51 Tahun Teater Alam Pentaskan “Opera Ikan Asin” di TBY

Flyer Opera Ikan Asin 51 Tahun Teater Alam. Foto: istimewa

bernasnews –  Menandai 51  tahun usianya, Teater Alam menggelar pentas seni bertajuk Opera Ikan Asin karya adaptasi N. Riantiarno dari The Threepenny Opera (Bertolt Brecht) di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Selasa (15/8/2023) pukul 19.30 WIB. Pentas seni ini disutradarai Puntung CM Pudjadi.

Sejumlah pemain melakonkan Opera Ikan Asin ini yakni Meritz Hindra, Dr. Drs. Hadjar Pamadhi, M.A. (Hons), Nunung Rieta, Oka Swastika, Anastasia, Jack Sofian, Pristiani Dewi, Yanz Haryo Geni, Edddy Soebroto, dan lain-lain.

Peristiwa Opera Ikan Asin ini terjadi pada tahun 1925 – 1930. Dikisahkan, Mekhit alias Mat Piso si Raja Bandit, mengawini Poli tanpa sepengetahuan ayahnya Picum Nata Sasmita juragan para pengemis se kota. Dendam Picum pada Mekhit  seakan tiada habisnya. Dengan segala upaya, dia berusaha memisahkan Mekhit dari Poli. 

Suatu hari, akibat pengkhianatan Yeyen bekas pacar Mekhit yang akhirnya jadi pelacur,  Si Mat Piso tertangkap di sebuah rumah bordel. Tetapi dia dapat lolos lewat pertolongan Lusi, anak gadis Kepala Polisi Betawi. 

Kepala Polisi yang dikenal dengan nama Kartomarmo itu, ternyata kawan lama Mekhit. Malah selama ini mereka selalu bekerjasama. Dengan kata lain, Kartomarmo memberitahu jika polisi berniat menggerebek sarang Mekhit. Sebaliknya Mekhit membagi setengah dari hasil operasinya kepada Kartomarmo ebagai upeti. 

Tetapi pada akhirnya Picum berhasil mendesak agar Kartomarmo menangkap Mekhit, dengan cara menggerakkan pasukan pengemisnya turun ke jalan, berdemonstrasi. Mekhit akhirnya tertangkap lagi dan dijatuhi hukuman mati. 

Saat nyawa Mekhit nyaris melayang datang surat keputusan dari Gubernur Jenderal. Isi keputusan, Mekhit bebas dari tiang gantungan.  

Nampaknya apa pun yang berasal dari istana, mampu berdiri di atas hukum. Bahkan sanggup mengubah keputusan hakim. (*/mar)