bernasnews – Di sebuah ruangan kecil berukuran 3 x 3 meter di kawasan Jalan Keramat, Jakarta, tiga dekade lebih lalu, beberapa orang tunanetra dan sahabat mereka memulai sesuatu yang tampak mustahil: membangun akses pendidikan bagi tunanetra di Indonesia. Tidak ada gedung besar. Tidak ada teknologi canggih. Yang ada hanya tape recorder, kaset bekas, dan keyakinan bahwa tunanetra berhak membaca dan belajar secara mandiri.
Dari ruang kecil itulah Yayasan Mitra Netra lahir pada 14 Mei 1991. Tahun 2026, lembaga tersebut memasuki usia 35 tahun—usia yang bukan pendek untuk organisasi yang sejak awal memilih bekerja di wilayah yang sering diabaikan: akses literasi dan pendidikan bagi penyandang disabilitas netra.
Nama “Mitra Netra” berarti sahabat tunanetra. Namun dalam praktiknya, yayasan ini bukan sekadar menjadi “pendamping”. Ia tumbuh menjadi ruang belajar, laboratorium inovasi, sekaligus rumah sosial bagi ribuan tunanetra di Indonesia. Di tengah negara yang lama membiarkan tunanetra mencari akses pendidikan sendirian, Mitra Netra hadir sebagai jembatan.
Sejak awal, para pendiri Mitra Netra memahami bahwa persoalan terbesar tunanetra bukan hanya soal keterbatasan penglihatan, melainkan minimnya sistem pendukung. Buku sulit diakses. Guru tidak memahami Braille. Kampus tidak menyediakan layanan adaptif. Akibatnya, pendidikan menjadi medan yang melelahkan bagi tunanetra.
Karena itu, layanan pertama yang mereka bangun justru berkaitan dengan akses membaca. Buku-buku direkam menjadi audio secara manual. Relawan membacakan isi buku menggunakan tape recorder biasa. Kadang suara motor, hujan, bahkan penjual bakso ikut terekam di dalam kaset. Namun dari cara sederhana itu, lahir akses pengetahuan bagi tunanetra yang sebelumnya nyaris tak memiliki pilihan.
Mitra Netra lalu mengembangkan kursus mengetik sepuluh jari untuk tunanetra, yang menjadi cikal bakal kursus komputer bicara pada 1992. Dari sana, lembaga ini berkembang menjadi salah satu pusat pengembangan teknologi aksesibel bagi tunanetra di Indonesia.
Tiga puluh lima tahun kemudian, bentuk perjuangannya memang berubah. Kaset digantikan EPUB dan buku audio digital. Rak buku berubah menjadi server perpustakaan daring. Tetapi semangatnya tetap sama: membuat tunanetra dapat membaca dunia secara mandiri.
Hari ini, melalui Pustaka Mitra Netra Online, akses literasi tunanetra menjangkau lebih luas. Data perpustakaan digital mereka menunjukkan terdapat 3.549 koleksi buku, dengan 4.257 pengguna terdaftar. Total unduhan mencapai 47.161 kali, sementara jumlah pengunjung menembus 1,5 juta lebih. Koleksinya terdiri dari 2.586 EPUB teks dan 963 buku audio.
PENGALAMAN TUNANETRA
Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada ribuan pengalaman tunanetra yang akhirnya dapat membaca tanpa harus menunggu orang lain membacakan buku untuk mereka. Vivi Intan Pangestuti adalah salah satunya. Ia mengenal Mitra Netra sejak 2011 melalui teman sesama tunanetra yang sering meminjam CD audio book di perpustakaan Mitra Netra. Bertahun-tahun kemudian, ia memutuskan mengikuti kursus komputer luring di Jakarta.
“Aku pun tertarik untuk kursus di sana, tetapi ingin daftar yang luring. Aku ingin belajar di sana secara langsung sekaligus ingin belajar bepergian sendiri juga,” kata Vivi pada 17 Mei 2026.
