News  

Jam Pelajaran Agama di SD Negeri Dinilai Kurang, Disdikpora Yogyakarta Gandeng UAD dan UIN Perkuat Perkuat Pondasi Iman Anak Sejak Dini

bernasnews– Pemerintah Kota Yogyakarta mengambil langkah strategis dalam merespons kekhawatiran masyarakat terkait minimnya jam pelajaran agama di Sekolah Dasar (SD), terutama pada sekolah-sekolah negeri.

Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta kini menjalin kerja sama dengan dua kampus besar, yaitu Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga.

Langkah ini bertujuan memperkuat pendidikan agama Islam sejak usia dini. Kepala Disdikpora Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori, menyampaikan bahwa fenomena meningkatnya minat masyarakat terhadap SD swasta berbasis agama telah menjadi perhatian pemerintah daerah.

Banyak orang tua berharap pendidikan anak mereka tidak hanya unggul secara akademis, namun juga memiliki fondasi keimanan yang kuat.

“Pemkot Yogyakarta melalui Disdikpora berkomitmen menyiapkan anak-anak kita, terutama di jenjang SD, untuk mendapatkan pendidikan agama yang lebih baik lagi. Terutama di sekolah negeri, karena berdasarkan survei banyak orang tua yang lebih memilih SD swasta demi nilai-nilai dasar agama yang lebih kuat,” tutur dia.

Kolaborasi untuk Penguatan Karakter Sejak Dini

Menindaklanjuti hal tersebut, Disdikpora menggandeng UAD dan UIN Sunan Kalijaga untuk turut mendampingi pembelajaran agama di SD negeri. Selama ini, sekolah negeri hanya mengalokasikan maksimal tiga jam pelajaran agama setiap pekan.

Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya menambah waktu belajar, tetapi juga memperkaya metode pengajaran agar lebih bermakna dan membentuk karakter anak secara menyeluruh.

Budi menegaskan bahwa pendekatan pendidikan agama yang dirancang bukan sekadar formalitas.

“Kami tidak hanya ingin anak-anak menguasai ilmu, tapi juga mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang kami perjuangkan. Pendidikan agama yang bukan hanya formal, tapi menyentuh hati dan membentuk akhlak sejak dini,” tegasnya.

Program ini juga akan mendukung pengembangan kegiatan ekstrakurikuler berbasis keagamaan, seperti mengaji, kegiatan keislaman, hingga pelatihan akhlak dalam bentuk praktik langsung.

Menurut Budi, pendidikan karakter yang berbasis spiritual menjadi kebutuhan mendesak, terutama di tengah arus globalisasi dan tantangan moral yang kompleks.

Ia menyebutkan bahwa kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci penting untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kuat secara batiniah.

Melalui kerja sama ini, Pemkot Yogyakarta ingin memastikan bahwa pendidikan agama di sekolah negeri tidak tertinggal dibanding sekolah swasta. Harapannya, anak-anak Yogyakarta dapat tumbuh menjadi pribadi yang utuh—cerdas secara intelektual, kuat secara spiritual, dan berakhlak baik.

“Kami mohon doa restu, mudah-mudahan seluruh anak-anak kita, terutama di SD negeri dan swasta, mendapatkan pendidikan agama Islam yang lebih baik lagi di masa mendatang,” kata dia.

Di akhir pernyataannya, Budi menegaskan bahwa langkah ini adalah bentuk respons langsung atas kegelisahan sebagian orang tua yang merasa sistem pendidikan agama di sekolah negeri masih belum maksimal.

Dengan kebijakan ini, Disdikpora Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya dalam menyiapkan generasi masa depan yang tidak hanya unggul di atas kertas, tetapi juga kokoh dalam keimanan dan ketakwaan.