Deklarasi KAMI PMKRI Yogyakarta dan Seruan Perbaikan Kondisi Bangsa

Suasana Deklarasi KAMI PMKRI Yogyakarta di Yogyakarta, Rabu 27 Mei 2026. (Foto : Kiriman Lukas S. Ispandriarno).

bernasnews – Keluarga Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (KAMI PMKRI) Cabang Yogyakarta St. Thomas Aquinas pada Rabu 27 Mei 2026 secara resmi mendeklarasikan pendiriannya. Sebuah realisasi dari cita-cita dan harapan Anggota Penyatu atau Alumni melalui sederet pertemuan, diskusi, dialog, perdebatan sejak Februari 2015 hingga Juni 2025.

Deklarasi ini menandai komitmen kuat para alumni untuk mendukung kesinambungan kaderisasi kepemimpinan bagi Gereja dan bangsa, selaras dengan nilai-nilai kekatolikan dan Pancasila. Nama KAMI PMKRI Yogyakarta atau KAMI PMKRI dipilih melalui diskusi cukup panjang untuk membulatkah tekad berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul, berintegritas, berwawasan gender, siap bekerja sama mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam momentum deklarasi yang akan dibacakan bersama, KAMI PMKRI Yogyakarta juga merilis Memorandum Kemasyarakatan bertajuk “Panggilan Kebangsaan untuk Mewujudkan Keadilan Sosial”. Memorandum ini menyoroti berbagai dinamika kebangsaan yang memerlukan kewaspadaan moral dan keterlibatan sosial yang lebih kuat dari seluruh elemen masyarakat.

SOROTAN UTAMA
Memorandum Kemasyarakatan ini menggarisbawahi beberapa tantangan krusial yang dihadapi Indonesia saat ini:

Satu : Kondisi Ekonomi: Meskipun pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen, angka ini dinilai belum mencerminkan situasi riil masyarakat. Tekanan global, pelemahan rupiah, suku bunga tinggi, dan pelemahan daya beli kelas menengah menjadi indikator perlunya perhatian lebih pada pemerataan ekonomi.

Dua : Tantangan Demokrasi: Laporan Indeks Demokrasi Indonesia 2025 menunjukkan penurunan pada aspek kebebasan, kesetaraan, dan kapasitas lembaga demokrasi, menandakan adanya kemunduran dalam praktik demokrasi substantif.

Tiga : Pemberantasan Korupsi: Indeks Persepsi Korupsi Indonesia tahun 2025 mengalami penurunan signifikan, menempatkan Indonesia pada peringkat 109 dari 180 negara, menunjukkan urgensi reformasi pemberantasan korupsi.

Empat : Isu Lingkungan: Angka deforestasi Indonesia yang mencapai hampir setengah juta hektar pada tahun 2025 menimbulkan kekhawatiran serius terhadap risiko bencana ekologis dan dampak buruk bagi masyarakat.

PANGGILAN DAN SERUAN
Menyikapi kondisi tersebut, KAMI PMKRI Yogyakarta menyerukan kepada seluruh alumni organisasi gerakan mahasiswa Cipayung, khususnya alumni PMKRI Yogyakarta, untuk:

Satu: Mendorong Demokrasi Substantif: Mendukung supremasi hukum, etika penyelenggaraan negara, serta pembangunan dan pemerataan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Dua : Mendesak Reformasi Penegakan Hukum: Merevitalisasi peran aparat penegak hukum dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi, terutama di sektor-sektor yang melibatkan alokasi keuangan negara yang besar.

Tiga : Menuntut Pengendalian Deforestasi: Mengendalikan laju deforestasi untuk mencegah bencana ekologis dan melindungi masyarakat, serta memastikan keseimbangan ekologis tetap terjaga di tengah visi kemandirian energi dan penguatan ekonomi nasional.

Empat : Meningkatkan Keteladanan dan Empati: Menyebarluaskan semangat pengorbanan dan empati, serta menjauhkan diri dari kepentingan diri sendiri, untuk membendung arus hedonisme di kalangan kader aktif dan alumni PMKRI.

KAMI PMKRI Yogyakarta menegaskan bahwa situasi kebangsaan saat ini adalah panggilan bagi setiap kader Katolik untuk terlibat aktif menjadi bagian dari solusi. Dengan semangat Pro Ecclesia et Patria, Demi Gereja dan Tanah Air, KAMI PMKRI Yogyakarta mengajak seluruh elemen bangsa untuk membangun gerakan gotong-royong demi keselamatan dan kemajuan Indonesia.

Dibacakan di Yogyakarta oleh Pengurus dan Anggota KAMI PMKRI Yogyakarta yang hadir :
Lukas S. Ispandriarno (Koordinator Nasional); Rosalia Prismarini Nurdiarti (Sekretaris Jenderal); Cecilia Pretty Grafini (Bidang Komunikasi dan Kerja Sama); Joty Atmadjaya (Koordinator Wilayah Jabodetabek); Frederico M. Dwisetyanto (Sekretaris Wilayah DIY. (*/mar)