BERNASNEWS.COM —
Bagi penggemar atau penghobi pelihara hewan, khususnya hewan jenis unggas.
Selain burung berkicau, merpati, ayam kate, ayam pelung dan ayam berkisar.
Untuk ayam pelung dan ayam berkisar lebih mengutamakan keindahan suaranya. Kini
ada satu lagi hobi yang menjadikan tren yaitu, pelihara ayam pheasant.
Ayam pheasant bisa disebut juga dengan ayam pegar, jenis ayam ini cukup diminati keberadaannya karena postur fisiknya menyerupai burung. Dan yang membuat ayam pheasant ini dilirik yaitu warna dari bulunya yang cukup indah dan menawan. Hobi pelihara ayam pheasant sangat menyenangkan, bahkan jika dikembangkan untuk diternakan menjadi peluang usaha yang cukup menjanjikan.

Seperti halnya yang dilakukan oleh pria paruh baya bernama Fajar Rokhmad, warga Dusun Candikarang, Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, DIY. Fajar sapaan akrab Fajar Rokhmad saat ditemui Bernasnews.com, Minggu (20/9/2020), mengatakan, bahwa menekuni ternak ayam pheasant sejak tahun 2010, belajar secara otodidak dengan mencari refrensi cara ternak pheasant dari internet. Banyak pengalaman dari belajar sendiri, termasuk pengalaman 15 ekor pheasant yang dimilikinya terbang karena sangkar lupa dikiunci.
“Saya mengembangkan ayam pheasant
sudah sepuluh tahun atau sejak tahun 2010, namun sebelum itu telah 12 tahun
mendalami ternak ayam hias jenis kate, ayam pelung dan ayam berkisar juga ayam
kalkun. Kemudian ketika mulai bosan kerja lapangan, saya putuskan untuk mencari
usaha lain dan akhirnya jatuh pada ternak ayam pheasant ini,” ungkap Fajar.
Dalam mengawali ternak, Fajar memperoleh indukan pheasant impor dari luar negeri
diantaranya dari China, Nepal, Thailand, Taiwan, dan sebagainya. “Setiap Negara
memiliki jenis pheasant, Indonesia
sendiri ada 6 jenis yang berada di hutan Sumetera dan Kalimantan. Semua indukan
atau bibit dari impor itu dibudidayakan dari anak menjadi induk begitu seterusnya
hingga kini,” jelas Fajar.
Tidak disarankan untuk ayam pheasant dilakukan perkawinan
silang karena akan merusak genos dan keaslian jenisnya. Ukuran badan pheasant jantan lebih besar daripada
betinanya. Selain indah dari warna bulunya pada sayap dan leher, juga
tingkahnya seperti menari-nari di kala musim kawin. Untuk makanan seperti jenis
unggas pada umumnya, berupa biji-bijian, serangga dan makanan konsentrat
tertentu.
“Pemberian nutrisi makanan sangat berpengaruh pada warna
bulu pheasant, namun bagi saya lebih sulit pelihara jenis burung kincauan
daripada pelihara ayam pegar atau pheasant. Usia dari bibit sampai bertelor
tergantung dari masing-masing jenis pheasant,
rata-rata berkisar 12-18 bulan. Harga tergantung jenisnya dan kelangkaannya,
serta tingkat kesulitan dalam mengembangkan,” imbuhnya.
Dibilangan Jalan Kaliurang Km 12,5 Kabupaten Sleman bagian tengah, Fajar Rokhmad ternak puluhan jenis ayam pheasant, dengan lahan kurungan bentuk aviary lebih kurang total 600 meter persegi di antara sela-sela rumah kediamannya. Sementara untuk harga bibit pheasant sepasang, Fajar memathok yang termurah Rp 6.000.000 dan termahal berkisar Rp 35.000.000. Anda tertarik? (ted)











