bernasnews – Upaya digitalisasi pembayaran retribusi di kawasan wisata Gunungkidul masih menghadapi tantangan di lapangan. Pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah lokasi wisata kerap mengganggu operasional sistem pembayaran non tunai, terutama saat kunjungan wisatawan sedang tinggi.
Kondisi tersebut menjadi pekerjaan tambahan bagi petugas Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) yang harus memastikan layanan tetap berjalan meski jaringan internet mengalami gangguan.
Di TPR Baron, salah satu gerbang utama menuju kawasan pantai selatan Gunungkidul, petugas terlihat terus bergerak melayani kendaraan yang datang silih berganti sejak pagi.
Mobil pribadi, bus pariwisata, hingga rombongan wisatawan masuk hampir tanpa jeda, terutama saat akhir pekan dan musim liburan.
Sistem Non Tunai Dinilai Lebih Aman dan Transparan
Koordinator TPR Baron, Dadang, mengatakan penerapan pembayaran retribusi secara non tunai membawa perubahan besar dalam pengelolaan pendapatan wisata daerah.
Menurutnya, sistem digital membuat transaksi lebih aman karena petugas tidak lagi membawa uang tunai hasil pungutan retribusi.
“Dengan sistem non-tunai ini, petugas tidak lagi membawa uang tunai hasil retribusi. Selain lebih aman, pendapatan juga bisa dipantau secara realtime oleh pihak yang berkepentingan,” kata Dadang.
Setiap transaksi yang dilakukan wisatawan langsung tercatat dalam sistem sehingga proses pengawasan dan pelaporan dapat dilakukan lebih cepat.
Selain meningkatkan transparansi, sistem ini juga mengurangi risiko kesalahan pencatatan yang kerap terjadi pada metode pembayaran konvensional.
Wisatawan pun kini dapat melakukan pembayaran secara elektronik tanpa harus menyiapkan uang tunai sebelum memasuki kawasan wisata.
Listrik Padam Langsung Ganggu Transaksi Digital
Meski membawa banyak kemudahan, operasional sistem non tunai masih sangat bergantung pada pasokan listrik dan kualitas jaringan internet.
Saat listrik padam, perangkat pendukung jaringan ikut terdampak. Akses internet melambat bahkan bisa terputus sehingga proses transaksi menjadi terganggu.
Dalam kondisi tersebut, petugas harus bergerak cepat agar antrean kendaraan tidak semakin panjang.
Terlebih ketika ribuan wisatawan datang hampir bersamaan pada akhir pekan atau masa libur panjang.
Di lapangan, petugas tidak hanya mengawasi transaksi. Mereka juga mengatur arus kendaraan, memberikan informasi kepada pengunjung, serta memastikan pelayanan tetap berjalan lancar.
Ketika jaringan bermasalah, ritme pelayanan yang biasanya cepat bisa melambat dalam hitungan menit.
Belum Memiliki Genset
Dadang mengungkapkan salah satu kendala utama di TPR Baron adalah belum tersedianya generator set (genset) sebagai sumber listrik cadangan.
Akibatnya, ketika terjadi pemadaman listrik, perangkat jaringan tidak dapat beroperasi secara optimal.
“Saat listrik padam, petugas harus segera mencari solusi agar jaringan tetap aktif. Di TPR Baron sendiri belum memiliki genset untuk menghidupkan perangkat pendukung jaringan. Sementara sinyal di lokasi ini juga masih cukup terbatas tanpa dukungan wifi,” ujarnya.
Kondisi geografis kawasan wisata yang berada cukup jauh dari pusat kota juga menjadi tantangan tersendiri dalam penyediaan jaringan internet yang stabil.
Tidak jarang petugas harus melakukan berbagai langkah alternatif agar sistem pembayaran tetap bisa digunakan oleh wisatawan.
Infrastruktur Jadi Kunci Keberhasilan Digitalisasi
Digitalisasi layanan wisata menjadi salah satu program yang terus didorong Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.
Namun, keberhasilan transformasi tersebut tidak hanya bergantung pada kesiapan sumber daya manusia maupun aplikasi pembayaran yang digunakan.
Ketersediaan listrik yang andal dan kualitas jaringan internet menjadi faktor penting yang menentukan kelancaran layanan.
Saat ini, jumlah kunjungan wisata ke pantai-pantai Gunungkidul terus menunjukkan tren positif. Pada akhir pekan, ribuan kendaraan dapat melintas dalam sehari melalui berbagai pintu masuk wisata.
Lonjakan tersebut membuat kebutuhan terhadap sistem pembayaran yang cepat dan stabil semakin mendesak.
Dukungan Infrastruktur yang Dibutuhkan
Beberapa kebutuhan yang dinilai penting untuk mendukung layanan digital di TPR antara lain:
- Penyediaan genset sebagai sumber listrik cadangan
- Penguatan jaringan internet di kawasan wisata
- Penambahan perangkat pendukung transaksi digital
- Peningkatan kapasitas jaringan saat musim liburan
- Dukungan wifi di titik pelayanan wisata
Dadang berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kebutuhan tersebut agar pelayanan wisata semakin optimal.
“Harapannya ke depan ada dukungan tambahan berupa genset maupun penguatan infrastruktur jaringan internet agar pelayanan kepada wisatawan semakin optimal,” tandasnya.
Wisatawan Menuntut Layanan Cepat
Di tengah meningkatnya kunjungan wisata ke pantai-pantai Gunungkidul, ekspektasi wisatawan terhadap kualitas layanan juga semakin tinggi.
Pengunjung kini tidak hanya mencari destinasi yang indah, tetapi juga proses masuk kawasan wisata yang praktis dan cepat.
Hingga saat ini, sistem pembayaran non tunai di TPR wisata Gunungkidul tetap berjalan.
Namun persoalan listrik dan jaringan internet masih menjadi tantangan yang perlu segera diatasi agar modernisasi layanan wisata dapat berlangsung maksimal dan memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi wisatawan.












