bernasnews — Diskusi Komunikasi Magister Universitas Gadjah Mada (Diskoma UGM) edisi ke-30 bertajuk “Healthy or Trendy? Pengaruh Komunikasi Kesehatan terhadap Lifestyle Generasi Muda” belangsung di Auditorium Mandiri Lantai 4 FISIPOL UGM, Sabtu, 6 Juni 2026.
Berbeda dari edisi sebelumnya yang berlangsung daring, kegiatan kali ini diselenggarakan secara luring dengan menghadirkan Prof. Dr. Ana Nadhya Abrar, M.E.S. selaku dosen senior Departemen Ilmu Komunikasi UGM, dan dr. Rianti Maharani, M.Si., FINEM, AIFO-K, selaku praktisi tenaga kesehatan sekaligus influencer kesehatan.
Tema “Healthy or Trendy? Pengaruh Komunikasi Kesehatan terhadap Lifestyle Generasi Muda” diangkat untuk merespons derasnya arus informasi kesehatan di media sosial, mulai dari pola makan, olahraga, kebiasaan harian, hingga kesehatan mental yang berbenturan dengan realitas generasi muda yang dituntut produktif hingga melahirkan budaya hustle, kurang istirahat, dan pola makan instan.
Di tengah lonjakan konten edukasi kesehatan pascapandemi COVID-19, tantangan terbesar saat ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi yang sulit diverifikasi. Mengusung payung besar “Voice of Health: Speak Healthy, Spread Impact”.
Edisi ke-30 ini terdiri atas tiga rangkaian acara: pameran poster ilmiah Communication Highlight & Poster Exhibition hasil kolaborasi dengan Korps Mahasiswa Komunikasi (KOMAKO) S1 Ilmu Komunikasi UGM, seminar komunikasi kesehatan, dan pelatihan penulisan artikel populer.
Acara dibuka dengan sambutan Ketua Diskoma, Debbie Pradhita, yang menegaskan bahwa edisi ini dirancang khusus agar pengetahuan kesehatan dapat dipahami masyarakat secara lebih akurat dan dekat dengan keseharian.
Ia berharap seluruh rangkaian acara mampu membumikan gagasan-gagasan akademis sehingga dapat diterima oleh masyarakat luas.
Sementara itu, perwakilan Program Studi Magister Ilmu Komunikasi UGM, Pratiwi Utami, Ph.D., menyoroti urgensi komunikasi kesehatan di tengah banjir informasi pascapandemi COVID-19.
Menurutnya, pandemi menjadi titik tolak yang mendorong para ahli komunikasi dan kesehatan untuk memikirkan ulang cara menyampaikan pesan kesehatan sekaligus menampik hoaks.
Ia juga menekankan keistimewaan edisi ke-30 yang berkolaborasi lintas jenjang, dari S1 hingga S3, sebagai upaya membangun iklim akademik yang inklusif.
Sebagai dosen senior Departemen Ilmu Komunikasi UGM, Prof. Ana Nadhya Abrar, yang akrab disapa Bang Abrar, membuka paparannya dengan temuan yang mengkhawatirkan bahwa Generasi Z berpotensi menjadi generasi pertama yang mengalami penurunan kapasitas kognitif.
Ia menautkan fenomena ini dengan brain rot akibat tingginya durasi screen time. Pola adiktif tersebut, jelasnya, dipicu oleh pelepasan hormon dopamin saat berinteraksi di media sosial, lalu diperkuat oleh cara kerja algoritma, polarisasi audiens, hingga melemahnya pemikirankritis.
“Kondisi inilah yang membuat media sosial seolah mampu mengontrol dan mengawasi penggunanya,” tuturnya.
Berdasarkan riset yang ia lakukan terhadap mahasiswa, Bang Abrar menemukan pengaruh media sosial yang tinggi, khususnya pada perubahan perilaku yang tidak substansif. Di sinilah menurutnya kajian komunikasi berperan, yakni mengkritisi dangkalnya perubahan perilaku dan rendahnya literasi media.
Baginya, kunci utama menghadapi situasi ini adalah kesadaran generasi muda atas otoritas dirinya sendiri. “Yang paling penting saat ini adalah Generasi Z memiliki otoritas diri. Karena media sosial sekarang mampu mengontrol dan mengawasi penggunanya, Generasi Z memerlukan kesadaran atas otoritas akan dirinya,” tegasnya.
