bernasnews – Sabtu, 2 Agustus 2025, duka menyelimuti di Dusun Turi, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul. Seorang remaja laki-laki ditemukan dalam kondisi tergantung tidak bernyawa di bagian belakang rumahnya.
Keluarga histeris. Warga geger. Polisi pun langsung bergerak cepat. Anggota Polsek Bambanglipuro dengan pimpinan Ka SPK Aiptu Yohanes Setyono langsung mendatangi lokasi setelah menerima laporan warga sekitar pukul 13.00 WIB.
Korban bernama MF, pelajar berusia 19 tahun, warga asli Dusun Turi, RT 003, Kalurahan Sidomulyo. Korban adalah sosok pendiam dan tidak pernah menunjukkan gelagat mencurigakan.
Informasi yang dihimpun pihak kepolisian, pagi hari itu korban masih beraktivitas seperti biasa. Ia tidur bersama keluarganya. Sekitar pukul 11.30 WIB, korban bangun tidur dan pergi ke belakang rumah karena hendak ke kamar mandi. Namun, ia tak kunjung kembali.
Sekitar satu jam berselang, MZ, adik sepupu korban yang masih berusia 7 tahun, berjalan ke belakang untuk memanggil. Namun, bocah itu langsung berteriak panik. Sang kakak tergantung dengan tali tampar yang terikat di bagian emper belakang rumah. Ia memanggil Asrofiani, ibu kandung korban, yang langsung berlari ke belakang.
Dengan napas tercekat dan tubuh gemetar, sang ibu menemukan putranya sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Kakinya sudah membiru. Tubuhnya kaku.
Tak sempat berpikir panjang, ibu korban memanggil tetangga terdekat, Ambar. Mereka memeriksa kondisi korban bersama. Detik itu juga, mereka menyadari bahwa MF telah meninggal. Mereka segera meminta bantuan warga dan melaporkan kejadian ke pihak Polsek Bambanglipuro.
Sekitar pukul 14.00 WIB, Tim Identifikasi Polres Bantul bersama Unit 2 Satreskrim tiba di lokasi kejadian. Polisi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) secara menyeluruh. Mereka mengumpulkan data, mendokumentasikan posisi tubuh korban, serta melakukan pemeriksaan fisik eksternal.
Hasil identifikasi menunjukkan bahwa korban benar-benar meninggal akibat gantung diri. Tali tampar sepanjang 77 cm menjerat erat lehernya. Ketinggian dari tali ke tanah mencapai 270 cm. Kaki korban hanya tergantung 26 cm dari lantai. Tinggi badannya tercatat 167 cm.
Pemeriksaan medis dari dr. Dian Nastiti Mahanani dari Puskesmas Bambanglipuro menguatkan dugaan bahwa korban meninggal murni akibat gantung diri. Tidak ditemukan luka memar, sayatan, atau tanda kekerasan lain pada tubuh korban.
Tanda-tanda kematian seperti lidah tergigit, tubuh kaku, dan suhu tubuh yang menurun memperkuat bahwa korban sudah meninggal lebih dari tiga jam sebelum ditemukan. Air mani juga keluar dari kemaluan, sebuah tanda khas dalam kasus kematian akibat asfiksia.
Kasi Humas Polres Bantul, AKP I Nengah Jeffry Prana Widnyana, memastikan bahwa kejadian ini tidak mengandung unsur pidana kekerasan dari pihak lain. Korban meninggal murni akibat gantung diri. Hasil olah TKP dan pemeriksaan medis tidak menunjukkan tanda-tanda kekerasan dari benda tumpul maupun tajam.
“Kami juga tidak menemukan catatan kriminal atau tekanan luar yang mengarah ke penganiayaan,” jelas AKP Jeffry.
Namun demikian, polisi tetap mengumpulkan sejumlah barang bukti dan melakukan pendalaman terhadap kondisi psikologis korban dalam beberapa waktu terakhir. (ef linangkung)












