bernasnews – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Hadi Tjahjanto menegaskan, alumni Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Yogyakarta adalah agen perubahan. Saat menjalankan tugas harus tegas dan fokus melaksanakan kerja. Dunia kerja adalah medan sebenarnya. Jaga diri dan profesionalisme.
“Saya wanti-wanti, jangan sampai lulusan STPN mendapatkan gratifikasi maupun perbuatan tidak terpuji. Tugas besar menanti di luar sana. Berpihaklah kepada masyarakat luas. Jagalah keseimbangan iman,” kata Hadi Tjahjanto kepada 707 orang wisudawan Proggram Diploma 1 Pengukuran dan Pemetaan Kadastral dan Diploma IV Pertanahan TA 2022/2023 STPN Yogyakarta, di Pendopo Sasana Widya Bhumi kampus setempat, Jumat (8/9/2023) malam.
Hadir pada kesempatan ini antara lain Sekda DIY Beny Suharsono yang mewakili Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X, jajaran Forkompimda DIY dan perwakilan kampus di DIY.
Hadi Tjahjanto mengemukakan, Kementerian ATR/BPN yang dia pimpin masih memiliki pekerjaan besar antara lain Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL). PTSL yang merupakan program revolusioner ini mampu mengakselerasi pendaftaran tanah di Indonesia.
Pada tahun 2017 jumlah bidang tanah bersertifikat di seluruh Indonesia tercatat baru 46 juta bidang. Rata-rata pertahun kementeriannya dapat memproduksi seritifikat kurang lebih 500 ribu sertifikat. Pada tahun 2025, pihaknya menargetkan seluruh bidang tanah di Indonesia terdaftar 126 juta.
“Inilah peluang kerja bagi para alumni STPN Yogyakarta. Karena saat ini Kementerian ATR/BPN telah mendaftarkan tanah sebanyak lebih kurang 106,2 juta bidang dan lebih kurang 87,2 juta bidang yang sudah bersertifikat.
Sadhumuk bathuk sanyari bumi ingsun belani, pecahing dhadha wutahing ludira. Sebagai insan pertanahan, sejengkal tanah pun harus kita bela dan kita berikan kepada yang berhak yaitu masyarakat Indonesia. Kita semua harus punya rasa memiliki dan kebanggaan yang sama terhadap NKRI,” kata Menteri ATR/Kepala BPN.

Tidak hanya tradisi akademik
Ketua STPN Yogyakarta Dr. Ir. Senthot Sudirman, M.S. mengemukakan, sejak STPN didirikan pada tahun 1993, acara wisuda Program Studi Diploma IV Pertanahan kali ini adalah yang ke-33 dan Wisuda Program Studi Diploma I Pengukuran dan Pemetaan Kadastral yang ke-27. Jumlah wisudawan saat ini sebanyak 707 orang yang terdiri dari lulusan Program Studi Diploma IV Pertanahan sebanyak 183 orang dan Program Studi Diploma I Pengukuran dan Pemetaan Kadastral sebanyak 524 orang.
Untuk wisudawan Program Diploma I Pengukuran dan Pemetaan Kadastral, jumlah taruna yang berhasil lulus sebanyak 524 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 81 orang memperoleh predikat terpuji dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi diraih oleh Bagus Supriyanto mahasiswa asal Provinsi Jawa Timur dengan IPK 3,95 (dengan pujian). Sedangkan peserta yang memiliki IPK tertinggi dari Jalur Kerjasama adalah Widhiana Bangun Isti asal Provinsi Lampung dengan IPK
3,43 (sangat memuaskan).
Berdasarkan Peraturan Menteri ATR/KBPN Nomor 11 Tahun 2017, lulusan Program Diploma I Pengukuran dan Pemetaan Kadastral STPN dapat diangkat menjadi Asisten Surveyor Kadaster (ASK) setelah lulus Ujian Lisensi. Berdasarkan Permen ATR/Ka.BPN Nomor 9 Tahun 2021 tentang Surveyor Berlisensi, para ASK dapat bergabung dengan Kantor Jasa Surveyor Berlisesni (KJSB) setelah memiliki sertifikat kompetensi dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan sertifikat lisensi dari Kementerian ATR/BPN.
Dari hasil ujian kompetensi yang diawali dari tanggal 31 Juli sampai dengan 4 Agustus 2023 seluruh alumni STPN Program DI PPK tahun ini dinyatakan lulus ujian kompetensi dimaksud dan telah dinyatakan kompeten sebagai Asisten Surveyor Kadastral Muda. Pada tanggal 18 Agustus 2023 mereka juga telah menempuh ujian lisensi yang diselenggarakan oleh Direktorat Pengukuran dan Pemetaan Dasar Kementerian ATR/KBPN dan semua peserta dinyatakan lulus. Oleh karena itu, berdasarkan persyaratan yang telah dipenuhi tersebut, alumni DI PPK STPN layak untuk bergabung dengan BPN baik secara langsung maupun melalui KJSB dalam rangka mengakselerasi penyelesaian PTSL dan pekerjaan pertanahan lainnya.
Lebih lanjut Senthot Sudirman mengemukakan, wisudawan Prodi DIV Pertanahan tahun ini semuanya murni dari peserta didik yang berasal dari umum atau program reguler dan dari kerjasama dengan Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota atau pada tahun ini tidak ada wisudawan Prodi DIV Pertanahan yang berasal dari tugas belajar. Dari wisudawan Program Studi Diploma IV Pertanahan yang berjumlah 183 orang ini, wisudawan yang berpredikat ”Dengan Pujian” berjumlah 93 Taruna (54,39%); predikat ”Sangat Memuaskan” 74 Taruna (43,27%), dan predikat ”Memuaskan” berjumlah 4 Taruna (2,34%). Secara keseluruhan IPK rata-rata untuk Prodi Diploma IV Pertanahan adalah 3,48 (tiga koma empat delapan). Peserta Yudisium dari Jalur Reguler yang memiliki IPK tertinggi adalah Melyna Ariska Sari NIT. 19283263 asal Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan IPK 3,85 (tiga koma delapan lima), sedangkan IPK terendah 2,86 (dua koma delapan enam). Untuk peserta yang memiliki IPK tertinggi dari Jalur kerjasama adalah Leonard Yuda NIT. 19283162 asal Provinsi Bangka Belitung dengan IPK 3,55 (tiga koma lima lima) dan IPK terendah 2,86 (dua koma delapan enam).
“Perlu untuk kita renungkan bersama bahwa tiap kali Upacara Wisuda digelar bukanlah hanya sekedar tradisi akademik semata akan tetapi mempunyai esensi yang tinggi karena merupakan manifestasi pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi dan merupakan akhir dari proses panjang yang harus ditempuh oleh taruna STPN berkaitan dengan proses pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
Sebagai akhir dari sebuah proses akademik maka kualitas lulusan adalah prioritas kunci yang hendak dituju oleh semua institusi pendidikan termasuk STPN. Kualitas lulusan menjadi dasar kepercayaan masyarakat dan kepercayaan Kementerian ATR/KBPN.
Dalam rangka mewujudkan kualitas lulusan yang memiliki kompetensi intelektual, profesional, berwawasan kebangsaan, dan berkarakter, STPN terus melakukan evaluasi dan pembenahan diri di semua lini kehidupan kampus, baik sistem pendidikan dan pengajaran, staf pengajar, tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana penunjang. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan sikap asah asih asuh, dan lebih penting lagi diperlukan sikap ketauladanan,” kata Ketua STPN Yogyakarta Dr. Ir. Senthot Sudirman, M.S. (mar)











