bernasnews – Peluncuran buku sastra seni rupa: “Negara Merobek Selimut Ibuku” akan dilaksanakan di Sanggar Keselatan, Jalan Langenarjan Lor. No. 8. Kemantern Kraton. Yogyakarta. Jumat (5/6/2026) pukul 15.00 WIB. Acara kemudian dilanjutkan pameran lukisan sampai tanggal 1 Juli 2026. Ini merupakan kerja sama Komunitas Budaya Guntur 49, Jakarta; Keboeranu (Keboedayaan Rakyat Nusantara) Yogyakarta; dan Sanggar Keselatan, Yogyakarta.
“Negara Merobek Selimut Ibuku” merupakan proses kreatif yang tumbuh dan berkembang menjadi proyek sastra seni rupa bertema kolektif: “Negara Merobek Selimut Ibuku”. Satu tema digarap tiga penulis yakni Kamerad Kanjeng, Isti Nugroho dan Indra Tranggono; serta tiga pelukis : Moelyono; Rudi Winarso dan Harjiman.
Pelukis menggarap tema itu menjadi lukisan, sedangkan penulis menggarap tema itu menjadi cerita pendek. Ini adalah kolaborasi kreatif penulis dan pelukis dalam posisi setara, sebagai sesama subyek dalam senirupa dan sastra.
SUMBER DAYA PAPUA
Moelyono, pelukis asal Tulung Agung, Jawa Timur, telah lebih dari separuh usianya menggeluti seni rupa. Tamatan Fakultas Seni Lukis ISI (Institut Seni Indonesia), dulu mazih STSRI ASRI, Gampingan, Yogyakarta; telah menerima penghargaan senirupa nasional dan International.
Dia memandang kaum pendatang di Papua telah dan laju menguras sumber daya alam Papua tanpa menghiraukan kepentingan penghuni Papua. Hutan sebagai ibu bagi kaum penghuni Papua dibabat habis dengan restu Negara. Sehingga boleh dikata “Negara Merobek Selimut Ibu”, tema bersama kolaborasi sastra senirupa ini. Lukisan Moelyono kita letakkan sebagai cover buku ini
Rudi Winarso, master tamatan ISI Yogyakarta, penemu coffe painting. Melukis tidak dengan minyak cata atau akrilik, melainkan dengan kopi.
Seni lukis diklaim sebagai kebudayaan Eropa. Dibuktikan dengan temuan lukisan cadas di dinding gua El Castillo, Spanyol yang berusia sekitar 40 ribu tahun. Dan di gua Chauvet, Perancis, berusia sekitar 30 ribu tahun. Klaim itu gugur dengan serangkaian temuan lukisan cadas tertua di dunia di Gua Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, Indonesia berusia sekitar 67.800 tahun.
Di Leang Karampuang, Maros, Pangkep, Sulawesi Selatan, berusia sekitar 51.200 tahun. Di Leang Tedongnge, Pangkep, Sulawesi Selatan, berusia sekitar 45.500 tahun. Lukisan itu menampilkan babi kutilang Sulawesi dan cap tangan yang menjadi salah satu lukisan figuratif hewan tertua di dunia.
Selain itu juga ada temuan dDi Lubang Jeriji Saleh, Kalimantan Timur, yang berusia sekitar 40.000 tahun. Dengan demikian, seni lukis Nusantara 20 ribu tahun lebih tua dari Eropa. Namun kebudayaan seni Lukis di Eropa laju berkembang. Sedangkan kebudayaan seni lukis di Nusantara terputus oleh dominasi kebudayaan pendatang yang menjajah Nusantara.
Rudi dan Keboeranu ingin melanjutkan dialektika kebudayaan Nusantara yang terputus oleh penjajah pendatang tersebut. Temuan lukisan cadas di Indonesia telah membuktikan bahwa cat organik Nusantara memiliki daya tahan puluhan ribu tahun.
Serangkaian percobaan dan penelitian laboratorium akan dilakukan untuk menggali potensi bahan-bahan organik Nusantara menggantikan cat minyak. Dengan cat organik dari bahan kopi; sirih pinang; kunyit; gambir; kepompong ulat jati; sayap serangga terbang yang penuh warna; kulit pohon mangga; dan ubi-ubian, dan lain-lain.
REVOLUSI SENI LUKIS
Harjiman adalah pelukis paling serba bisa yang dilahirkan semesta dari kegelapan masa silam. Debutnya melukis ulang “Angel of Death” karya Verne (Perancis) sebagai penebusan masa silamnya yang amat kelam. Melukis baginya adalah penebusan dosa.
Masa kecilnya dihabiskan di desa hutan lereng pegunungan di Jawa. Dia pindah ke Jakarta ikut orangtuanya dan mulai belajar senirupa.
Harjiman menampilkan ulang lukisan Raden Saleh tentang Perang Jawa. Penangkapan Diponegoro ditafsirnya sebagai “negara merobek selimut ibunya”. Kejahatan Negara yang berbuntut panjang dalam sejarah penindasan penjajahan bangsa-bangsa Nusantara. (mar/Kamerad Kanjeng. Penulis)












