FES Universitas Amikom Yogyakarta dan P2W LIPI Gelar Webinar Nasional

BERNASNEWS.COM — Fakultas Ekonomi dan Sosial Universitas Amikom Yogyakarta bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kewilayahan (P2W) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyelenggarakan kegiatan webinar nasional, Jumat (12/3/2021), bertemakan “Covid-19 dan Deglobalisasi Ilmu Pengetahuan Harus Apa?”.

Kegiatan ini dihadiri oleh 280 peserta dari berbagai wilayah dan institusi di Indonesia. Menghadirkan dua pembicara dari P2W LIPI, Prof. Cahyo Pamungkas dan Amin Mudzakir, serta dua pembicara Dosen Fakultas Ekonomi dan Sosial Universitas Amikom Yogyakarta, Mohamad Zuhdan dari Program Studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan dan Aditya Maulana Hasymi, Prodi Hubungan Internasional.

Prof. Dr. M. Suyanto, MM selaku Rektor Universitas Amikom Yogyakarta memaparkan, bahwa sejauh ini Amikom telah melakukan riset-riset kolaboratif bidang teknologi dan entrepreneurship untuk mengembangkan dan memperkuat industri kreatif di Indonesia, salah satunya seperti industri film animasi.

“Universitas Amikom Yogyakarta sedang berjuang mewujudkan universitas generasi keempat kelas dunia (World Class University 4.0), dengan menjalin kerjasama dengan perusahaan dunia seperti Hollywood dan perusahaan yang menghuni Silicon Valley di Amerika Serikat,” ungkap Suyanto.

Sementara itu,  Prof. Dr. Cahyo Pamungkas, SE, MSi menyajikan tentang kontribusi ilmu-ilmu sosial terhadap permasalahan kebangsaan Indonesia dan beberapa agenda riset sosial yang perlu dikembangkan, seperti, pembangunan berkelanjutan, inklusivisme, daya saing bangsa, industri kreatif, jejaring industri animasi di Indonesia, desentralisasi, nasionalisme dan fundamentalisme agama serta merumuskan riset tentang IPTEK dan kebudayaan.

Selain itu, lanjut Prof Cahyo, pengembangan kajian soal tata kelola pemerintahan, penguatan jejaring ilmu pengetahuan, infrastruktur, sumber daya manusia juga perlu mendapat perhatian. “Strategi pengembangan ilmu pengetahuan seharusnya lebih reflektif, kritis dan inovatif dengan melibatkan peneliti, akademisi dan stakeholder untuk memetakan agenda riset secara kolektif,” tegas Prof Cahyo.

Hal senada juga disampaikan oleh Dr. Amin Mudzakkir, SS, MHum yang memberikan penekanan bahwa ilmu pengetahuan yang memprioritaskan pada nilai-nilai universal dan solidaritas internasional yang melampaui teritori Negara dan bangsa menjadi diperlukan dalam mengatasi masalah Covid-19.

Menurut Amin Mudzakir, hasil temuan pun diharapkan mampu mampu membuka cakrawala pengetahuan berbagai bangsa dengan cara mendekatkan teori, konsep dan riset ilmiah kepada masyarakat. “Deglobalisasi dinilai menjadi masalah besar yang menjadi tantangan dalam hubungan antarbangsa dan mematikan pengembangan nilai-nilai universal dan solidaritas internasional,” ungkapnya.

Sementara dari sudut pandang Ilmu Pemerintahan, Muhamad Zuhdan, SIP, MA menyoroti, bahwa penanganan Covid-19 seharusnya tidak hanya memusatkan perhatian pada aspek kesehatan semata-mata tetapi juga menyangkut lima hal. Pentingnya riset kolaboratif tentang pengembangan humanitarian governance, agile governance, digital governance, collaborative governance, dan strategic communication sebagai agenda saintifik mengatasi masalah Covid-19.

“Dan yang juga penting adalah membangun konektivitas ilmu pengetahuan antara akademisi, perumus kebijakan dan masyarakat,” pungkas Muhamad Zuhdan.

Aditya Maulana Hasymi, SIP, MA menambahkan dari sisi ilmu hubungan internasional, dengan menyatakan bahwa Covid-19 berdampak signifikan terhadap aktor negara dan non-negara, serta keamanan internasional. Ilmu Hubungan Internasional perlu me-redefinisi keamanan internasional, terutama yang menyangkut keamanan manusia (human security).

“Perlunya bina damai melalui pendekatan “digital peacekeeping” di tengah-tengah pembatasan mobilitas sosial,” kata Aditya.

Menurutnya, pandemi Covid-19 harusnya lebih banyak mendorong aktor-aktor internasional untuk memperkuat multilateralisme maupun regionalisme daripada sekedar mengutamakan kepentingan nasional semata untuk mempertahankan rantai suplai perekonomian global. “Tantangannya adalah bagaimana riset-riset ilmu Hubungan Internasional dapat mewujudkannya,” ujar Aditya.

Selaku moderator kegiatan webinar Hanantyo Sri Nugroho, SIP, MA dalam penutup kegiatan menyimpulkan, bahwa gagasan utama yang disajikan oleh pembicara menekankan bahwa kolaborasi riset berbagai sektor di dalam negara dan dalam konteks jaringan internasional merupakan kunci menghadapi permasalahan dunia yang semakin kompleks. (nun/ ted)