bernasnews – Doa Rosario Hari Selasa, 2 Juni 2026, mengajak umat Katolik untuk merenungkan Peristiwa Sedih, yaitu rangkaian peristiwa sengsara yang dialami Yesus Kristus menjelang wafat-Nya di kayu salib.
Melalui doa ini, umat diajak semakin mendekat kepada Yesus melalui perantaraan Bunda Maria sekaligus memahami makna pengorbanan, ketaatan, dan kasih Allah yang begitu besar bagi keselamatan manusia.
Peristiwa Sedih menjadi bagian penting dalam devosi Rosario yang didaraskan setiap hari Selasa dan Jumat. Dalam permenungan ini, umat mengenang perjalanan penderitaan Kristus mulai dari doa-Nya di Taman Getsemani hingga wafat-Nya di Golgota.
Setiap peristiwa mengandung pesan iman yang mengajarkan keteguhan hati, pengampunan, kerendahan hati, dan kesediaan memikul salib kehidupan.
Melalui Peristiwa Sedih, umat Katolik diajak untuk memasuki misteri penderitaan Kristus yang dijalani demi menebus dosa manusia. Perjalanan sengsara tersebut bukan sekadar kisah sejarah iman, melainkan sumber inspirasi untuk menjalani kehidupan dengan penuh kasih dan kesetiaan kepada kehendak Allah.
Peristiwa-peristiwa yang direnungkan menunjukkan bagaimana Yesus tetap taat kepada Bapa meski harus menghadapi penderitaan yang berat. Dari sana, umat diajak belajar untuk tetap percaya kepada Tuhan dalam setiap situasi kehidupan.
Tata Cara Pembukaan Doa Rosario
Doa Rosario diawali dengan Tanda Salib, dilanjutkan dengan doa Aku Percaya, Kemuliaan, Bapa Kami, tiga Salam Maria, dan doa-doa pembuka lainnya sebagai bentuk penghormatan kepada Allah Tritunggal Mahakudus serta Bunda Maria.
Rangkaian doa pembuka tersebut menjadi persiapan rohani sebelum umat memasuki permenungan lima Peristiwa Sedih.
Peristiwa Sedih Pertama: Yesus Berdoa di Taman Getsemani
Peristiwa pertama mengenang saat Yesus berdoa kepada Bapa-Nya menjelang sengsara yang akan dialami.
Dalam Injil Matius 26:39 tertulis:
“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau berkenan, ambilah cawan ini dari hadapan-Ku, tetapi janganlah menurut kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi.”
Peristiwa ini mengajarkan tentang ketaatan sempurna kepada kehendak Allah meskipun harus menghadapi penderitaan. Umat diajak memohon kekuatan agar mampu setia kepada Tuhan dalam setiap pencobaan hidup.
Setelah permenungan, didaraskan doa Bapa Kami, sepuluh kali Salam Maria, Kemuliaan, Terpujilah, dan Doa Fatima.
Peristiwa Sedih Kedua: Yesus Didera
Peristiwa kedua mengenang penyiksaan yang diterima Yesus setelah ditangkap.
Dalam Injil Markus 15:19-20a disebutkan:
“Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia, mereka menanggalkan jubah ungu yang dipakai-Nya dan mengenakan lagi pakaian-Nya kepada-Nya.”
Peristiwa ini mengingatkan umat akan besarnya pengorbanan Kristus. Melalui permenungan ini, umat diajak memohon rahmat agar mampu memikul salib kehidupan dengan penuh kasih dan kesabaran.
Sebagaimana tradisi Rosario, peristiwa ini diikuti dengan doa Bapa Kami, sepuluh Salam Maria, Kemuliaan, Terpujilah, dan Doa Fatima.
Peristiwa Sedih Ketiga: Yesus Dimahkotai Duri
Peristiwa ketiga mengenang penghinaan yang diterima Yesus ketika para serdadu memahkotai-Nya dengan duri.
Dalam Markus 15:17-18 tertulis:
“Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya diatas kepala-Nya. Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya, katanya, ‘Salam, hai raja orang Yahudi!’”
Meski dihina dan disakiti, Yesus tidak membalas dengan kebencian. Peristiwa ini mengajarkan pentingnya pengampunan dan kasih kepada sesama, termasuk kepada mereka yang menyakiti.
Seperti peristiwa sebelumnya, umat melanjutkan permenungan dengan doa Bapa Kami, sepuluh Salam Maria, Kemuliaan, Terpujilah, dan Doa Fatima.
Peristiwa Sedih Keempat: Yesus Memanggul Salib ke Gunung Kalvari
Peristiwa keempat mengenang perjalanan Yesus menuju Golgota sambil memikul salib-Nya sendiri.
Dalam peristiwa ini, umat diajak merenungkan kesetiaan Yesus yang tetap melangkah menuju tempat penyaliban meskipun harus menanggung penderitaan yang luar biasa berat.
Perjalanan menuju Kalvari menjadi simbol perjuangan hidup yang harus dijalani dengan iman, kesabaran, dan keteguhan hati. Umat diajak memohon kekuatan agar mampu memikul salib kehidupan sehari-hari dengan penuh pengharapan.
Rangkaian doa yang sama kembali didaraskan setelah permenungan peristiwa ini.
Peristiwa Sedih Kelima: Yesus Wafat di Kayu Salib
Peristiwa terakhir dalam Rosario Hari Selasa adalah mengenang wafat Yesus di kayu salib demi keselamatan dunia.
Pengorbanan Kristus menjadi puncak kasih Allah kepada manusia. Melalui kematian-Nya, umat memperoleh jalan keselamatan dan harapan akan kehidupan kekal.
Peristiwa ini mengajak umat untuk mensyukuri kasih Tuhan yang tanpa batas serta memperbarui komitmen untuk hidup dalam iman, kasih, dan pengampunan.
Setelah menyelesaikan lima Peristiwa Sedih, umat biasanya melanjutkan dengan doa penutup Rosario sesuai tradisi Gereja Katolik.
oa Rosario tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada Bunda Maria, tetapi juga sarana untuk semakin mengenal dan mencintai Yesus Kristus. Melalui permenungan Peristiwa Sedih setiap hari Selasa, umat diajak menyadari besarnya kasih Allah yang rela mengorbankan Putra-Nya demi keselamatan manusia.
Dengan merenungkan sengsara Kristus secara mendalam, umat diharapkan memperoleh kekuatan spiritual untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan serta semakin bertumbuh dalam iman dan pengharapan. (anp)











