa dimungkiri, demonstrasi yang terus membesar telah menekan banyak sektor, termasuk dunia pendidikan.

Perguruan tinggi di beberapa daerah mulai mempertimbangkan langkah serupa dengan UGM. Para pengajar menilai situasi saat ini tidak kondusif untuk perkuliahan tatap muka.

Gelombang protes yang awalnya terpusat di Jakarta kini menjalar ke berbagai kota besar. Terlihat ribuan mahasiswa, buruh, dan elemen masyarakat lainnya bersatu dalam barisan panjang.

Mereka menyuarakan tuntutan yang menggema di jalan-jalan, dari persimpangan Malioboro Yogyakarta hingga depan Gedung DPR di Jakarta.

UGM pun berada di tengah arus besar itu. Sebagai universitas yang selama ini dikenal melahirkan banyak tokoh bangsa, langkah UGM memilih kuliah daring dinilai sebagai sikap hati-hati dan penuh pertimbangan.

Meski kuliah tatap muka dihentikan sementara, UGM menegaskan komitmennya agar proses pendidikan tetap berjalan.

Sistem pembelajaran daring akan dioptimalkan. Para dosen diminta tetap mengajar sesuai jadwal dengan menggunakan platform digital.

Wening menyampaikan harapan besar agar kondisi segera membaik. Pihaknya berharap situasi kembali stabil.

“Kami ingin mahasiswa segera bisa kembali ke kelas, berdiskusi, dan berkarya tanpa dihantui rasa khawatir,” ujarnya.

Sementara itu, mahasiswa UGM menyambut pengumuman ini dengan perasaan campur aduk. Sebagian merasa lega karena keselamatan mereka menjadi prioritas.

Namun, sebagian lain justru merasa kecewa karena momentum belajar tatap muka di awal semester kembali terganggu.