Pendaftaran SPMB Gunungkidul 2026 Selesai, Sekolah Negeri Pinggiran Kekurangan Siswa

bernasnews – Pendaftaran Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 di Kabupaten Gunungkidul resmi ditutup.

Sistem pendaftaran daring berjalan lancar, dan ribuan calon peserta didik berhasil mengamankan bangku di SMA serta SMK negeri. Namun, sejumlah sekolah negeri di wilayah pinggiran dilaporkan masih kesulitan memenuhi kuota siswa baru.

Tantangan ini dihadapi hampir setiap tahun oleh sekolah-sekolah yang berada di kawasan perbatasan. Ruang kelas masih menyisakan bangku kosong karena rombongan belajar belum terbentuk sesuai kuota yang ditetapkan.

Kepala Balai Pendidikan Menengah Gunungkidul, Wasidi, menyatakan seluruh tahapan SPMB yang berlangsung pada 22 hingga 25 Juni 2026 berjalan secara online tanpa kendala berarti. Proses pendaftaran hingga pengumuman hasil seleksi selesai sesuai jadwal.

Meski demikian, hasil akhir menunjukkan beberapa sekolah belum mampu memenuhi kebutuhan peserta didik baru.

“Pelaksanaan berjalan lancar, tetapi memang masih ada beberapa sekolah yang kekurangan murid,” kata Wasidi.

Beberapa sekolah yang masih menghadapi kekurangan siswa antara lain SMA Negeri 1 Rongkop, SMK Negeri 1 Girisubo, SMK Negeri 1 Tanjungsari, SMK Negeri 1 Gedangsari, dan SMK Negeri 1 Tepus.

Di SMA Negeri 1 Rongkop, pihak sekolah masih membutuhkan sekitar 28 siswa lagi agar kuota penerimaan terpenuhi.

Faktor Geografis dan Penurunan Jumlah Lulusan

Kondisi serupa terjadi di SMK Negeri 1 Girisubo, di mana beberapa kompetensi keahlian belum menarik jumlah peserta didik sesuai target.

Jurusan Teknik Kendaraan Ringan masih kekurangan delapan siswa, sedangkan Program Akuntansi membutuhkan lima siswa lagi. Adapun jurusan Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT) baru menerima 14 peserta didik.

Menurut Wasidi, letak geografis menjadi salah satu penyebab utama. Sebagian besar sekolah yang kekurangan siswa berada di kawasan perbatasan atau jauh dari pusat aktivitas masyarakat.

Kondisi tersebut membuat banyak lulusan SMP memilih melanjutkan pendidikan ke daerah lain yang dinilai lebih dekat atau memiliki pilihan sekolah yang lebih beragam.

Ia mencontohkan, cukup banyak lulusan SMP di Kapanewon Rongkop yang memilih bersekolah di Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, karena faktor jarak tempuh dan akses transportasi.

Selain faktor lokasi, penurunan jumlah lulusan SMP juga memberikan dampak terhadap penerimaan peserta didik baru di tingkat SMA dan SMK negeri.

“Jumlah lulusan SMP memang semakin terbatas. Selain itu, pilihan sekolah juga semakin banyak sehingga calon siswa memiliki lebih banyak alternatif,” ujar Wasidi.

Secara keseluruhan, pelaksanaan SPMB Gunungkidul Tahun Ajaran 2026/2027 menerima 6.228 peserta didik baru. Sebanyak 2.160 siswa diterima di SMA negeri, sedangkan 4.068 siswa masuk ke SMK negeri.

Peningkatan Minat Siswa di Tengah Tantangan

Kepala SMK Negeri 1 Girisubo, Nugraha Wibowo, mengakui sekolahnya belum berhasil memenuhi kuota penerimaan tahun ini. Namun, ia menilai capaian tersebut tetap menunjukkan perkembangan positif dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Nugraha, jumlah siswa baru pada tahun ini meningkat 23 orang dibandingkan penerimaan tahun 2025. Peningkatan tersebut menjadi tanda bahwa minat masyarakat mulai tumbuh, meskipun belum mampu memenuhi seluruh daya tampung sekolah.

Ia menegaskan bahwa berkurangnya jumlah lulusan SMP menjadi tantangan utama. Di sisi lain, banyak calon peserta didik lebih memilih sekolah di kawasan perkotaan karena fasilitas pendidikan, akses transportasi, dan lingkungan belajar yang dianggap lebih lengkap.

“Animo lulusan SMP memang lebih banyak memilih sekolah di kawasan kota sehingga sekolah yang berada di wilayah pinggiran menghadapi tantangan tersendiri dalam menarik siswa baru,” ujarnya.

Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi dunia pendidikan di Gunungkidul.

Meskipun sistem penerimaan siswa baru telah berjalan modern dan transparan melalui layanan digital, pemerataan jumlah peserta didik di wilayah perbatasan masih memerlukan perhatian lebih lanjut agar kuota rombongan belajar dapat terpenuhi secara seimbang setiap tahunnya. (Eln)