bernasnews – Suara debur ombak Pantai Parangtritis pada Selasa (2/7/2025) siang menelan isak tangis seorang perempuan paruh baya. Nenek bernama SW, warga Bantarjati Atas, Kota Bogor Utara, Jawa Barat itu, nekat menceburkan diri ke lautan ganas demi mengakhiri hidupnya.
SW lahir di Klaten pada 6 Agustus 1965. Ia berjalan menembus pasir pantai Parangtritis sambil menunduk karena derita batin. Kakinya menjejak buih ombak tanpa ragu. Ia menatap air laut dengan mata yang sembab. Dengan niat bulat, ia ingin menuntaskan hidupnya hari itu juga.
Bayu dan Rohman Setiyadi, dua anggota Sarlinmas Parangtritis, awalnya sibuk kerja bakti di Pos SAR Parangtritis pukul 11.40 WIB. Tiba-tiba, mereka mendengar teriakan warga yang melapor ada perempuan berusaha bunuh diri dengan cara menceburkan diri ke laut.
Bayu, pria kelahiran Gunungkidul, langsung berlari menyisir garis pantai. Rohman Setiyadi, pria asal Bantul, menjejak pasir secepat mungkin menembus kerumunan wisatawan yang panik. Mereka menemukan SW dalam kondisi lemas dan kuyup tergulung ombak di bibir pantai.
Kemudian, mereka memapah tubuh SW yang gemetar dan menahan tangis. Mereka membawa SW ke Klinik Dharma Husada untuk menjalani pemeriksaan medis.
Aiptu Purwanto bersama anggota Polsek Kretek langsung bergerak cepat pukul 12.35 WIB. Ia memimpin anggota Kuda 5.2 menuju Klinik Dharma Husada setelah menerima laporan dari Sarlinmas Parangtritis. Mereka memastikan kondisi SW stabil. Polisi mendapati SW sadar dan masih dapat diajak berbicara.
AKP I Nengah Jeffry Prana Widnyana, Kasi Humas Polres Bantul, mengungkap motif di balik aksi nekat SW. Ia menegaskan SW merasa malu dan tertekan berat.
Keluarga besarnya menuduh SW menjalin hubungan asmara terlarang dengan adik kandungnya sendiri. Tuduhan itu membuat hatinya tercabik. Jiwanya terpukul. Ia menanggung malu di usia senja.
“Selain tuduhan itu, ia juga memiliki banyak masalah pribadi,” tegas AKP Jeffry.
Polisi kemudian menenangkan SW di pos SAR Parangtritis. (ef linangkung)












