bernasnews – Konflik lama yang diduga telah berlangsung bertahun-tahun berujung pada aksi kekerasan brutal di wilayah Gamping, Kabupaten Sleman.
Seorang pria berinisial STN (41) mengalami sedikitnya 12 luka bacokan setelah didatangi sekelompok orang di rumahnya pada Minggu dini hari.
Tak hanya mengalami luka akibat senjata tajam, korban juga diduga menjadi korban pengeroyokan hingga penganiayaan lanjutan saat berada di rumah sakit.
Kasus yang kini ditangani Polresta Sleman itu masih terus dikembangkan untuk mengungkap seluruh pihak yang terlibat.
Dini Hari yang Berubah Menjadi Mimpi Buruk
Malam masih gelap ketika peristiwa itu bermula. Sekitar pukul 02.30 WIB pada 7 Juni 2026 lalu, tersangka LFC (38) bersama adiknya, CP, sedang berada di sebuah pos ronda di kawasan Gamping.
Di tengah suasana malam yang tenang, keduanya didatangi seorang pria berinisial GS. Pertemuan tersebut ternyata menjadi awal rangkaian peristiwa yang berujung pada pertumpahan darah.
Menurut keterangan Kanit Reskrim Polresta Sleman, AKP Mateus Wiwit Kustiyasi, GS mengajak kedua bersaudara itu membahas persoalan lama yang melibatkan korban.
Percakapan yang berlangsung di pos ronda tersebut berujung pada kesepakatan untuk mendatangi rumah korban dengan alasan melakukan klarifikasi. Namun, keputusan yang awalnya disebut sebagai upaya meminta penjelasan justru berubah menjadi aksi kekerasan yang mengerikan.
Gonggongan Anjing Menjadi Pertanda Datangnya Bahaya
Pada saat kelompok tersebut mendatangi rumah korban, STN diketahui sedang berada di rumah tetangganya.
Tidak lama kemudian, korban mendengar suara anjing menggonggong dari arah rumahnya. Suara itu membuatnya curiga. Korban pun segera pulang untuk memastikan keadaan.
Sesampainya di rumah, kecurigaan korban terbukti. Ia mendapati sejumlah orang telah berada di depan rumahnya.
Bahkan sebagian di antaranya sudah memasuki area rumah. Situasi yang awalnya hanya dipenuhi ketegangan perlahan berubah menjadi ancaman nyata.
Istri Korban Berusaha Menyelamatkan Diri
Di tengah suasana yang semakin tidak menentu, istri korban melihat sejumlah orang berada di sekitar rumah. Kondisi itu membuat situasi semakin mencekam.
Korban kemudian meminta istrinya masuk kembali ke dalam kamar demi keselamatannya. Langkah itu menjadi upaya untuk melindungi keluarga dari kemungkinan terjadinya sesuatu yang lebih buruk.
“Sementara itu, korban menghadapi kelompok yang datang ke rumahnya,” ujarnya.
Tak lama kemudian, adu mulut pecah. Ketegangan yang semula hanya berupa perdebatan verbal berubah menjadi konflik terbuka yang sulit dikendalikan.
Celurit Menjadi Awal Pertumpahan Darah
Dalam pemeriksaan yang dilakukan penyidik, para pelaku mengaku korban keluar rumah sambil membawa celurit.
Kehadiran senjata tajam tersebut membuat situasi semakin berbahaya. Keributan yang terjadi kemudian berubah menjadi perkelahian.
Di tengah kekacauan itu, LFC dan CP berhasil merebut celurit yang dibawa korban. Namun, setelah senjata tersebut berpindah tangan, situasi justru berubah jauh lebih brutal.
Polisi menduga korban kemudian menjadi sasaran penganiayaan secara bersama-sama. Bacokan demi bacokan menghantam tubuh korban tanpa ampun.
Hasil penyelidikan menunjukkan korban mengalami sedikitnya 12 luka bacokan yang tersebar di sejumlah bagian tubuh. Selain luka akibat senjata tajam, korban juga mengalami luka memar yang mengindikasikan adanya aksi pengeroyokan.
