bernasnews — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daerah Istimewa Yogyakarta mengeluarkan peringatan dini yang menggugah kesadaran masyarakat pesisir selatan DIY.
Senin, 4 Agustus 2025, wilayah perairan selatan Yogyakarta berpotensi dihantam gelombang laut tinggi yang dipicu oleh angin kencang berkecepatan maksimum hingga 30 km/jam.
Gelombang laut diperkirakan akan mencapai ketinggian 2,5 hingga 4 meter, masuk kategori tinggi dan berbahaya bagi aktivitas pelayaran maupun wisata bahari.
Potensi Cuaca Ekstrem dan Dampaknya di Daratan
BMKG menyampaikan prakiraan cuaca 24 jam yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB. Cuaca cerah berawan akan mendominasi pagi hari. Namun, kondisi akan berubah drastis menjelang siang dan sore.
Kota Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo, Bantul bagian utara, dan Gunungkidul bagian utara berpotensi diguyur hujan ringan hingga sedang. Malam harinya, hujan ringan dapat turun di Kulon Progo bagian selatan dan Bantul bagian selatan, sementara dini hari diperkirakan hanya berawan.
Suhu udara berkisar antara 21 hingga 31 derajat Celsius, sementara kelembapan berada di level tinggi, antara 65 hingga 95 persen.
Angin bertiup dari arah timur laut hingga tenggara, dan bisa mencapai kecepatan maksimum 30 km/jam, yang turut berkontribusi pada terbentuknya gelombang laut tinggi di sepanjang pantai selatan Yogyakarta.
Imbauan untuk Nelayan dan Wisatawan
BMKG mengingatkan seluruh masyarakat yang beraktivitas di laut untuk tidak meremehkan peringatan ini. Para nelayan tradisional yang biasa melaut dengan perahu kecil diimbau menunda kegiatan melaut demi keselamatan jiwa.
Wisatawan yang berencana mengunjungi pantai-pantai eksotis seperti Parangtritis, Baron, Kukup, dan Wediombo juga harus meningkatkan kewaspadaan.
Aktivitas seperti bermain air, berenang, atau berswafoto di tepi karang sebaiknya dihindari, mengingat kemungkinan datangnya ombak besar secara tiba-tiba.
Dinas Pariwisata DIY bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyiagakan personel SAR di titik-titik rawan kecelakaan laut.
Para petugas diminta memasang bendera peringatan merah di sepanjang bibir pantai yang berisiko tinggi. Koordinasi dengan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) pun digencarkan, terutama di kawasan pantai yang ramai dikunjungi wisatawan domestik.
“Kami tidak ingin ada korban jiwa karena kelalaian. Gelombang setinggi empat meter bisa menyapu siapa saja dalam sekejap. Mohon masyarakat patuhi peringatan dan instruksi petugas di lapangan,” tegas Kepala BPBD DIY, Purwono.
BMKG juga mengingatkan, pada musim angin timuran seperti sekarang, perairan selatan Jawa kerap dilanda gelombang tinggi yang tidak bisa diprediksi waktunya secara tepat. Tahun-tahun sebelumnya, gelombang tinggi pernah menelan korban jiwa, baik nelayan maupun wisatawan.
Tragedi yang menyisakan luka mendalam itu seharusnya cukup menjadi pengingat betapa pentingnya waspada terhadap dinamika alam yang terus berubah.
Masyarakat DIY, terutama yang tinggal di pesisir atau bergantung pada sektor kelautan, diminta terus memantau informasi resmi dari BMKG melalui kanal resminya.
Pemerintah juga berharap media massa dan media sosial ikut berperan menyebarkan informasi cuaca secara cepat dan akurat.
Situasi cuaca dan laut pada Senin, 4 Agustus 2025, menuntut disiplin kolektif. Bukan hanya nelayan dan wisatawan, namun juga seluruh pemangku kepentingan daerah. Keselamatan harus menjadi prioritas utama di atas segalanya.
“Jangan pernah menantang laut. Kita bukan penguasa gelombang. Laut bisa berubah dari damai menjadi mematikan dalam hitungan detik,” ujarnya.












