News  

Gelar Kreativitas Seni Anak Usia Dini se-Kelurahan Panembahan 2025: Pembangunan Karakter Anak Usia Dini Melalui Unjuk Seni dan Budaya

Salah satu kelompok PAUD saat unjuk kebolehan berupa tarian "Jaranan" dalam acara Gelar Kreativitas Seni Anak Usia Dini se-Kelurahan Panembahan 2025. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

bernasnews — Ternyata berbagai permainan tradisional Jawa dapat menjadi media pendidikan dan stimulan yang sangat baik bagi perkembangan mental anak. Seperti permainan “Cublak-cublak Suweng”, ini akan merangsang bagi usia anak 1-3 tahun dalam kemampuan bahasa berupa bernyanyi.

Juga kemampuan kognitif yaitu menebak barang yang disembunyikan serta kemampuan sosial yakni bermain bersama anak-anak lain. Kemudian permainan “Gobag Sodor” untuk anak 3-6 tahun, selain kemampuan kognitif, kemampuan sosial, ada pula kemampuan emosi atau berlatih mengendalikan emosi.

Hal itu dikemukakan oleh Dra. Sri Nurrochmani, Psikolog, saat menjadi nara sumber parenting dengan tema “Pembangunan Karakter Anak Usia Dini Melalui Unjuk Seni dan Budaya”, dalam acara Gelar Kreativitas Seni Anak Usia Dini se-Kelurahan Panembahan 2025, di nDalem Probodikaran, Jalan Pesindenan, Suryoputran, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Yogyakarta, Sabtu (12/7/2025).

Acara tersebut dihadiri oleh Mantri Pamong Praja (MPP) Kemantren Kraton, Lurah Panembahan, Ketua Kampung dan Kelembagaan di Kelurahan Panembahan, Ketua PKK Kemantren Kraton, Ketua PKK Kelurahan Panembahan, Ketua Pokja Bunda PAUD Kelurahan Panembahan, Pengurus PAUD se-Kelurahan Panembahan, Banbimas Koramil Kraton, serta tamu undangan.

Dalam sambutannya, Ketua Pokja Bunda PAUD Panembahan Cahya T. Murdianingsih menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung atas terselenggaranya acara ini. Acara ini merupakan salah satu kegiatan Pokja Bunda PAUD, dalam tahun anggaran 2024, dengan harapan dapat bermanfaat untuk perkembangan anak-anak usia dini di Kelurahan Panembahan.

“Adapun tujuan untuk menggali bakat dan meningkatkan kreatifitas, ekspresi diri serta pemahaman tentang diri sendiri dan lingkungan sekitar bagi anak usia dini. Kedua, pengembangan ketrampilan, kemampuan memecahkan masalah dan rasa percaya diri anak. Ketiga, pembentukan karakter anak melalui seni dan budaya,” ungkap Cahya.

Narasumber Parenting, Penyelenggara dan Tamu Undangan foto bersama di ata panggung yang ikonik. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

Sementara itu, MMP Kemantren Kraton Drs. Sumargandi, M.Si dalam sambutannya mengatakan, bahwa anak-anak usia dini memerlukan bimbingan khusus karena ini untuk masa depan bangsa Indonesia, tahun 2045 anak-anak ini akan menjadi generasi emas yang akan mengentaskan kita semua.

Menurut Sumargandi, hal ini tentu dalam usia dini telah disebutkan bahwa kondisinya berbeda dalam cara mendidiknya. Dahulu anak-anak oleh orang tuanya diujo (dibiarkan) namun itu dapat berkembang menjadi mandiri, tidak manja dan kreatifitas timbul.

“Beda dengan anak-anak sekarang sudah dikasih-kasih (dimanjakan) diberi HP dan sebagainya, kemudian minta telur tinggal ambil. Dahulu anak-anak makan telur, sebutir bisa diiris dijadikan “enam belas”. Sekarang dikasih satu saja belum tentu mau karena pilih makanan kekinian yang lain,” ujarnya.

“Oleh karena itu anak-anak di bawah usia dua tahun harus diberikan asupan makanan uang bergizi lantaran dari usia itu anak rentan stunting. Kita patut bersyukur pemerintah telah memperhatikannya dengan adanya program makanan bergizi bagi anak-anak usia dini,” lanjut Sumargandi.

Acara Gelar Kreativitas Seni Anak Usia Dini 2025 se-Kelurahan Panembahan ini tak hanya diisi dengan parenting dan pentas kesenian berupa tari-tarian, namun juga diisi lomba mewarnai, kuis dan doorprize.

Bahkan tempat penyelenggaraannya pun disulap bernuansa tradisional yang dipadukan dengan dunia anak-anak yang penuh warna, dihias pernak-pernik hiasan tradisional rangkaian janur dan di panggung utama berhiaskan berjejer “Endog Abang”, di mana telor warna merah ini hanya dijual saat perhelatan Garebeg Kraton Jogja. (ted)