Dari kelas komputer itu, Vivi bukan hanya belajar Microsoft Office. Ia juga belajar hidup lebih mandiri sebagai perempuan tunanetra yang sebelumnya mengaku pendiam dan sulit beradaptasi di lingkungan baru.
“Manfaat yang kudapatkan tentu saja pengetahuan tentang Office makin bertambah. Terlebih, aku baru belajar cara menggunakan Excel saat belajar Office di sana,” ujarnya.
Bagi Vivi, keberadaan perpustakaan digital Mitra Netra juga sangat penting karena membantu tunanetra mengakses buku dalam format yang lebih ramah. Ia bahkan kerap meminta bantuan pegawai perpustakaan untuk mengubah buku fisik menjadi EPUB dan audio book.
“Nanti hasil format digitalnya bisa diakses melalui situs web Perpustakaan Digital Mitra Netra,” katanya.
Namun pengalaman paling berkesan bagi Vivi justru bukan soal teknologi.
“Oh ya, selama di sana juga aku belajar nongkrong,” katanya sambil tertawa. “Aku yang sebenarnya anak rumahan, sangat pendiam, dan sulit akrab dengan lingkungan baru, teman-teman di sana ternyata berusaha untuk melibatkan aku di dalam perkumpulan.”
Pernyataan Vivi memperlihatkan bahwa Mitra Netra tidak hanya bekerja pada aspek pendidikan formal, tetapi juga membangun ruang sosial yang inklusif bagi tunanetra—sesuatu yang sering kali luput dibicarakan.
Pengalaman serupa dirasakan Fachrial Agamas, tunanetra yang menyebut Mitra Netra sebagai tempat penting untuk mempelajari keterampilan hidup.
“Sangat bermanfaat sekali karena bisa menjadi tempat untuk mempelajari skill-skill yang dibutuhkan oleh tunanetra untuk bisa bekerja atau berkuliah, apalagi untuk tunanetra baru seperti saya,” kata Fachrial, 21 Mei 2026.
Tak hanya itu, menurutnya, Mitra Netra juga menjadi ruang untuk membangun jejaring sosial antartunanetra. “dan bisa menjadi tempat untuk mengenal teman-teman tunanetra lainnya,” ujarnya.
Harapan Fachrial sederhana, tetapi menyimpan makna besar bagi keberlanjutan gerakan disabilitas di Indonesia. “Semoga tetap konsisten dan berkembang terus ke depannya,” katanya.
Selama 35 tahun, Mitra Netra memang tidak sekadar bertahan. Ia terus bergerak mengikuti perubahan zaman. Ketika akses Braille sulit diproduksi, mereka mengembangkan perangkat lunak Mitra Netra Braille Converter (MBC). Ketika internet mulai membuka peluang baru, mereka merintis perpustakaan Braille daring melalui KEBI—Komunitas E-Braille Indonesia.
Di tengah perkembangan teknologi digital hari ini, kehadiran perpustakaan online Mitra Netra menjadi semakin relevan. Sebab bagi tunanetra, akses terhadap buku bukan hanya soal membaca. Ia berkaitan dengan kesempatan belajar, peluang kerja, hingga hak untuk terlibat penuh dalam kehidupan sosial.
Tiga puluh lima tahun setelah berdiri, Mitra Netra tampaknya masih memegang mimpi yang sama seperti para pendirinya dulu: menciptakan tunanetra yang mandiri, cerdas, dan bermakna di tengah masyarakat yang inklusif.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising oleh teknologi, suara tape recorder tua yang dulu merekam buku-buku dengan gangguan suara hujan dan motor itu masih menyimpan pesan paling penting : bahwa akses pengetahuan seharusnya tidak pernah menjadi kemewahan bagi tunanetra. Melainkan hak dasar yang seharusnya memang dimiliki oleh para tunanaetra Indonesia tanpa terkecuali. (mar/Andi Dzulfajrin Syam, Aktifis Tunanetra dan Ketua Yayasan Gamara Inklusi Makassar)