Sementara itu, dalam proses perebutan celurit, LFC mengalami luka pada jari tangan kiri. GS juga mengalami luka pada pergelangan tangan kanan akibat sabetan senjata tersebut.
Penganiayaan Berlanjut hingga Rumah Sakit
Fakta yang terungkap dalam penyelidikan membuat kasus ini semakin mengejutkan. Setelah mengalami luka serius, korban sempat dibawa ke rumah sakit oleh para pelaku.
Namun dugaan kekerasan ternyata tidak berhenti di lokasi kejadian. Polisi mengungkap adanya dugaan penganiayaan lanjutan terhadap korban saat berada di rumah sakit.
Dalam kondisi tubuh penuh luka dan menahan rasa sakit, korban berusaha menyelamatkan diri. Korban akhirnya berhasil melarikan diri dari rumah sakit dan pulang ke rumah.
Setelah itu, korban mendapatkan penanganan medis di RSA UGM untuk mengobati luka-luka serius yang dideritanya. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian yang kini terus didalami penyidik guna memastikan kronologi secara utuh.
Laporan Polisi dan Teror Susulan
Beberapa jam setelah kejadian, istri korban mendatangi kantor polisi untuk melaporkan peristiwa penganiayaan yang menimpa suaminya.
Namun teror belum berakhir. Pada hari yang sama, rumah korban kembali didatangi sekelompok orang.
Kali ini, kelompok tersebut diduga melakukan aksi perusakan. Kedatangan kelompok kedua itu menimbulkan pertanyaan baru dalam proses penyelidikan.
Polisi kini berusaha mengungkap apakah kelompok yang melakukan perusakan memiliki keterkaitan dengan para pelaku penganiayaan atau merupakan kelompok berbeda yang memiliki hubungan dengan konflik tersebut.
Polisi Bergerak Cepat Memburu Para Pelaku
Setelah menerima laporan dan mengumpulkan sejumlah keterangan saksi, polisi bergerak cepat melakukan penyelidikan. Pada hari yang sama, petugas berhasil menangkap LFC di wilayah Gamping.
Sementara itu, satu tersangka lainnya, CP, hingga kini masih dalam pengejaran aparat kepolisian.
Penyidik juga terus mengembangkan kasus tersebut untuk mengidentifikasi kemungkinan keterlibatan pihak lain yang berada di lokasi saat kejadian berlangsung.
Video di Ponsel Korban Ungkap Dugaan Motif Dendam
Penyelidikan sementara mengarah pada satu kesimpulan penting. Polisi menduga aksi penganiayaan tersebut dipicu oleh dendam lama antara korban dan para pelaku.
Dugaan itu diperkuat dengan temuan video yang tersimpan di telepon genggam korban. Video tersebut diduga berisi tantangan atau ungkapan ketidaksenangan yang berkaitan dengan hubungan korban dan pelaku.
Temuan itu menjadi salah satu petunjuk yang kini sedang didalami penyidik untuk mengurai akar konflik yang. Meski demikian, polisi masih terus mengumpulkan alat bukti tambahan guna memastikan motif secara lengkap dan objektif.
Polisi Masih Buru Pelaku Lain
Kasus penganiayaan berat di Gamping tak hanya menyisakan luka fisik bagi korban.
Rangkaian peristiwa mulai dari pembacokan, dugaan pengeroyokan, penganiayaan di rumah sakit, hingga aksi perusakan rumah menunjukkan adanya konflik yang lebih kompleks.
Polisi kini masih memburu pelaku yang belum tertangkap serta mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain. Sejumlah pertanyaan masih menunggu jawaban.
Bagaimana konflik lama itu bermula, siapa saja yang terlibat, serta mengapa kekerasan terus berlanjut hingga setelah korban mendapatkan pertolongan medis.
Jawaban atas pertanyaan tersebut diharapkan terungkap seiring berjalannya proses penyidikan. (Eln)












