News  

Komisi IX DPR RI Dorong WKRI dan PWKI Magelang Cegah Stunting serta TBC Lewat Germas demi Indonesia Emas 2045

Sosialisasi cegah stunting dan TB dengan Germas menuju Indonesia Emas 2026 di Kabupaten Magelang. (dok. Nindya)

bernasnews – Upaya membangun generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045 terus diperkuat melalui edukasi kesehatan kepada masyarakat.

Sebanyak 185 peserta mengikuti kegiatan Sosialisasi Stunting dan Tuberkulosis (TBC) melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang digelar di Kabupaten Magelang pada Jumat, 10 Juli 2026.

Kegiatan ini menghadirkan Anggota Komisi IX DPR RI Vita Ervina, S.E., M.B.A., Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang dr. Lies Pramudiyanti, M.M., serta Sekretaris Direktorat Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Albertus Yudha Poerwadi, S.E., M.Si., CA., CPMA., CPIA.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak menerapkan pola hidup sehat sebagai langkah mencegah stunting dan TBC sejak dini.

Komisi IX DPR RI Ajak Masyarakat Memulai Hidup Sehat dari Diri Sendiri

Dalam sambutannya, Anggota Komisi IX DPR RI Vita Ervina menegaskan bahwa cita-cita mewujudkan Indonesia Sehat 2045 tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan hidup sehat yang dimulai dari setiap individu.

Ia mengajak agar olahraga tipis-tipis, makan makanan bergizi, kurangi gula. Menurutnya, keluarga menjadi fondasi utama dalam membangun masyarakat yang sehat. Karena itu, peran para ibu sangat penting dalam membentuk kebiasaan hidup sehat di lingkungan keluarga, mulai dari pola makan hingga aktivitas fisik sehari-hari.

Dinas Kesehatan Magelang Jelaskan Penyebab dan Pencegahan Stunting

Pada sesi pemaparan materi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang, dr. Lies Pramudiyanti, M.M., menjelaskan bahwa stunting bukan semata-mata dipengaruhi faktor keturunan, melainkan lebih banyak disebabkan kurangnya asupan protein dan berbagai faktor lingkungan maupun pola pengasuhan.

Ia menerangkan bahwa stunting merupakan kondisi anak yang memiliki tinggi badan lebih pendek dibandingkan standar usianya. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang, salah satu penyebab dominan adalah konsumsi protein yang tidak mencukupi selama masa pertumbuhan.

Selain faktor gizi, pola asuh juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Contohnya, anak yang menangis langsung diberikan telepon genggam sebagai pengalih perhatian, serta kehamilan yang terjadi ketika anak sebelumnya masih berusia di bawah dua tahun sehingga mengganggu pemberian ASI eksklusif.

Ia juga mengingatkan bahwa usia kehamilan ideal tidak melebihi 35 tahun karena kehamilan pada usia tersebut memiliki risiko lebih tinggi. Selain itu, jarak kelahiran yang terlalu dekat atau dikenal dengan istilah “sundul” juga menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko stunting. Paparan asap rokok di lingkungan rumah pun turut berkontribusi terhadap terjadinya stunting.

Dampak Stunting Menghambat Pertumbuhan Fisik dan Kognitif Anak

Dalam pemaparannya, dr. Lies menjelaskan bahwa stunting membawa dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia.

Anak yang mengalami stunting berpotensi memiliki berat badan rendah, perkembangan kognitif yang terhambat, hingga kemampuan motorik yang kurang optimal. Oleh sebab itu, pemeriksaan kesehatan anak secara berkala menjadi langkah penting untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan.

Masyarakat dianjurkan memanfaatkan layanan Posyandu maupun Puskesmas yang secara rutin menyediakan pemeriksaan tumbuh kembang anak.

Menurutnya, pencegahan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, pemerintah, hingga kalangan akademisi.

Dalam menjaga kecukupan gizi keluarga, masyarakat juga dianjurkan menerapkan pedoman makan sehat sesuai konsep “Isi Piringku”.

Aktivitas Fisik dan Pemeriksaan Rutin Jadi Bagian Penting Germas

Selain membahas stunting, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

dr. Lies menekankan bahwa perilaku hidup sehat harus dimulai dari aktivitas sederhana, seperti senam maupun berjalan kaki secara rutin.

Aktivitas fisik memiliki banyak manfaat, antara lain meningkatkan kebugaran jasmani, menjaga berat badan ideal, meningkatkan daya tahan tubuh, serta membantu menurunkan risiko berbagai penyakit. dengan begitu tidak mudah terlular penyakit.

Masyarakat juga diimbau melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, termasuk pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, serta deteksi dini kanker serviks melalui pemeriksaan IVA.

Salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah kadar kolesterol yang dianjurkan berada di bawah angka 200. Seluruh layanan tersebut dapat diperoleh di Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan terdekat.

TBC Penyakit yang Perlu Diwaspadai

Dalam kesempatan yang sama, peserta juga memperoleh edukasi mengenai tuberkulosis (TBC). dr. Lies menjelaskan bahwa penularan TBC berlangsung sangat mudah melalui percikan dahak ketika penderita batuk.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu disertai demam atau meriang.

Pengobatan TBC tersedia di fasilitas kesehatan, baik Puskesmas maupun rumah sakit, dengan masa terapi selama enam bulan yang harus dijalani secara teratur hingga tuntas.

Pencegahan TBC dapat dilakukan melalui penerapan pola hidup sehat, memastikan rumah memiliki ventilasi yang baik, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari paparan asap rokok, mengonsumsi makanan bergizi, serta melakukan vaksinasi bagi anak-anak.

“Germas adalah kunci,” tegasnya.

Berdasarkan Kementerian Kesehatan RI, penyebab utama tuberkulosis adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebar melalui percikan dahak atau droplet saat penderita TBC aktif batuk, bersin, berbicara, tertawa, maupun bernyanyi.

Pencegahan TBC pada anak juga dilakukan melalui pemberian vaksin BCG, memastikan sirkulasi udara rumah berjalan baik, menjauhkan anak dari penderita TBC aktif, serta memberikan Terapi Pencegahan TBC (TPT) apabila anak tinggal serumah dengan pasien TBC.

Kolaborasi Lintas Organisasi Perkuat Gerakan Hidup Sehat di Magelang

Kegiatan sosialisasi ini turut dihadiri Sekretaris Direktorat Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Albertus Yudha Poerwadi, S.E., M.Si., CA., CPMA., CPIA.

Dalam kesempatan tersebut, seluruh peserta diajak memperkuat komitmen menjaga kesehatan melalui konsumsi makanan bergizi dan berserat, menjaga kebersihan lingkungan, serta bersama-sama mencegah stunting maupun tuberkulosis.

Kegiatan yang melibatkan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) dan Persatuan Wanita Kristen Indonesia Kabupaten Magelang ini menjadi bagian dari upaya memperluas Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) agar semakin banyak masyarakat menerapkan pola hidup sehat sebagai investasi menuju Indonesia Emas 2045. (anp)