Kerja Sama Bantul dan Lampung Timur, Siap Kirim Bawang Merah Mulai September

Bantul Siap Kirim Bawang Merah/Foto Ilustrasi: Freepik

bernasnews – Pemerintah Kabupaten Bantul dan Kabupaten Lampung Timur resmi menjalin kerja sama lintas daerah yang strategis, Selasa (12/8/2025).

Penandatanganan nota kesepahaman merupakan langkah konkret untuk memperkuat ketahanan pangan, menekan laju inflasi, serta membuka peluang sinergi di berbagai sektor pembangunan.

Kerja sama ini menjadi momentum penting yang ditandai langsung oleh kehadiran Bupati Bantul Abdul Halim Muslih dan Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah.

Kerja Sama Bantul dan Lampung Timur

Melansir dari kabarjawa.com, Halim menyampaikan bahwa kesepakatan ini tak hanya menyasar urusan inflasi, tetapi juga membuka ruang untuk kolaborasi yang lebih luas.

“Kerja sama ini bersifat global antar pemerintah daerah. Tidak hanya soal inflasi, tetapi bisa berkembang pada sektor lain seperti industri kerajinan, kebudayaan, hingga pariwisata,” ujar Halim. “Lampung Timur memiliki potensi besar, Bantul juga memiliki keunggulan. Kita akan kaji dan padukan untuk menciptakan manfaat bersama.”

Salah satu poin penting dari kolaborasi ini adalah komitmen Bantul dalam menyediakan pasokan bawang merah untuk Lampung Timur. Selama ini, wilayah tersebut mengalami kendala dalam budidaya komoditas tersebut akibat kondisi tanah dan iklim yang kurang mendukung.

“Kalau Lampung Timur membutuhkan suplai bawang merah, Bantul siap. Kita bahkan akan mengirim mulai September ini,” ungkap Halim.

Tak hanya itu, petani dari Lampung Timur juga akan langsung melihat kebun bawang merah di Bantul sebagai bagian dari program pembelajaran teknik budidaya yang terbukti berhasil.

Harapannya, pertukaran pengetahuan ini akan memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjadi langkah preventif untuk mengendalikan inflasi di kedua daerah.

Ingin Tiru Teknik Bertani di Pasir

Sementara itu, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah menaruh perhatian besar pada keberhasilan Bantul menanam bawang merah di tanah berpasir. Hal ini menjadi inspirasi bagi daerahnya yang memiliki dua kecamatan pesisir dengan kondisi tanah serupa.

“Di Lampung Timur ada dua kecamatan pesisir dengan tanah berpasir. Kalau Bantul bisa menanam bawang di pasir, kenapa kami tidak mencoba? Kami ingin belajar langsung dan mengadaptasi teknik tersebut,” ucap Ela antusias.

Menurut Ela, Lampung Timur saat ini menjadi barometer inflasi di Provinsi Lampung. Meski produksi padi tergolong surplus, ketersediaan bawang merah masih terbatas. Maka dari itu, kerja sama ini dinilai sebagai peluang emas untuk memperkuat cadangan komoditas dan menstabilkan harga pasar.

Tak berhenti di sektor pertanian, kedua belah pihak juga menyepakati penguatan kerja sama dalam pengembangan UMKM, pengelolaan pariwisata, hingga peningkatan kapasitas aparatur sipil negara (ASN). Kolaborasi tersebut akan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal.

“Kerja sama ini bukan hanya soal dagang, tetapi juga transfer pengetahuan,” tegas Halim. “Jika berhasil, model kerja sama ini bisa direplikasi di daerah lain untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.”

Sebagai tindak lanjut, tim teknis dari kedua daerah akan segera melakukan kunjungan lapangan guna merumuskan strategi produksi bawang merah yang cocok di wilayah pesisir Lampung Timur.

Bantul akan mengirimkan benih unggul, memberikan pelatihan budidaya, serta mendampingi proses penanaman hingga panen tiba.

Kerja sama ini sekaligus menunjukkan bahwa tantangan inflasi tidak cukup hanya diatasi dengan intervensi harga semata. Ini perlu inovasi dan kolaborasi dari hulu ke hilir, mulai dari produksi, distribusi, hingga transfer teknologi antardaerah.

Dengan langkah ini, Bantul dan Lampung Timur menjadi contoh nyata bahwa sinergi lintas wilayah mampu menciptakan solusi bersama yang berkelanjutan dan berdampak luas.***(Eln)