bernasnews – Penilaian kinerja guru merupakan elemen krusial dalam sistem pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar di sekolah.
Adapun evaluasi yang muncul pada supervisi Pengelolaan Kinerja adalah kendala/gangguan teknis lain apa saja yang dialami ibu/bapak selama menggunakan sistem ini.
Melalui penilaian ini, diharapkan profesionalisme guru dapat terus berkembang seiring tuntutan zaman. Namun, pada praktiknya, pelaksanaan sistem penilaian kinerja tidak jarang menemui sejumlah hambatan dan kendala yang berdampak langsung terhadap efektivitas dan kelancaran proses tersebut.
Artikel ini menyajikan penjabaran lengkap mengenai berbagai kesulitan yang sering dialami guru selama menjalani proses penilaian kinerja, terutama saat berhadapan dengan sistem digital atau aplikasi online seperti e-Kinerja.
Ulasan ini disusun berdasarkan pengalaman nyata guru di lapangan dan bertujuan sebagai refleksi untuk penyempurnaan sistem ke depan.
Jawaban Kendala atau Gangguan Teknis Lain yang Dialami
Beban Administratif yang Menguras Waktu dan Energi
Salah satu tantangan utama yang dikeluhkan oleh banyak guru adalah beban administratif yang sangat tinggi. Proses pengumpulan dokumen, pengisian laporan, serta penyusunan bukti-bukti kinerja yang harus dilampirkan memakan waktu dan energi yang tidak sedikit.
Dalam banyak kasus, guru merasa harus mencurahkan sebagian besar waktunya untuk urusan administrasi, sehingga fokus pada kegiatan inti seperti mengajar dan membimbing siswa menjadi terganggu.
Situasi ini menjadi lebih rumit ketika guru belum mendapatkan pelatihan atau pembekalan yang memadai mengenai sistem penilaian yang digunakan. Akibatnya, pengisian dokumen dilakukan dengan rasa bingung dan penuh ketidakpastian, sehingga berisiko terjadi kesalahan atau pengulangan.
Kurangnya Pemahaman dan Sosialisasi terhadap Sistem
Perubahan dan pembaruan dalam sistem penilaian guru sebenarnya merupakan hal positif. Namun, jika tidak diiringi dengan sosialisasi dan pelatihan yang intensif, perubahan tersebut justru menjadi hambatan.
Banyak guru merasa belum memahami secara utuh bagaimana cara mengoperasikan sistem penilaian, baik secara teknis maupun administratif.
Penggunaan aplikasi digital seperti e-Kinerja masih menyisakan kebingungan, terutama dalam hal navigasi, input data, dan pelaporan.
Minimnya pendampingan juga memperparah situasi ini. Padahal, pemahaman menyeluruh terhadap sistem sangat penting agar guru dapat menjalani proses penilaian dengan percaya diri dan sesuai standar.
Kendala Teknis dan Keterbatasan Infrastruktur
Di sejumlah wilayah, terutama daerah terpencil atau dengan fasilitas teknologi yang terbatas, guru menghadapi kendala teknis yang cukup serius. Internet yang lambat, perangkat komputer atau laptop yang tidak memadai, hingga keterbatasan listrik menjadi penghambat utama dalam proses penilaian berbasis digital.
Gangguan seperti sistem yang tidak bisa diakses, aplikasi yang sering mengalami error, hingga data yang gagal tersimpan menjadi tantangan nyata yang sangat mengganggu. Dalam kondisi seperti ini, guru merasa frustrasi karena waktu yang seharusnya dimanfaatkan untuk kegiatan produktif malah habis untuk menyelesaikan masalah teknis.
Penilaian yang Kurang Objektif dan Standar yang Tidak Seragam
Kritik lain yang sering disuarakan oleh guru adalah ketidakjelasan pada kriteria penilaian. Banyak indikator dinilai terlalu umum atau tidak spesifik, sehingga membuka ruang penafsiran yang berbeda-beda oleh setiap evaluator.
Hasilnya, ada perbedaan signifikan dalam pemberian nilai meski objek yang dinilai berada dalam situasi yang hampir serupa.
Ketidakkonsistenan ini menimbulkan kesan bahwa penilaian belum sepenuhnya objektif. Bahkan, dalam beberapa kasus, muncul anggapan bahwa hasil penilaian lebih mencerminkan subyektivitas penilai ketimbang capaian nyata guru.
Hal ini tentu berpotensi menurunkan semangat dan rasa percaya diri guru yang merasa usahanya tidak dihargai secara proporsional.
Rendahnya Motivasi Akibat Tekanan Psikologis dan Minimnya Apresiasi
Tak dapat dipungkiri bahwa proses penilaian kinerja yang berlarut-larut, ditambah tekanan administratif, bisa berdampak pada kondisi psikologis guru. Rasa stres, kelelahan, dan penurunan motivasi menjadi hal yang sering muncul terutama ketika guru merasa bahwa upaya mereka tidak mendapat penghargaan yang layak.
Kurangnya umpan balik yang membangun atau bentuk apresiasi konkret dari pimpinan juga membuat guru menjadi kurang antusias dalam menjalani proses ini. Bila tidak ditangani, kondisi ini bisa berdampak pada menurunnya kualitas pembelajaran dan relasi guru dengan peserta didik.
Sulit Beradaptasi dengan Metode Pembelajaran Baru
Sebagian sistem penilaian kinerja mendorong guru untuk menerapkan strategi dan pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif. Namun kenyataannya, tidak semua guru memiliki kesiapan atau keterampilan untuk langsung beradaptasi dengan metode baru tersebut.
Guru yang telah lama menggunakan pendekatan konvensional merasa kesulitan untuk beralih, terutama jika tidak dibekali dengan pelatihan intensif atau sumber belajar yang memadai. Tantangan ini juga bisa menimbulkan tekanan mental, rasa frustasi, dan ketakutan akan kegagalan dalam memenuhi ekspektasi sistem.
Perlunya Evaluasi dan Pendampingan Berkelanjutan
Mengingat banyaknya kendala yang dialami oleh guru dalam proses penilaian kinerja, maka sangat penting bagi pihak terkait baik dinas pendidikan, kepala sekolah, maupun tim penilai untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem yang ada.
Diperlukan pendekatan yang lebih manusiawi, adaptif, dan suportif dalam menerapkan sistem penilaian agar guru dapat menjalani proses ini dengan nyaman dan penuh semangat.
Peningkatan mutu pendidikan tidak hanya bisa dicapai melalui sistem penilaian yang ketat, tetapi juga lewat lingkungan kerja yang sehat, apresiatif, dan terbuka terhadap umpan balik.
Dengan mendengarkan suara guru dan memahami kesulitan yang mereka hadapi, maka sistem penilaian kinerja dapat benar-benar menjadi alat pengembangan, bukan sekadar alat ukur semata.
***












