Ngangkring Tempat Minum Kopi Terkenal Sejak 1971 di Kawasan Canggu Kuta Bali

Suasana tempat ngangkring ngopi di Kawasan Canggu Kuta Bali Rabu Sore 8 Juli 2026. (Z. Bambang Darmadi/ bernasnews)

bernasnews —  Minum kopi atau ngopi sudah bukan lagi kebutuhan namun juga bagian dari gaya hidup (Lifestyle). Tidak sedikit orang yang  memilih  minum kopi di waktu pagi, siang atau malam hari. Kini banyak pilihan tempat ngopi dari kelas UMKM, angkringan, kafe hingga hotel bintang.

Maraknya merek-merek atau brand tempat ngopi semacam Starbucks yang berdiri sejak 30 Maret 1971 di Seattle Washington, Amerikat Serikat. Juga brand global serta lokal ikut mewarnai bisnis tempat ngangkring minum kopi di kota-kota besar di Indonesia.

Sebagai contoh, yang berada di Kawasan Canggu, Kuta, Bali. Tempat ngopi ini bisa dikata relatif ramai, baik di waktu siang, sore dan malam hari tetap saja ramai pengunjung.

Menurut pengamatan bernasnews, parkiran kendaraan roda dua dan roda empat saling silih berganti datang dan pergi dari para pengunjung atau pun wisatawan, Rabu sore (8/8/2026).

Suasana para pengunjung yang sedang ngangkring ngopi di Kawasan Canggu Kuta Bali Rabu Sore 8 Juli 2026 (Z. Bambang Darmadi/ bernasnews)

Ngangkring sambil ngopi, merokok dan makan snack bukan saja dapat untuk melepas dahaga, namun tidak sedikit  waktu ngangkring dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas kerja, saling ngobrol sana sini dan tentunya untuk istirahat sejenak supaya pikiran menjadi lebih fresh lagi.

Memang ada sedikit pandangan yang berbeda di Bali khususnya, bahwa ngankring ngopi di daerah ini hampir 90 persen pengunjungnya adalah wisatawan dari berbagai manca negara. Mereka datang ada yang berpakain lengkap dan rapi, akan tetapi ada juga yang datang dengan pakaian ala kadarnya, berpakaian serba minimalis.

Hal ini membuktikan bahwa ngangkring sambil ngopi juga sudah membudaya di kota- kota lain. Kondisi yang demikian ini ternyata mampu menginspirasi dan menciptakan tumbuhnya UMKM yang menjajakan aneka minuman serba kopi yang semakin menjamur di tingkat kecamatan dan desa.

Dan akhirnya muncul penyerapan tenaga kerja yang positif dalam menopang kondisi ekonomi masyarakat yang lebih baik. (zbd)