bernasnews — Keberadaan jiwa “entrepreneurship” dalam mengelola dunia kuliner saat ini semakin tumbuh keberadaannya sampai pelosok-pelosok pedesaan, hal ini membangkitkan UMKM yang memang senyatanya mampu meenyerap tenaga kerja yang tidak sedikit dalam bidang informal. Menurut Rhenald Kasali (2010) bahwa semua usaha yang sehat dan kuat selalu memiliki pondasi intangibles yang kuat.
Ini berarti dalam tubuh manusia tidak hanya dibutuhkan “brain memory” yakni sebuah sistem dan pengatur informasi yang sangat vital dalam kehidupan manusia, namun perlu juga adanya “Myelin atau muscle memory” yang terletak di seluruh jaringan otot kita untuk mampu menggerakan secara komprehensif. Melalui gabungan brain memory dan muscle memory, akan menghasilkan gagasan-gagasan dan tindakan-tindakan kreatif yang tiada akhir, yang disebut keunggulan bersaing (competitive advantage).
“Entrepreneurship” senantiasa melekat pada pola kerja yang kreatif, inovatif dan mampu menangkap persoalan masa mendatang serta mampu memutuskannya secara cermat dan tepat. Lebih-lebih jika keputusan yang akan ditetapkan menyangkut problem yang kompleks dan rumit, maka penentuan unsur kreatif secara terukur menjadi hal yang dominan pada jiwa “entrepreneurship”. Artinya kita tidak perlu menunggu bola datang, akan tetapi harus berani cepat mengambil bola tersebut dari lawan dan memainkannya secara indah dan memasukkan ke dalam gawang.
Merubah pola pikir seseorang untuk menjadi jiwa wirausaha memang bukan pekerjaan yang mudah, bahkan tidak semudah membalikkan telapak tangan, akan tetapi dibutuhkan keberanian untuk memulainya, lebih-lebih dunia usaha yang terkait dengan kuliner butuh pengelolaan yang serius, utamanya soal citra rasa masakannya harus tetap terus dijaga rasanya.
Sebagai contoh di Jalan Danau Buyan Raya, Jimbaran Bali ada Rumah Makan “Bakmi Keriting 78” yang berdiri pada tahun 2010 dan dikelola oleh Ibu Paskalina. Rumah makan ini menyajikan berbagai menu meliputi, Bakmie Keriting Pangksit, Bakmie Keriting, Kwetiaw Kuah, Kwetiaw Goreng Telor, Kwetiaw Goreng Spesial, Bihun Kuah, Bihun Goreng Telor, Mie Goreng Spesial, bahkan menu khusus yakni E-Mie adanya hari Sabtu dan Minggu.
Rumah makan ini konsisten dan komitmen menjaga kualitas rasa, sehingga sampai saat ini rumah makan ini tetap ramai dikunjungi konsumen, dari pagi hinga malam hari pengunjung tiada henti. Kondisi rumah makan ini tetap bisa bertahan dari gempuran bisnis kuliner yang semakin banyak, tentu pemiliknya selalu tekun, disiplin dan tetap setia menjaga rasa dalam menjalankan bisnis serta menjaga pelayanan yang baik. (Drs. Z. Bambang Darmadi, M.M., Instruktur Pelatihan Bersertifikasi BNSP dan Penulis Buku)












