bernasnews – Mei 2026 menjadi periode penting dalam kalender liturgi Gereja Katolik karena diisi sejumlah perayaan besar yang menandai puncak Masa Paskah hingga masuknya Masa Biasa.
Salah satu perayaan utama yang diperingati umat Kristiani adalah Hari Raya Pentakosta yang jatuh pada Minggu, 24 Mei 2026, dengan warna liturgi merah sebagai simbol turunnya Roh Kudus kepada para rasul.
Selain Pentakosta, bulan Mei juga dikenal sebagai Bulan Maria serta menjadi masa perayaan Kenaikan Tuhan Yesus. Kalender liturgi pada bulan ini menjadi acuan penting bagi umat, lektor, petugas liturgi, hingga pelayan altar dalam menyiapkan bacaan harian dan misa mingguan.
Hari Raya Pentakosta 2026 Dirayakan pada 24 Mei
Hari Raya Pentakosta 2026 diperingati tepat 50 hari setelah Hari Raya Paskah atau Kebangkitan Yesus Kristus. Pada tahun 2026, Paskah jatuh pada Minggu, 5 April 2026, sehingga Pentakosta dirayakan pada Minggu, 24 Mei 2026.
Dalam kalender liturgi, Hari Raya Pentakosta menggunakan warna liturgi merah. Warna ini melambangkan api Roh Kudus yang dicurahkan kepada para rasul sebagaimana diceritakan dalam Kitab Kisah Para Rasul.
Bacaan Liturgi Hari Raya Pentakosta 2026
Berikut bacaan liturgi yang digunakan pada Hari Raya Pentakosta, Minggu 24 Mei 2026:
- Bacaan Pertama: Kisah Para Rasul 2:1-11
- Mazmur Tanggapan: Mazmur 104:1ab,24ac,29c-30,31,34
- Bacaan Kedua: 1 Korintus 12:3b-7,12-13
- Bacaan Injil: Yohanes 20:19-23
- Bacaan Offisi: Roma 8:5-27
Bacaan tersebut menjadi pedoman utama dalam perayaan Ekaristi Hari Raya Pentakosta di berbagai gereja Katolik.
Makna Warna Liturgi dalam Perayaan Pentakosta
Warna liturgi memiliki makna simbolis dalam setiap perayaan Gereja. Selama Masa Paskah, warna putih mendominasi sebagai lambang kemenangan dan sukacita atas kebangkitan Kristus.
Sementara itu, pada Hari Raya Pentakosta, Gereja menggunakan warna merah. Warna tersebut melambangkan api Roh Kudus yang turun atas para rasul dan memberi mereka keberanian untuk mewartakan Injil.
Setelah masa Pentakosta berakhir, Gereja kemudian memasuki Masa Biasa dengan penggunaan warna hijau sebagai lambang harapan dan pertumbuhan iman umat Kristiani.
Janji Yesus tentang Roh Kudus kepada Para Rasul
Melansir laman Katedral Jakarta, sebelum kenaikan-Nya ke surga, Yesus telah menjanjikan kehadiran Roh Kudus kepada para murid-Nya.
Janji tersebut tertulis dalam Kisah Para Rasul 1:8 yang berbunyi:
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”.
Peristiwa turunnya Roh Kudus itulah yang kemudian diperingati sebagai Hari Raya Pentakosta oleh umat Kristiani di seluruh dunia.
Pentakosta Dimaknai sebagai Kelahiran Gereja
Dilansir dari laman Paroki Kalvari Lubang Buaya, Hari Raya Pentakosta memiliki makna penting bagi kehidupan iman umat Kristiani.
Salah satu makna utama Pentakosta adalah pemberian Roh Kudus kepada para rasul. Dalam peristiwa tersebut, Roh Kudus hadir sebagai penolong yang memberi kekuatan, keberanian, penghiburan, dan tuntunan dalam kehidupan rohani.
Selain itu, Pentakosta juga dipahami sebagai awal lahirnya Gereja. Setelah menerima Roh Kudus, para rasul mulai mewartakan Injil, mengajar umat, dan membangun komunitas orang beriman yang kemudian berkembang menjadi Gereja.
Momentum ini menjadi tonggak penting dalam sejarah kekristenan karena menjadi awal penyebaran ajaran Kristus ke berbagai wilayah.
Kalender liturgi tidak hanya menjadi penanda jadwal perayaan Gereja, tetapi juga membantu umat mempersiapkan diri dalam mengikuti rangkaian ibadah sepanjang tahun liturgi.
Pada Mei 2026, umat Katolik menjalani peralihan dari Masa Paskah menuju Masa Biasa. Karena itu, perubahan warna liturgi dari putih, merah, hingga hijau menjadi simbol perjalanan iman yang terus berlanjut dalam kehidupan Gereja.
Bagi lektor, petugas liturgi, dan pelayan altar, kalender liturgi juga menjadi pedoman penting untuk menyiapkan bacaan, dekorasi altar, hingga perlengkapan misa sesuai masa liturgi yang sedang berlangsung. (anp)












