bernasnews — Ajang tahunan Jogja Fashion Trend (JFT) 2025 resmi dibuka, dengan acara berlangsung di Imperial Ballroom The Rich Jogja Hotel, Jumat (11/7/2025). Menandai tiga hari perhelatan mode yang memadukan kekuatan budaya lokal dengan semangat tren global.
Bertajuk “Cultural Fusion“, gelaran ini menjadi ruang ekspresi dan kolaborasi bagi 81 desainer nasional serta melibatkan model dari berbagai kota di Indonesia.
Sebagai pembeda tahun ini, panggung JFT tak lagi digelar di area publik seperti mal, namun di ballroom hotel berbintang dengan menghadirkan suasana eksklusif, pencahayaan optimal, serta tata artistik yang mendukung narasi busana para desainer.
“Kami ingin memberikan pengalaman berbeda—bukan hanya secara visual, tapi juga menyentuh makna kulturalnya. Jogja sangat ideal sebagai simpul antara warisan budaya dan spirit modernitas,” ujar Afif Syakur, Project Director JFT 2025.
Sejak hari pertama, deretan koleksi memukau mulai ditampilkan. Sesi pertama menampilkan nama-nama seperti Puthic by Nissa Khoirina, Dewi Roesdji, Melati Soedjarwo, Ariesanti Design, hingga Mavee Batik by Lina Marlina.
Adapun sesi kedua menghadirkan kolaborasi Jogja Model Academy dengan desainer seperti Crisantium X Oiaio Batik, Putra Brilliant Wedding, dan La Kristy by Kristy E Riantono.
Salah satu sorotan utama adalah Asmat Pro Showcase, yang diisi oleh 90 model didikan Asmat Pro dan Jogja Model Academy dari berbagai wilayah seperti Yogyakarta, Klaten, dan Magelang.
“Kami memberi ruang murid untuk langsung tampil di event besar seperti ini. Praktik langsung di runway bergengsi bukan hal baru bagi kami,” ujar Panji Anom, pendiri Asmat Pro.
Model yang tampil mulai dari usia 5 hingga 35 tahun, dengan latar belakang pengalaman berbeda—mulai dari peserta pemula dengan 6 bulan pelatihan hingga yang telah menimba ilmu selama 10 tahun.
Salah satu model remaja, Aryandhini Aulia Nisa dari Gombong, turut meramaikan panggung. Siswi SMP ini mengungkapkan kegembiraannya bisa tampil di event besar, sebagai bentuk usaha mengembangkan bakatnya di dunia modeling.
“Saya percaya diri punya potensi, jadi saya ingin mengasah itu lewat pengalaman tampil seperti ini,” ujar Aulia.
Ajang ini tak hanya memberi kesempatan tampil, tapi juga ruang eksplorasi dan pencapaian bagi generasi muda yang ingin terjun di industri mode.
Desainer Tatok Prihasmanto lewat brand Crisantium menyajikan koleksi yang memadukan kebaya klasik dan busana modern. Ia membawa nuansa era 1920-an dalam konsep ready-to-wear yang terinspirasi dari gaya urban kota besar seperti New York.
“Saya ingin menunjukkan bahwa batik tidak hanya bisa tampil etnik, tapi juga bisa masuk ke gaya metropolitan yang modern,” kata Totok.
Ia juga berkolaborasi dengan pengrajin kebaya Magelang untuk menciptakan harmoni antara nilai tradisional dan estetika kontemporer.
Creative Director JFT 2025, Phillip Iswardono, menyebut bahwa pemilihan ballroom hotel sebagai venue memberikan kesan lebih premium dan memperkuat presentasi karya-karya desainer.
“Dari lighting, sound system, hingga dekorasi—semua diatur untuk menampilkan karya dengan sebaik mungkin. Ini bentuk penghargaan kepada para desainer dan penonton,” ujarnya.
Event ini juga dimeriahkan oleh kehadiran Hayden Ng, desainer asal Singapura yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Desainer ASEAN, menjadikan JFT 2025 tak hanya ajang nasional tapi bernuansa internasional.
Disutradarai oleh Nyudi Dwijo Susilo dan Chico Bahtiar, JFT 2025 bukan sekadar pameran busana. Ia adalah platform yang menjahit cerita tentang jati diri, keberagaman, dan imajinasi masa depan industri fashion Indonesia.
Dengan komposisi yang lebih berani, kaya warna, dan penuh nuansa budaya, Jogja Fashion Trend 2025 kembali membuktikan bahwa mode bisa menjadi medium pelestarian sekaligus transformasi budaya. (Ajeng Putri Anggraini C.P, Mahasiswa STMM MMTC Yogyakarta)