Melengkapi perspektif akademik, dr. Rianti Maharani, M.Si., FINEM, AIFO-K, yang dikenal sebagai praktisi kesehatan dan content creator edukasi kesehatan, memaparkan sisi praktis komunikasi kesehatan. Ia menegaskan bahwa tantangan hari ini bukanlah kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi, dengan hoaks yang menyebar sangat cepat di media sosial.
Menurutnya, media sosial membentuk perilaku Generasi Z melalui rangkaian proses, mulai dari algoritma yang menentukan gaya hidup, perubahan persepsi, perubahan keyakinan, hingga perubahan perilaku.
Rianti turut membagikan enam rantai perubahan gaya hidup, dari pengetahuan, sikap, niat, tindakan, kebiasaan, hingga gaya hidup yang menurutnya perlu diinternalisasi setidaknyaselama 90 hari. Ia juga menekankan bahwa kredibilitas menjadi modal utama seorang komunikator kesehatan.
“Cara untuk meyakinkan orang lain adalah dengan meyakinkan diri sendiri terlebih dahulu, oleh sebab itu saya menambah kompetensi yaitu dengan melanjutakan pendidikan hingga studi doctoral di FK-KMK-UGM untuk memberikan informasi kesehatan kepada orang lain,” ujarnya.
Ia pun menutup paparannya dengan pesan ringkas, “Small habits, big impact. Perubahan kecil yang berkelanjutan.”
Antusiasme peserta tampak dari derasnya pertanyaan dalam sesi diskusi yang menyentuh beragam isu, mulai dari fenomena slacktivism, strategi dopamin detoks, pentingnya kualitas tidur, self diagnosis, hingga motivasi yang berbasis rasa takut atau penghargaan.
Seminar yang dihadiri lebih dari 85 peserta dari beragam institusi ini, di antaranya Dinas Kesehatan Kota, Puskesmas Depok 3, Health Promoting University, FK-KMK UGM, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) UGM, sejumlah SMA dan SMK, serta mahasiswa dan alumni UGM, menegaskan kebutuhan akan ruang diskusi yang mempertemukan akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Hingga 2026, Diskoma telah menyelenggarakan 30 edisi diskusi dengan beragam tema strategis di bidang komunikasi. Rangkaian acara dilanjutkan dengan pelatihan penulisan artikel populer bersama Moch. Taufik Hidayatullah, M.A., dosen Universitas Multimedia Nusantara (UMN), alumni Magister Ilmu Komunikasi UGM, sekaligus mahasiswa doktoral Ilmu Komunikasi UGM.
Pelatihan ini diikuti oleh 24 peserta yang terdiri atas kontributor Communication Highlight & Poster Exhibition, serta peserta umum. Kegiatan ini dirancang untuk mendukung tujuan besar edisi ke-30, yaitu membumikan gagasan akademik agar lebih mudah dipahami masyarakat luas melalui tulisan populer.
Ia menyoroti ironi banyaknya gagasan akademik yang mati tanpa pernah dibaca publik karena artikel populer kerap dianggap dangkal, padahal kata “populer” secara harfiah berarti “milik semua orang”. Taufik memaparkan tiga pilar penulisan artikel populer, yakni mengasah storytelling, mengenali karakteristik publik, dan mengenali karakteristik media, seraya mengutip Marshall McLuhan, “the medium is the message”.
Tidak berhenti pada teori, peserta turut mempraktikkan langsung penulisan artikel populer dalam sesi pelatihan. Dua di antaranya kemudian mempresentasikan hasil latihan tulisannya dan memperoleh umpan balik langsung dari Taufik.
Sebagai penutup, Diskoma juga memberikan apresiasi kepada para peserta melalui sesi awarding bagi karya terbaik dalam Communication Highlight & Poster Exhibition. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi peserta dalam menerjemahkan isu-isu komunikasi dan kesehatan ke dalam bentuk karya yang lebih dekat dengan masyarakat.
Melalui Diskoma edisi ke-30 ini, para narasumber sepakat bahwa di tengah membanjirnya informasi kesehatan, yang paling dibutuhkan generasi muda bukanlah lebih banyak konten, melainkan kesadaran kritis dan otoritas atas diri sendiri untuk memilah mana yang benar-benar sehat dan mana yang sekadar tren. (nun/ Dwi Apriliyanti)












