bernasnews – Kabupaten Sleman kembali mencatat prestasi dalam dunia pertanian. Kali ini, para petani salak dari wilayah Turi berhasil mengekspor 10 ton salak pondoh ke Kamboja, sekaligus menjajaki peluang ekspor baru ke pasar Tiongkok.
Secara langsung, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, melakukan pelepasan ekspor pada Sabtu (2/8/2025), di Padukuhan Wonokerto, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi. Suasana haru dan bangga menyelimuti acara yang dihadiri petani, mitra ekspor, serta sejumlah tokoh daerah.
“Ini bukan sekadar seremoni. Ini bukti nyata bahwa pertanian Sleman mampu menembus pasar dunia,” ujar Danang, melansir tugujogja.id.
Ia menegaskan, salak pondoh bukan hanya buah unggulan daerah, tetapi simbol kekuatan ekonomi kerakyatan yang bisa menjadi alat diplomasi ekonomi Indonesia.
“Kita ingin petani Sleman naik kelas, tidak hanya menjual di pasar lokal, tetapi juga mampu bersaing lintas negara,” lanjutnya.
Danang juga menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia Perwakilan DIY yang telah memfasilitasi ekspor melalui pendampingan dan peningkatan kualitas produk. Menurutnya, kolaborasi antarlembaga seperti ini sangat penting dalam memperkuat daya saing petani lokal di pasar global.
“Dari pengemasan, penyimpanan, hingga sistem pengiriman, semuanya kini telah memenuhi standar ekspor internasional. Ini langkah maju yang luar biasa,” ungkapnya.
Kepala Bank Indonesia Perwakilan DIY, Sri Darmadi Sudibyo menyampaikan dukungannya. Ia menilai ekspor komoditas lokal seperti salak pondoh tak hanya menyumbang devisa negara, tetapi juga membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan taraf hidup petani.
“Kami sangat bangga melihat capaian ini. Produk lokal kita benar-benar punya daya saing, asal diberi ruang dan dukungan tepat,” ujar Sri Darmadi.
Ia memastikan bahwa BI akan terus mendorong penguatan ekspor lokal melalui berbagai program fasilitasi dan pembinaan berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua CV Mitra Turindo, Suroto, selaku penggerak Paguyuban Petani Salak Sleman, menjelaskan bahwa ekspor ke Kamboja sejatinya sudah sejak 2017. Namun, tahun ini menjadi lebih spesial karena pihaknya berhasil membuka akses ekspor ke China.
“Kami bersyukur atas kerja sama lintas pihak, khususnya dukungan dari Bank Indonesia. Ini menjadi motivasi besar bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi,” ucap Suroto.
Ia juga menambahkan, pihaknya terus mengembangkan sistem agribisnis modern agar para petani salak Sleman bisa naik kelas secara berkelanjutan.
Keberhasilan ekspor ini mempertegas posisi Sleman sebagai lumbung hortikultura yang potensial dan siap bersaing di pasar global.***(Eln)












