bernasnews – Memasuki bulan Muharram 1448 Hijriah yang bertepatan dengan Tahun Baru Islam 2026, umat Islam diajak menjadikan pergantian tahun sebagai momentum evaluasi diri, memperkuat ketakwaan, serta memperbarui semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.
Bulan Muharram yang termasuk salah satu bulan mulia dalam Islam mengingatkan kembali pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, sebuah perjalanan yang sarat dengan nilai perjuangan, pengorbanan, dan keimanan.
Pesan tersebut menjadi tema utama dalam naskah khutbah Jumat 12 Juni 2026 yang mengajak jemaah meningkatkan kualitas ibadah dan memanfaatkan waktu kehidupan secara lebih bermakna.
Muharram Menjadi Awal Refleksi dan Perbaikan Diri
Khutbah Jumat kali ini menekankan bahwa datangnya bulan Muharram bukan sekadar penanda pergantian kalender Hijriah, melainkan kesempatan bagi setiap Muslim untuk melakukan introspeksi atau muhasabah terhadap perjalanan hidup selama setahun terakhir.
Dalam khutbah disebutkan bahwa manusia sejatinya sedang membuka lembaran baru kehidupan. Sebelum mengisi halaman baru tersebut dengan berbagai rencana dan harapan, setiap individu dianjurkan menilai kembali apa yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya.
Kebaikan yang telah dilakukan perlu ditingkatkan, sedangkan kesalahan dan kebiasaan yang kurang bermanfaat harus ditinggalkan agar kualitas hidup terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.
Pesan ini sejalan dengan anjuran Islam yang menghendaki umatnya selalu bergerak menuju kondisi yang lebih baik, baik dalam aspek ibadah, akhlak, maupun kehidupan sosial.
Hadis Rasulullah tentang Pentingnya Menjadi Lebih Baik Setiap Hari
Khutbah mengutip sabda Rasulullah SAW yang mengingatkan pentingnya peningkatan kualitas diri secara berkelanjutan.
“Barangsiapa hari ini lebih dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi, dan Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang celaka.” (HR. Hakim)
Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa seorang Muslim tidak boleh merasa puas dengan capaian yang telah diraih. Setiap pergantian waktu, termasuk pergantian tahun Hijriah, seharusnya menjadi pendorong untuk meningkatkan kualitas keimanan dan amal saleh.
Selain itu, bertambahnya usia juga berarti berkurangnya jatah kehidupan di dunia. Karena itu, setiap waktu yang diberikan Allah SWT perlu dimanfaatkan untuk hal-hal yang bernilai ibadah dan membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Pergantian Tahun Mengingatkan Pentingnya Mengelola Waktu
Dalam khutbah juga dijelaskan bahwa pergantian tahun merupakan pengingat akan nilai waktu dalam kehidupan manusia. Waktu bukan sekadar rangkaian hari dan bulan yang berlalu, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa setiap manusia kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas umurnya, masa mudanya, hartanya, dan ilmunya. Karena itu, waktu tidak boleh disia-siakan untuk perkara yang tidak memberikan manfaat.
Pesan tersebut diperkuat dengan nasihat Imam Hasan Al-Bashri yang menyatakan bahwa setiap hari yang berlalu sesungguhnya mengurangi bagian kehidupan manusia. Oleh sebab itu, muhasabah menjadi langkah penting agar setiap Muslim dapat memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kualitas amalnya.
Tahun baru sering kali identik dengan berbagai target dan rencana kehidupan. Dalam khutbah dijelaskan bahwa membuat perencanaan merupakan hal yang baik selama dilakukan secara realistis dan disertai usaha yang sungguh-sungguh.
Jemaah diingatkan agar tidak terjebak pada angan-angan yang terlalu panjang atau target yang sulit diwujudkan sehingga justru menjadi beban. Yang lebih penting adalah menjalani proses dengan maksimal, terus berikhtiar, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT melalui sikap tawakal.
Tawakal dijelaskan sebagai bentuk kepasrahan kepada Allah setelah seluruh usaha dilakukan secara optimal. Sikap ini menjadi bukti keimanan sekaligus sumber kekuatan batin yang mampu menumbuhkan optimisme dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Dengan tawakal, seorang Muslim tidak mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya, ia tetap yakin bahwa Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan usaha yang dilakukan hamba-Nya.
Kesabaran Menjadi Kunci Menghadapi Ujian Kehidupan
Khutbah juga mengingatkan bahwa tidak semua harapan dan usaha akan langsung membuahkan hasil sesuai keinginan. Ada kalanya seseorang menghadapi kegagalan, penundaan keberhasilan, atau berbagai bentuk ujian yang datang silih berganti.
Dalam situasi tersebut, umat Islam diajak untuk tetap sabar, memperbaiki diri, dan meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT.
Pesan itu diperkuat dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 155:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat tersebut menegaskan bahwa ujian merupakan bagian dari kehidupan manusia. Namun, Allah SWT juga menjanjikan kabar gembira bagi mereka yang mampu bersabar dan tetap teguh dalam keimanan.
Muharram Menjadi Momentum Hijrah Spiritual
Melalui khutbah Jumat 12 Juni 2026 tentang bulan Muharram, jemaah diajak menjadikan Tahun Baru Islam sebagai sarana memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Semangat hijrah yang diwariskan Rasulullah SAW tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, tetapi juga perubahan menuju pribadi yang lebih baik. Hijrah dapat diwujudkan dengan meninggalkan kebiasaan buruk, memperbanyak ibadah, meningkatkan kepedulian sosial, serta memanfaatkan waktu secara produktif.
Dengan semangat tersebut, pergantian tahun Hijriah diharapkan menjadi titik awal lahirnya pribadi-pribadi yang lebih bertakwa, lebih sabar, dan lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa mendatang. (anp)











