bernasnews — Kebakaran hebat melanda sebuah pabrik pengolahan kopra di Dusun Bunder, Kalurahan Bunder, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Senin (22/6/2026) sekitar pukul 18.00 WIB.
Dalam kejadian itu, sekitar 160 ton kopra dilaporkan hangus terbakar dan kerugian ditaksir mencapai Rp100 juta.
Asap hitam pekat terlihat membumbung tinggi dari area pabrik hingga menarik perhatian warga sekitar. Beberapa warga yang baru menyelesaikan aktivitas sore bergegas keluar rumah setelah melihat kobaran api membesar dari dalam bangunan produksi.
Menurut hasil penyelidikan awal kepolisian, api diduga berasal dari area tungku pengovenan bahan baku kopra yang sedang digunakan saat proses produksi berlangsung.
Api Membesar Saat Proses Produksi Berlangsung
Humas Polsek Patuk, Aipda Purwanto, menjelaskan bahwa aktivitas produksi masih berjalan normal sekitar pukul 17.10 WIB.
Saat itu, sejumlah pekerja tengah melakukan pembakaran bahan baku di tungku pengovenan seperti rutinitas harian.
Namun situasi berubah dalam waktu singkat.
“Pada saat proses pembakaran berlangsung, api tiba-tiba membesar dan merambat ke seluruh bagian pabrik,” ujar Aipda Purwanto.
Para pekerja sempat mencoba memadamkan api menggunakan peralatan yang tersedia di lokasi. Upaya tersebut tidak berhasil karena kobaran api terus membesar dan menyebar ke berbagai sudut bangunan.
Material kopra yang mudah terbakar membuat penyebaran api berlangsung sangat cepat. Dalam beberapa menit, hampir seluruh area pabrik sudah dikuasai kobaran api.
Melihat kondisi yang semakin berbahaya, pekerja akhirnya memilih mengevakuasi diri dan meminta bantuan warga sekitar.
Warga Berdatangan, Petugas Berjibaku Padamkan Api
Suasana Dusun Bunder yang awalnya tenang mendadak berubah ramai.
Teriakan minta tolong dari area pabrik membuat warga berdatangan ke lokasi. Sebagian warga berusaha membantu pemadaman awal, sementara lainnya menghubungi aparat kepolisian dan petugas pemadam kebakaran.
Laporan kebakaran kemudian diterima Polsek Patuk yang langsung mengerahkan personel ke lokasi untuk melakukan pengamanan dan membantu proses penanganan.
Petugas dari Pemadam Kebakaran Kabupaten Gunungkidul, BPBD Gunungkidul, serta anggota kepolisian harus bekerja keras mengendalikan api agar tidak merembet ke area sekitar.
Asap tebal masih terlihat mengepul saat petugas memadamkan titik-titik api yang muncul di antara tumpukan kopra.
Sejumlah warga mengaku kobaran api terlihat sangat cepat membesar. Kondisi itu diduga dipengaruhi banyaknya bahan baku yang tersimpan di dalam bangunan.
Dugaan Penyebab Kebakaran Masih Didalami
Berdasarkan analisis awal, polisi menduga kebakaran dipicu percikan api dari tungku pengovenan yang kemudian memicu akumulasi panas di dalam bangunan.
Selain itu, karakteristik kopra yang memiliki kandungan minyak cukup tinggi turut meningkatkan risiko kebakaran. Aipda Purwanto menjelaskan terdapat beberapa faktor yang diduga mempercepat penyebaran api.
“Percikan api diduga memicu akumulasi panas yang tidak terdeteksi. Kondisi tersebut diperparah oleh tingginya kandungan minyak pada material kopra, kegagalan mengontrol kadar air, serta tata letak penyimpanan yang memungkinkan api cepat menyebar,” jelasnya.
Faktor-faktor tersebut menjadi kombinasi yang sangat berbahaya dalam proses pengolahan kopra. Material yang mengandung minyak tinggi memang memiliki risiko lebih besar untuk terbakar ketika terpapar panas berlebih dalam waktu lama.
Pabrik Baru Beroperasi Tiga Pekan
Fakta lain yang menjadi perhatian aparat adalah usia operasional pabrik yang relatif baru.
Usaha pengolahan kopra milik Hariria Inyong Jodi Pratama, warga Semarang, tersebut diketahui baru beroperasi sekitar tiga minggu sebelum insiden terjadi.
Kondisi itu kini menjadi bagian dari materi penyelidikan untuk mengetahui apakah seluruh sistem keamanan dan standar keselamatan kerja telah diterapkan secara optimal sejak awal operasional.
Dalam industri pengolahan kopra, pengawasan suhu, ventilasi, hingga tata letak penyimpanan menjadi aspek penting karena bahan baku mengandung minyak yang mudah terbakar ketika terpapar panas berlebih.
Tidak Ada Korban Jiwa
Meski kerusakan yang ditimbulkan cukup besar, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Seluruh pekerja berhasil menyelamatkan diri sebelum api menguasai bangunan.
Data sementara menunjukkan sekitar 160 ton kopra ikut terbakar bersama bangunan pabrik. Jumlah tersebut menggambarkan besarnya skala kerugian yang ditanggung akibat kebakaran.
Aparat kepolisian masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab pasti kebakaran dan mengevaluasi sistem pengamanan yang diterapkan di lokasi.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi pelaku industri pengolahan hasil pertanian untuk memperketat standar keselamatan, terutama pada aktivitas produksi yang melibatkan sumber panas dan bahan mudah terbakar.
Di Patuk, satu percikan api diduga cukup untuk memicu kebakaran besar yang menghanguskan ratusan ton kopra dalam satu malam. (Eln)











